MAULANA ALI AHMAD

Archive for 2007|Yearly archive page

khasiat sari buah merah

In Tak Berkategori on Desember 25, 2007 at 6:34 pm

Ada Harapan dari Sari Buah Merah

SECERCAH harapan bagi penderita HIV/AIDS untuk sembuh muncul dari pulau paling timur Indonesia, Papua. Sari buah merah atau nama latinnya Phaleria Papuana (Red Froot Oil) yang diduga hanya tumbuh di pulau tersebut, tampaknya bisa diprediksi sebagai obat penangkal virus yang menyerang kekebalan tubuh.

Meskipun belum ada penelitian secara medis mengenai buah merah yang panjangnya semeter dan beratnya 15 kg, namun masyarakat Papua khusus Kab. Wamena yang dikonsumsi oleh penderita HIV/AIDS bisa merasakan perubahan yang signifikan sehingga kondisi kesehatannya semakin membaik, walau belum dinyatakan sembuh total.

Drs. I Made Budi MSi., mengatakan kepada beberapa media massa, seorang pengidap HIV/AIDS yang bernama Agustina (22) mengalami perubahan kesehatan . Berat badannya semula 27 kg, karena terserang virus yang belum ada obatnya itu, namun setelah mengonsumsi sari buah merah, naik menjadi 42 kg.

Awalnya, Agustina yang mengidap HIV/AIDS dibawa Yayasan Pengembangan Kesehatan Masayarakat (YKPM) Papua kepada I made Budi yang sedang meneliti buah itu. YKPM Papua yang mengetahui adanya sari buah merah yang dapat merekondisi kesehatan penderita HIV/AIDS meminta I Made Budi untuk meminum sari buah merah kepada Agustina.

Setelah beberapa lama Agustina meminum sari buah merah, ia merasa lebih baik. Gejala diare berat dan sariawan yang muncul jika mengidap HIV/AIDS hilang. Ia merasa segar dan bisa melakukan kegiatan sehari-hari, bak orang sehat.

Fendy R. Paimin yang menjual sari buah merah itu di Bogor menyebutkan, ia mendapat pasokan buah itu dari Jayapura. Kemudian Ia menjualnya dalam botol kaca kemasan seberat 120 ml seharga Rp 150.000,-. Kini ia kehabisan stok karena permintaan akan sari buah merah itu sangat banyak. “Begitu pasokan dari Papua datang, hari itu juga terjual habis. Kami kini sedang menunggu kedatangan sari buah merah ,” ujar Fendy yang merasa kewalahan karena banyaknya permintaan

**

SARI buah merah yang disebut kuansu oleh penduduk setempat menjadikannya sebagai obat HIV (Human Immunodeficiency Virus) dan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) secara tidak sengaja. Awalnya, lanjut Made, buah merah itu diambil oleh masyarakat Wamena sebagai bahan makanan.

Dosen Universitas Cendrawasih itu mengamati secara sakasama kebiasaan masyarakat tersebut yang mengonsumsi buah merah itu, ternyata masyarakat sekitar selain tidak mengidap HIV/AIDS juga jarang terkena penyakit hepatitis, kanker, jantung dan hipertensi. ” Saat itu saya menduga, jarangnya penyakit yang diderita masyarakat Wamena pasti berhubungan dengan buah itu,” ujar Made.

Setelah meneliti beberapa lama, ternyata buah merah itu banyak mengandung Antioksidan, Betakarotin, Omega 3 dan 9, serta banyak zat lain yang meningkatkan daya tahan tubuh. “Kemudian saya melakukan percobaan kepada 30 unggas karena virus yang berbahaya tersebut itu sedang menyerang unggas, ” ujar Made yang menyelesaikan S-2 bidang gizi masyarakat di Institut Pertanian Bogor (IPB).

Semula ahli gizi dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (Mipa) itu hanya ingin mengungkap kandungan gizi buah tersebut, namun akhirnya ia mencoba juga meneliti, apakah bisa untuk menangkal HIV/AIDS . Ternyata dari hasil analisis, kandungan kimiawi buah merah itu dapat yang mengilhami Made untuk menjadikan sebagai obat. Buah merah itu mengandung zat gizi bermanfaat dalam kadar tinggi. Di antaranya Betakatoren, Tokoferol, asam oleat, asam linoleat, asam linolenat, dan dekanoat. Semuanya merupakan senyawa obat aktif.

Betakaroten berfungsi memperlambat berlangsungnya penumpukan flek pada arteri. Jadi aliran darah ke jantung dan otak berlangsung tanpa sumbatan. Interaksinya dengan protein meningkatkan produksi antibodi. Ini meningkatkan jumlah sel pembunuh alami dan memperbanyak aktifitas sel T Helpers dan limposit. Suatu studi membuktikan konsumsi betakaroten 30 – 60mg/hari selama 2 bulan membuat tubuh memiliki sel-sel pembunuh alami terbanyak.

bertambahnya sel-sel pembunuh alami itu menekan kehadiran sel-sel kanker. Mereka ampuh menetralisir radikal bebas senyawa karsinogen, penyebab kanker.

Peran buah merah lainnya yaitu sebagai antikarsinogen yang makin lengkap dengan kehadiran tokoferol. Senyawa ini berperan dalam memperbaiki sistem kekebalan tubuh yang menjadi sasaran HIV/ AIDS.

Buah merah yang mengandung Omega 3 dan 9 dalam dosis tinggi itu sebagai asam lemak tak jenuh. ia gampang dicerna dan diserap sehingga memperlancar metabolisme. Lancarnya metabolisme sangat membantu proses penyembuhan. Sebab, tubuh mendapat asupan protein yang mampu meningkatkan daya tahan tubuh.

Asam lemak yang dikandung buah merah juga merupakan antibiotik dan antivirus. Mereka aktif melemahkan dan meluruhkan membran lipida virus serta mematikannya. Bahkan virus tidak diberi kesempatan untuk membangun struktur baru sehingga tak bisa melakukan regenerasi. Karena kemampuan itu, ia efektif menghambat dan membunuh beragam strain HIV/AIDS, termasuk virus hepatitis yang merusak sel hati. Ia juga terbukti menghambat dan membunuh sel-sel tumor aktif.

Pompom Emiria Frontala, salah seorang dokter dari “Rumah Cemara” (tempat rehabilitasi pengguna narkoba dan pengidap HIV/AIDS) mengemukakan, ia tidak mengetahui persis tentang sari buah merah dari Papua itu. Ia juga tidak tahu kandungan buah itu. “Saya mengetahuinya selintas dari televisi, buah itu dapat menyembuhkan HIV/AIDS ” ujar Pompom.

Meskipun demikian, jika sari buah merah itu memang tebukti dapat menyembuhkan pengidap HIV/AIDS di Papua, namun belum tentu bagi penderita HIV/AIDS di luar Pulau Papua. Alasannya Pompom adalah cara makan, pola hidup, serta lingkungan di Papua sangat berbeda jauh sekali dengan di daerah lain, di Pulau Jawa, misalnya.

Jika memang benar buah merah itu dapat menyembuhkan, lanjut Pompom, sari buah itu juga harus diuji coba kepada penderita kekebalan tubuh yang berada di luar Papua, baru bisa terbukti keampuhannya.

“Mudah-mudahan sari buah merah dapat membawa berkah bisa mengobati virus yang menyerang kekebalan tubuh itu,” sambungnya. (Bagoes Illen/”PR”/”Net”).***

TIPSI MEMPERCEPAT WINDOWS

In Tak Berkategori on Desember 14, 2007 at 9:07 pm

Tips Meningkatkan, Mempecepat Kinerja Windows (Komputer) Anda

Setelah menginstalasi Windows dan aplikasi-aplikasi lain yang dibutuhkan ke dalam komputer, ada beberapa hal yang seharusnya Anda lakukan. Di antaranya adalah melakukan beberapa hal untuk mempercepat serta mempermudah kinerja komputer. Misalnya, mengatur agar komputer bisa restart lebih cepat, atau memunculkan menu tersembunyi, menggunakan shortcut untuk akses lebih cepat dan lain sebagainya.

Semua hal di atas adalah sebagian kecil dari tip dan trik dasar Windows yang kami sampaikan berikut ini. Semua tip dan trik di sini kami padukan menjadi 150 langkah mudah dan aman untuk dilakukan. 150 tip dan trik, termasuk beberapa panduan langkah demi langkah yang mudah berikut ini, akan menjadikan komputer Anda lebih nyaman bekerja. Tentu saja, akhirnya, produktivitas Anda di depan komputer kian berkembang.

Sebuah komputer yang nyaman saja belum cukup tanpa dibarengi peningkatan sisi keamanan. Hal ini penting, sebab koneksi ke jaringan, Internet maupun ke komputer lain, sedikit banyak pasti berisiko. Mulai dari penyebaran virus hingga pengambilan data kita oleh orang yang tidak berhak. Untuk itu, kami sertakan pula beberapa tip dasar untuk memperbaiki keamanan pada Windows.

Beberapa tip dan trik maupun panduan langkah demi langkah dalam tulisan ini menggunakan bantuan program tertentu yang bisa di-download dari beberapa situs di Internet. Namun untuk memudahkan Anda, seperti biasa semua program yang disebutkan dalam tulisan berikut ini disertakan dalam CD PC Media. Tentu saja, semua program sudah diuji di labs PC Media.

Instalasi program yang ada dalam tulisan ini kebanyakan berasal dari situs resmi Microsoft. Sehingga kecil kemungkinannya program-program ini menyebabkan error di PC. Jadi jangan ragu, ikuti terus tip dan trik dasar pada Windows yang jarang terungkap!

Instalasi Windows yang Mudah dan Menyenangkan

01. Back-up dahulu registry sebelum diedit. Caranya, klik Start|Run, ketik regedit. Setelah muncul window registry, pilih menu File|Export. Pada bagian Export range, pilih All dan tentukan nama file, akhiri dengan klik tombol Save.

02. Banyak program yang sebenarnya terinstalasi dalam Windows, namun tidak aktif. Untuk mengaktifkannya, masuk ke Control Panel|Add/Remove Windows Component dan beri tanda centang pada program yang belum aktif.

03. Sebelum menginstalasi program baru atau melakukan perubahan setting Windows secara keseluruhan, lebih baik buat Restore Point secara manual dahulu. Caranya, Klik Start|All Programs|Accessories|System Tool|System Restore dan klik Create a restore point.

04. Jika Anda memutuskan untuk menginstalasi Windows Update yang sebelumnya sudah didecline, masuk ke Control Panel|System, pilih tab Automatic Updates dan klik Restore Declined Updates.

05. Untuk mengatur Windows update berjalan sesuai dengan kebutuhan Anda, atur dulu Windows Update. Caranya, buka System di Control Panel dan klik tab Automatic Updates. Atur enable atau disable option Keep my computer up to date.

06. Bila Anda tidak memiliki CD bootable, jangan khawatir. Microsoft sudah menyediakan
tool gratis untuk membuat disket booting di http://support.microsoft.com/?kbid=310994.

07. Jika saat instalasi Windows tiba-tiba terhenti, matikan komputer dan lepas card tambahan. Misalnya sound card. Instal ulang dan pasang kembali card setelah instalasi selesai.

08. Untuk menambahkan System Administration Tools ada Start Menu, klik kanan Start|Properties. Masuk dalam tab Start Menu dan klik Customize kemudian masuk dalam tab Advanced. Geser ke bawah dan beri tanda centang pada option Display on the All Programs and the Start Menu.

09. Untuk menginstal Back up Utility pada Windows XP Home Edition carilah file ntbackup.msi di direktori\valudeadd\msft\ntbackup\ di CD instalasi Windows XP. Jalankan file tersebut dan ikuti langkahlangkahnya.

10. Windows XP secara otomatis akan me-highlight setiap program baru yang ter-install. Cara menghilangkannya, klik kanan Start|Properties. Masuk ke tab Start Menu|Customize, kemudian klik tab Advanced dan hilangkan tanda centang pada opsi Highlight newly installed program.

11. Untuk tampilan film atau game terbaik pada komputer, pastikan bahwa DirextX terbaru sudah terinstalasi dengan baik. Lihat versi terbarunya di http://www.microsoft.com/windows/directx.

12. Ada kalanya hardware yang akan dipasang belum support Plug-and-Play. Untuk itu, gunakan Add Hardware Wizard yang ada di Control Panel|System|Hardware untuk mendeteksinya.

–> TOP TIPS ! Mempercepat Kerja Komputer

13. Sebenarnya hanya dibutuhkan waktu tidak lebih dari 2 menit saja untuk masuk ke Windows sejak komputer dihidupkan. Namun, kadang terasa sangat lama. Untuk mempercepat loading Windows, ada beberapa hal yang bisa dilakukan. Misalnya, mengurangi icon di desktop serta tidak menggunakan wallpaper yang memakan banyak memory. Ganti wallpaper dengan background berwarna, serta gunakan Desktop Cleanup Wizard yang ada bisa ditemui dengan klik kanan pada desktop untuk membersihkan
icon. Jangan lupa juga, jalankan defrag secara berkala.

Jika Anda sering menambah atau mengurangi program di komputer, bersihkan registry secara rutin. Gunakan software bantu seperti Registry Mechanic dari situs http://www.winguides.com. Sayangnya, versi trial program ini hanya bisa digunakan memperbaiki sebanyak 6 sections saja.

Langkah lain yang perlu dilakukan adalah me-remove program yang di-load secara otomatis saat memulai Windows. Tentu saja, hanya program-program yang tidak dibutuhkan. Caranya, dengan menghapus semua isi folder startup dan membuka msconfig melalui Start|Run.

14. Gunakan fitur File and Transfer Setting Wizard untuk memindahkan file dan setting ke komputer baru. Caranya, klik Start|AllPrograms|Accessories|System Tools, kemudian jalankan File and Transfer Setting Wizard.

15. Gunakan pengecualian pada security setting di Internet Explorer, agar proses update melalui halaman Windows Update berjalan lancar. Caranya, buka Internet Option di menu Tools pada Internet Explorer. Klik tab Security, pilih Trusted Site dan klik tombol Sites. Isikan nama situs Windows Update, hilangkan tanda centang pada option Require server verification… dan klik OK.

16. Jika Anda kehilangan serial number Windows XP, gunakan freeware Magical Jelly Bean Keyfinder dari http://www.magicaljellybean.com/keyfinder.shtml.

17. Jika nama yang teregister dalam Windows XP Anda tidak sesuai, perbaiki melalui registry. Caranya, buka registry dan pilih MY Computer. Klik menu Edit|Find dan ketik RegOwner. Jika sudah ditemukan, klik kanan, pilih Modify dan isikan nama yang sesuai. Perubahan ini bisa juga dilakukan di key RegCompany.

Peningkatan Performa Internet dan Jaringan

18. Untuk men-share sebuah folder di komputer Anda ke jaringan, klik kanan folder tersebut dan pilih Properties. Klik tab Sharing dan enable option Share this folder on the network. Beri nama dan klik OK.

19. Buat sebuah icon My Network Places di desktop dengan mengklik kanan area kosong di dekstop dan klik Properties. Pilih tab Desktop|Customize Desktop. Kemudian buka tab General dan enable option My Network Places.

20. Ada cara mudah mengirim pesan ke komputer lain di jaringan, yakni menggunakan Console Message. Buka Control Panel|AdministrativeTools|Computer Management|Action|All Task|Send Console Message. Ketik teks yang hendak dikirim, tambahkan nama komputer yang hendak dituju dan klik Send.

21. Untuk mengatur Internet Connection Firewall (ICF), buka Network Connection di Control Panel, klik kanan koneksi yang ada dan klik Properties. Buka tab Advanced dan enable option Protect my computer and network by limitting or preventing access to this computer from Internet.

22. Atur Internet Connection Firewall (ICF) untuk setiap koneksi yang ada. Baik dial-up maupun broadband. Jika komputer Anda merupakan bagian dari jaringan yang terhubung ke Internet, pasang ICF hanya di komputer server.

23. Untuk mengetahui alamat IP Anda, masuk dalam DOS dengan mengetikkan command di Run. Kemudian ketikkan ipconfig /all.

24. Jika Anda menerima pesan dari Internet melalui Messenger, segera matikan. Caranya, masuk ke Contol Panel|Administrative Tools|Services, dan klik ganda Messenger kemudian Stop. Untuk mencegah supaya tidak terulang, atur supaya Messenger menjadi Disabled di bagian Startup.

25. Matikan Windows Messenger dengan melalui regedit. Buka HKEY_LOCAL_MACHINE\Software\Policies\Microsoft, kemudian pilih menu Edit|New|Key, dan beri nama Messenger. Kemudian buat key lagi dengan cara ini di dalam direktori Messenger dengan nama key-nya Client. Setelah itu, klik menu Edit|New|DWORD Value, dan beri nama Prevent-Run. Klik kanan value PreventRun, pilih Modify, isi angka 1 pada Value data, dan klik OK.

26. Untuk mengetahui informasi mengenai koneksi di komputer Anda, klik Start|All Programs|Accessories|System Tools|System Information. Pilih menu Tools|Net Diagnostics. Pada window yang terbuka kemudian pilih option Scan your system. Tunggu hingga proses selesai untuk melihat hasilnya.

27. Lindungi privasi dengan mencegah aplikasi Windows Media Player mengirim data mengenai komputer dan kebiasaan Anda menggunakan komputer melalui Internet ke alamat-alamat tertentu. Caranya mudah, Pada Windows Media Player, pilih menu Tools|Option. Buka tab Player dan disable option Aloww internet sites to uniquely your player.

28. Untuk mengunci komputer yang berada dalam sebuah network domain, tekan tombol Ctrl + Alt + Del bersamaan dan klik option Lock Computer. Untuk membuka kembali, tekan tombol Ctrl + Alt + Deldan masukkan password. Konfigurasi Windows yang Mudah dan Cepat.

29. Untuk men-disable fitur autorun, klik kanan pada icon drive CD, pilih Properties dan masuk dalam tab AutoPlay. Kemudian disable autoplay untuk setiap jenis file yang tertera pada daftar.

30. Gunakan program Microsoft Clear Type Tuning Control dari http://www.microsoft.com/typography/cleartype/ untuk mengatur Clear Type pada komputer.

31. Untuk melihat system file yang secara default di-hidden oleh Windows XP, pilih tab View dalam menu Tool|Folder Option dalam Windows Explorer. Enable Display the content of system folder.

32. Untuk meletakkan icon volume control di taskbar, masuk dalam Control Panel|Sound and Audio dan klik tab Volume. Enable Place volume control in the Taskbar dan klik OK.

33. Atur tombol Power di keyboard melalui Control Panel|Power Option di tab Advanced. Tentukan pengaturan tombol Power ini dengan memilih option yang tersedia.

34. Atur supaya Windows membersihkan Pagefile saat shut down demi keamanan. Caranya, buka registry dan masuk dalam direktori HKEY_LOCALMACHINE\SYSTEM\CurrentControlSet\Control|Session Manager. Edit value pada key Clear-PageFileAtShutdown menjadi 1. Konsekuensinya, proses shut down akan berlangsung sedikit lebih lama.

35. Atur supaya Windows menampilkan ekstensi setiap file. Caranya, di Windows Explorer, pilih menu Tool|Folder Option dan tab View. Hilangkan tanda centang di option Hide file extentions for known file types.

36. Menghapus Komponen yang Terinstal
Banyak komponen Windows yang tidak muncul di Add/Remove Windows Component sehingga tidak bisa di-uninstall.

a. Buka Notepad dan pilih menu File|Open. Arahkan ke folder Windows\inf. Isi nama file sysoc.inf. Klik Open untuk membuka file ini.
b. Pilih menu Edit|Replace. Ketik Hide pada kolom Find, namun kosongkan kolom Replace With, klik Replace All. Tujuannya untuk menghapus semua kata Hide dalam file ini. Setelah selesai, tutup dan simpan file.
c. Buka Control Panel dan pilih Add/Remove Programs. Kemudian pilih Add/Remove Windows Component, pada windows yang keluar kemudian akan tampak beberapa komponen yang sebelumnya tersembunyi.

37. Ubah gambar pada welcome screen dengan cara masuk ke User Account di Control Panel. Buka account Anda dan klik Change my picture. Tentukan gambar pilihan Anda dengan mengklik Browse untuk gambar di harddisk atau memilih di antara gambar yang sudah tersedia.

38. Jika lebih menyukai tampilan Start Menu versi lama, Anda bisa mengubahnya dengan mengklik kanan tombol Start, pilih Properties. Pilih Classic Start Menu dan klik Customize untuk mengatur isinya.

39. Untuk menyempurnakan tampilan klasik pada Start Menu, klik kanan desktop dan pilih Properties. Buka tab Themes, dan pilih Windows Classic dari Theme list.

40. Tambahkan image pada sebuah folder, sehingga image tersebut yang akan tampak saat Windows Explorer dalam tampilan thumbnails. Caranya, klik kanan folder yang hendak diolah, pilih Properties. Klik tab Customize dan klik Choose Picture. Pilih sebuah gambar dan klik Open|OK.

41. Sesuaikan kapasitas Recycle Bin dengan mengklik kanan icon Recycle Bin dan memilih
Properties. Isi kapasitas yang Anda inginkan dan klik OK.

42. Pada saat View di-set Details di Windows Explorer, klik kanan header salah satu kolom untukmengatur kolom apa saja yang ditampilkan. Klik More bila perlu mengatur setting lainnya.

43. Untuk menambahkan program yang paling sering Anda gunakan dalam Quick Launch, drag icon program tersebut dalam Quick Launch.

44. Tambahkan address bar pada taskbar, sehingga mempercepat akses ke sebuah alamat di Internet. Caranya, klik kanan taskbar, pilih Toolbar|Address. Klik ganda untuk membuka dan menutupnya.

45. Jadikan tampilan Windows Explorer seperti tampilan pada window My Computer. Caranya, klik kanan icon Window Explorer dan pilih Properties. Pada Target area, setelah %SystemRoot%\explorer.exe tambahkan /n, /e, /select, C:\ dan klik OK.

46. Untuk menambahkan sebuah shortcut program di baris paling atas Start Menu, klik kanan icon-nya di Start Menu kemudian klik Pin to Start Menu.

47. Supaya sebuah drive atau folder dapat masuk dalam menu Send To, drag shortcut-nya ke folder \Documen Anda Setting\\SendTo.

48. Mencari folder SendTo? Klik saja Start|Run dan ketik SendTo kemudian klik OK.

49. Untuk mengosongkan daftar dokumen dalam folder My Recent Document di Start Menu, klik kanan Start, pilih Properties. Klik Customize dan buka tab Advanced kemudian klik tombol Clear list. Supaya tidak ada lagi yang muncul di My Recent Documents, disable option List my most recently opened documents.

50. Fast User Switching
Dengan Fast User Switching, seorang user tidak perlu logoff sementara user lain login.

a. Untuk meng-enable Fast User Switching, masuk dalam Control Panel dan pilih User Accounts. Klik option Change the way user log on or off, dan enable Use Fast User Switching.
b. Supaya koneksi dial-up tetap berjalan meski Fast User Switching di-enable, masuk ke registry di direktori HKEY_LOCAL_MACHINE\SOFTWARE\Microsoft\WindowsNT\CurrentVersion\Winlogon.
c. Klik kanan pada panel sebelah kanan dan pilih New |String Value. Beri nama KeepRasConnections dan beri nilai 1. Restart komputer.

51. Untuk melihat isi sesungguhnya folder My Recent Documents, klik Start|Run, kemudian ketikkan %UserProfile%\Recent.

Pengaturan Multiple User

52. Untuk berpindah antar user account, tekan tombol Ctrl+Alt+Del, kemudian pada window Task Manager yang terbuka, pilih tab Users. Klik kanan nama user yang hendak dipakai dan klik tombol Connect.

53. Tambahkan account Guest supaya orang lain bisa menggunakan komputer Anda. Caranya, buka User Accounts di Control Panel, klik Guest|Turn On the Guest Account.

54. Ingatlah untuk selalu login sebagai System Administrator sebelum melakukan perubahan yang berimbas pada performa komputer.

55. Untuk meng-copy user profile, masuk dalam Control Panel|System. Masuk dalam tab Advance dan klik tombol Setting di User Profiles. Sorot profile yang hendak dicopy, kemudian klik Copy to dan tentukan lokasi penyimpanan profile. Untuk mengubah permission, klik tombol Change.

56. Ganti Welcome screen dengan login dialog untuk menambah tingkat keamanan. Caranya, masuk dalam User Accounts di Control Panel, pilih option Change the way user log on or off serta disable Welcome screen.

57. Gunakan folder Shared Documents untuk menyimpan filefile yang bisa dibuka orang lain dalam jaringan. Folder ini bisa ditemui di My Documents\Other Places area.

58. Pada Windows XP Pro Edition, password bisa kadaluarsa jika lama tidak digunakan login. Untuk menghindarinya, atur supaya Windows tidak melakukan hal tersebut. Caranya, klik Start|Run, ketikkan userpasswords2 dan Enter. Buka tab Advanced dan pilih Advanced user management, klik tombol Advanced dan pilih Local Users and Groups. Klik kanan nama user dan pilih Properties. Buka tab General dan enable option Password never expires.

59. Beri nama setiap partisi atau drive yang ada dengan nama yang berbeda. Hal ini penting untuk mempermudah pencarian file.

60. Buat sebuah password reset disk sebagai disket darurat saat kehilangan password. Caranya, masuk ke Control Panel dan buka User Account. Pilih account Anda dan pilih Prevent a forgotten password untuk memulai wizard.

Pengaturan File dan Folder

61. Buat sebuah compressed folder dengan cara mengklik kanan area kosong pada desktop, dan pilih New|Compressed (zipped) Folder. Beri nama dan drag and drop file yang hendak dikompres dalam folder tersebut.

62. Sebuah compressed folder bisa dilindungi dengan password. Caranya, buka menu File|Add a Password. Isikan password Anda dan isi sekali lagi untuk konfirmasi.

63. Sebuah compressed folder tetap bisa ditambah isinya dengan cara drag and drop file yang hendak dikompres ke dalamnya.

64. Saat menjalankan Disk Cleanup, pilih option Compress old files untuk mengompresi file-file yang sudah tidak dibutuhkan, sehingga kapasitas harddisk bisa dihemat.

65. Enkrip atau acak file bisa dilakukan di Windows XP Pro Edition dengan mengklik kanan My Computer, pilih Properties. Buka tab General dan klik Advanced. Aktifkan option Encrypt contents to secure data.

66. Cara termudah mengubah nama file atau folder adalah dengan memilihnya, kemudian menekan tombol F2.

67. Supaya Anda bisa berpindah antar folder dengan cepat, terutama pada folder-folder yang sering dibuka, buatlah shortcut untuk setiap folder yang sering diakses.

68. Reset file association dengan cara menhakan tombol Shift saat mengklik kanan sebuah file. Pilih Open With… Pilih program yang hendak Anda gunakan untuk membuka file tersebut dan enable option Open use the selected program to open this kind of file. Kemudian klik OK.

69. Sesuaikan kapasitas penyimpanan file musik dengan cara membuka Windows Media Player dan memilih menu Tools|Options. Buka tab Copy Music dan sesuaikan ukuran kapasitas dengan menggeser slider.

70. Jika Anda menyimpan semua dokumen dalam folder My Documents, maka semua file tersebut lebih mudah di-back-up serta tidak terpengaruh system restore.

71. Jika sebuah file hasil copy dari CD tidak dapat diakses, maka hilangkan atribut Read only. Caranya, klik kanan file tersebut dan pilih Properties. Hilangkan tanda centang pada option Read only.

72. Aturlah tampilan setiap folder dengan mengklik kanan folder tersebut pada My Computer. Pilih Properties dan klik Customize. Pilih template yang tersedia atau pilih gambar sesuai dengan keinginan Anda. Klik OK untuk menyimpan hasil setting.

73. Anda bisa me-rename beberapa file sekaligus yang memiliki karakter sama dalam folder yang sama juga. Misalnya kumpulan foto atau image. Caranya, pilih semua file yang hendak di-rename, klik kanan file pertama dan klik Rename. Beri nama,misalnya Koleksi.JPG, maka semua file yang lain akan berubah namanya menjadi Koleksi (1).JPG, Koleksi (2).JPG, dan seterusnya.

74. Mengirim Faks
Tahukah Anda, bahwa Windows XP memiliki tool untuk mengirim dan menerima faks?

a. Buka Control Panel, pilih Add/Remove Program dan klik Add/Remove Windows Component. Enable Fax Services dan klik Next.
b. Klik Start|All Programs|Accessories|Communication|Fax|Fax Console untuk menjalankan Fax Configuration Wizard. Atur semua setting, termasuk nomor faks dan modem yang digunakan serta pengaturan incoming fax.
c. Buat semua faks dari Fax Console. Periksa semua isi sebelum dikirim, termasuk setting dan sebagainya.

Mengatur Kualitas Cetak

75. Anda bisa mencetak beberapa foto bersamaan, sekaligus mengatur layout serta option lainnya dengan cara mudah. Pertama, buka file-file foto dalam folder My Pictures, kemudian pilih menu File |Print. Akan muncul Photo Printing Wizard. Atur printer yang hendak digunakan dan layout yang akan dipakai. Beberapa printer memungkinkan mencetak beberapa foto dalam satu kertas.

76. Daripada harus mengatur setting printer setiap kali menggunakannya, buatlah copy printer Anda. Atur masing-masing dengan option berbeda sesuai yang Anda butuhkan.

77. Anda bisa menggunakan karakter yang tidak ada di keyboard, namun bisa digunakan dalam Windows dengan fitur Character Map. Untuk membukanya, Anda bisa menemukan di Start|All Programs|Accessories|System Toolss|Character Map. Atau ketik “charmap” tanpa tanda petik di Start|Run.

78. Untuk meng-capture sebuah adegan di file movie menjadi sebuah image, putarlah film tersebut dan tekan tombol Stop saat adegan yang diinginkan. Klik Take Picture, simpan di folder Anda dan beri nama.

Memunculkan Penampakan Fitur Tersembunyi

79. Anda tertarik dengan musik pembuka Windows yang orisinal? Temukan file-nya di \windows\oobe\system32\images\tittle.wma.

80. Ada dua edisi Windows Plus! yang beredar, yakni Microsoft Plus! for Windows dan Digital Media Edition (DME). Simak http://www.microsoft.com/windows/plus/PlusHome.asp dan coba versi trial DME.

81. Ketikkan “iexpress” tanpa tanda petik pada kotak dialog Start|Run. Anda akan menemukan sebuah utility untuk mengompres dan membuat file self extraction.

82. Anda akan menemukan beberapa tool yang kurang populer, namun punya kelebihan luar biasa. Tool-tool tersebut bisa ditemui di folder support\tools dalam CD instalasi Windows XP. Gunakan program suptools.msi untuk menginstalasi tool-tool tersebut dalam komputer Anda.

83. Ada banyak wizard atau stepby-step di Windows. Untuk mengetahui wizard apa saja, buka Help and Support dan ketikkan “Wizard” tanpa tanda petik pada kolom pencarian. Windows akan memunculkan daftar wizard yang tersedia. Anda tinggal memilihnya.

84. Untuk membuat karakter sendiri, klik Start|Run dan ketikkan Eudcedit. Buat sesuai keinginan Anda, asalakan masih dalam ukuran 64×64 grid. Simpan dengan memilih menu Edit|Save Character.

85. Untuk meletakkan karakter dalam Character Map ke dalam dokumen, Anda cukup membuka Character Map dan memilih karakter tersebut. Kemudian Anda tinggal mengcopy dan paste-nya ke dalam dokumen Anda.

Menghias Desktop

86. Anda bisa mengatur pointer mouse sesuai keinginan dengan membuka tab Pointer dalam menu Mouse di Control Panel. Klik Browse untuk mencari pointer yang sesuai keinginan Anda.

87. Untuk menampilkan daftar dokumen yang terakhir diakses di Start Menu pada Windows XP Home Edition, klik kanan pada tombol Start dan pilih Properties. Klik Customize, buka tab Advanced dan enable option List my most recently opened documents.

88. Jika Anda ingin agar tampilan Windows Explorer terbuka penuh hingga menutupi taskbar, tekan tombol F11.

89. Anda bisa membuat shortcut key atau penekanan tombol tertentu untuk mengakses sebuah program. Caranya, klik kanan icon program tersebut dan pilih Properties. Buka tab Shortcut dan tentukan tombol mana yang Anda gunakan untuk mengakses program tersebut. Secara otomatis Windows akan menambahkan tombol Ctrl+Alt+ pilihan Anda sebagai shortcut key.

90. Urutkan secara alfabet, semua program yang ada di Start Menu untuk memudahkan pengaksesan. Caranya, klik Start|All Programs, klik kanan salah satu program yang ada dan pilih Sort by Name.

91. Munculkan penampakan icon indikator koneksi broadband atau dial-up pada system tray untuk mempermudah kontrol. Caranya, buka My Network Places, pilih View Networks Connections, klik kanan koneksi yang Anda gunakan dan pilih Properties. Ubah option Show icon in notofication area when connected menjadi enable.

92. Anda bisa mengedit Start Menu sesuai dengan kebutuhan. Baik menambah, mengurangi, atau bahkan mengubah namanya. Caranya, klik kanan Start dan pilih Open atau Open All Users. Atur setiap shortcut yang tersedia sesuai kebutuhan.

93. Anda bisa membuka beberapa program secara bersamaan dengan menekan tombol Shift, sementara mengklik program yang ada dalam Start Menu.

94. Untuk menghilangkan nama icon pada desktop, klik kanan icon tersebut, dan pilih Rename. Tekan tombol Alt dan numeric key 255. Kemudan tekan Enter.

95. Anda bisa menghilangkan tanda panah pada icon shortcut di desktop. Caranya, masuk ke registry editor dengan mengetik “regedit” tanpa tanda petik di kotak dialog Start|Run. Masuk ke dalam direktori HKEY_CLASSES_ROOT\Lnkfile. Hapus value IsShortcut. 85

–> TOP TIPS !

96. Daftar Shortcut
Berikut ini beberapa shortcut yang paling banyak digunakan saat bekerja sehari-hari menggunakan Windows.

[Windows] + [L] Lock komputer
[Windows] + [U] Menampilkan Utility Manager
[Windows] + [R] Menampilkan Run
[Windows] + [F] Menampilkan window pencarian
[Windows] + [E] Membuka My Computer
[Windows] + [D] Mematikan atau mengaktifkan Toggle

Desktop
[Windows] + [M] Minimize semua window
[Windows] + [Shift] + [M] Restore semua window yang di-minimize
[Windows] + [Ctrl] + [F] Mencari komputer dalam jaringan
[Windows] + [F1] Menampilkan halaman Help
[Windows] + [Break] Memunculkan window System

Properties
[Windows] + [Tab] Scroll tombol di Taskbar
Jika Anda menggunakan keyboard lama yang tidak dilengkapi dengan tombol Windows, gunakan paduan tombol Ctrl + Esc.

97. Anda bisa meng-enable atau disable grouping beberapa file dalam satu program. Caranya, klik kanan taskbar dan pilih Properties. Beri atau hilangkan tanda centang pada option Groups similar taskbar button.

98. Anda bisa menghilangkan atau menampilkan icon di desktop dengan mengklik kanan desktop dan memilih Arrange Icons By|Show Desktop Icons.

99. Anda bisa membuat custom toolbar dengan mengklik kanan taskbar, memilih Toolbars|New Toolbar. Atur sesuai dengan keinginan Anda, misalnya menjadikan My Documents sebagai toolbar di taskbar supaya mudah dan cepat diakses.

100. Klik kanan Start Menu, pilih Properties, jika tidak menggunakan Classic Start Menu, klik Customize dan buka tab Advanced. Ada beberapa munu yang bisa diaktifkan dengan memberi tanda centang pada option yang ada. Mulai dari Scroll Programs hingga memunculkan penampakan beberapa fitur dalam Start Menu.

101. Anda bisa membuka sebuah situs tanpa membuka browser terlebih dahulu. Caranya, ketikkan alamat lengkap situs yang hendak dibuka di kotak dialog Start|Run. Misalnya http://www.pcmedia.co.id. Kemudian tekan Enter.

102. Di setiap menu dalam Windows terdapat huruf yang bergaris bawah sebagai patokan penggunaan navigasi keyboard. Misalnya menu File bisa dibuka dengan menekan tombol Alt+F. Anda bisa menonaktifkan atau mengaktifkan fitur yang ditandai dengan garis bawah ini. Caranya, klik kanan area kosong di desktop. Kemudian buka tab Appereance, dan klik tombol effects. Atur tanda centang pada option Hide underlined letter for keyboard navigation until I press the [Alt] key.

103. Atur supaya komputer mengeluarkan suara peringatan saat tombol Caps Lock, Num Lock atau Scroll Lock diaktifkan. Caranya, Buka Control Panel, masuk dalam Accessibility Option. Buka tab Keyboard dan enable option Use Toggle-Keys.

104. Untuk meng-enable Hibernate dalam Windows XP saat menekan Turn Off di Start Menu, tahan tombol Shift. Maka tombol Stand by pada kotak dialog Shut Down akan berubah menjadi Hibernate.

105. Jika hardware Anda support Hibernate, aktifkan segera fitur ini. Caranya, buka Control Panel dan buka Power Options. Klik tab Hibernate dan beri tanda centang pada option Enable Hibernate. Jika hardware Anda tidak support Hibernate, tab ini tidak bisa ditemui.

Memperbaiki Kinerja Komputer

106. Tambah kecepatan komputer Anda dengan menghilangkan penampakan yang bagus namun memakan banyak waktu, yakni animasi. Caranya, buka Control Panel, dan klik ganda System. Klik tab Advanced dan tekan tombol Performance Settings. Kemudian enable option Adjust for the best performance.

107. Untuk mengurangi waktu booting yang terasa lama, atur di BIOS agar booting dimulai dari harddisk baru kemudian CD atau floppy drive pada pilihan berikutnya.

108. Atur supaya Windows hanya akan me-load program yang dibutuhkan saja saat mulai berjalan supaya waktu loading lebih cepat dan kerja komputer lebih ringan. Ketikkan “msconfig” tanpa tanda petik di kotak dialog Run dan tekan Enter. Pada tab General, pilih option Selective Startup, kemudian buka tab Startup dan nonaktifkan semua program yang tidak perlu.

109. Anda bisa memonitor penggunaan processor dengan menekan tombol Ctrl+Alt+Del untuk membuka Task Manager. Kemudian minimize window tersebut, Anda akan melihat grafik penggunaan kapasitas processor di system tray.

110. Untuk meningkatkan kecepatan menyimpan data di USB ZIP drive, buka My Computer dan klik kanan drive ZIP tersebut. Pilih Properties, buka tab Hardware klik Properties, kemudian buka tab Policies dan aktifkan option Optimize for Performance.

111. Untuk mempercepat tampilan Start Menu, buka Registry Editor (ketikkan “regedit” tanpa tanda petik di kotak dialog Run). Masuk dalam direktori HKEY_CURRENT_USER\Control Panel\Desktop. Klik ganda value yang bernama MenuShowDelay, ganti angka yang ada menjadi 100. Dengan cara ini, maka delay tampilan Start Menu semakin singkat.

112. Ada cara cepat mematikan komputer. Tekan tombol Ctrl+Alt+Del, pada windows Task Manager yang muncul, tekan menu Shut Down dan tahan tombol Ctrl saat mengklik Turn Off. Pastikan dulu semua dokumen telah di-save.

113. Anda bisa melihat grafis yang menampilkan performance komputer berdasarkan beberapa indikator. Misalnya penggunaan processor, memory, dan lain sebagainya. Caranya, buka Control Panel dan klik ganda Administrative Tools. Buka fitur Performance.

114. Anda juga bisa menambahkan beberapa indikator lain dalam fitur Performance (di nomer 13) dengan mengklik icon + dan memilih indikator baru apa saja yang hendak ditampilkan.

115. Anda bisa menggabungkan sebuah file registry atau .reg ke dalam registry Windows Anda, dengan mengklik ganda file tersebut. Untuk mengetahui fungsinya, buka dengan notepad.

116. Jika Anda menggunakan RAM sebesar 512 MB, atur agar Windows tidak membuat paging ke disk agar performance komputer semakin meningkat. Caranya, buka Registry Editor dan masuk dalam direktory HKEY_LOCAL_MACHINE\SYSTEM|Current ControlSet\Control\SessionManager\MemoryManagement.
Ubah value DisablePagingExecutive menjadi 1.

117. Gunakan Bootcfg.exe untuk mengedit boot.ini Windows XP. Caranya, ketikkan “cmd” tanpa tanda petik dalam kotak dialog Run untuk masuk dalam DOS Prompt, dan ketikkan bootcfg: /? setelah muncul prompt untuk memperoleh informasi mengenai fitur dalam program ini.

118. Untuk memilih operating system dalam yang digunakan dalam sebuah komputer yang memiliki partisi drive, buka Control Panel, masuk dalam System kemudian buka tab Advanced. Klik tombol Startup and Recovery Setting kemudian Edit.

119. Gunakan utility klasik chkdsk untuk men-scan harddisk dan memperbaiki error yang ditemui. Caranya, klik Start |Run dan ketikkan “chkdsk c:/f” tanpa tanda petik untuk men-scan dan memperbaiki drive C. Jika Anda ingin tahu lebih banyak tentang fitur dalam chkdsk, ketikkan “chkdsk /?”.

120. Anda bisa melewati Scanner and Camera Wizard saat memasang kamera digital. Untuk mengaksesnya, gunakan Windows Explorer atau My Computer. Kamera digital Anda akan tampil sebagai drive.

121. Ada utility dalam Windows XP Pro Edition yang jarang digunakan, yakni gpedit. Jalankan utility ini dengan mengetikkan “gpedit.msc” tanpa tanda petik di kotak dialog Run dan tekan Enter. Utility ini bisa digunakan untuk setiap tool dan komponen yang ada di Windows. Coba satu per satu setting yang Anda inginkan kemudian perhatikan hasilnya.

122 Mengatur Jadwal Perawatan
Daripada bersusah payah membersihkan sampah di Windows, atur agar Windows membersihkan dirinya sendiri secara berkala dengan Schedule Task.

a. Untuk mengatur jadwal perawatan Windows secara berkala, buka Control Panel, klik ganda Scheduled Tasks. Tambahkan Scheduled Task melalui wizard. Klik Next untuk masuk dalam list berisi program yang bisa dijadwalkan.
b. Jika tool yang hendak Anda jadwalkan tidak tertera pada list, klik Browse dan arahkan ke folder tempat tool yang Anda maksud berada. Kebanyakan tool Windows berada dalam folder Windows\system32. Pilih salah satu dan klik Open.
c. Ketik nama task tersebut dan tentukan tingkat keseringan atau frekuensi jadwal program tersebut. Klik Next, atur setting lain yang diperlukan dan tambahkan username beserta password untuk mengamankan Schedule Task.

123. Gunakan utility gratis PowerToys dari http://www.microsoft.com/windowsxp/home/downloads/powertoys.asp yang sangat berguna. PowerToys sendiri terdiri dari beberapa program, di antaranya Open Command Window Here, Alt-Tab Replacement, Tweak UI, Power Calculator, Image Resizer, CD Slide Show Generator, Virtual Desktop Manager,Taskbar Magnifier, HTML Slide Show Wizard, dan Webcam Timershot.

124. Windows Anda bisa memperoleh tambahan kecepatan jika Indexing Service dinonaktifkan. Caranya mudah, buka Administrative Tools di Control Panel, pilih Services dan disable Indexing Service.

125. Kembangkan kapasitas harddisk dengan menggunakan Disk Cleanup. Buka My Computer, klik kanan drive yang ada dan pilih Properties. Buka tab General dan klik tombol Disk Cleanup. Bersihkan semua file sampah tersebut, termasuk mengosongkan isi Recycle Bin dari semua data yang sudah tidak digunakan lagi.

126. Hilangkan semua shortcut di folder Startup dalam Start Menu. Sebab, program yang memiliki shortcut dalam folder ini secara otomatis akan dieksekusi saat kali pertama Windows dijalankan.

127. Periksa setting messenger yang ada dalam komputer Anda, karena hampir setiap messenger akan me-load dirinya sendiri secara otomatis setiap kali Windows dijalankan. Usahakan agar option Automatically Login atau Load at Windows Start tidak aktif.

128. Anda bisa mengakses setiap program secara langsung dengan mengetikkan nama programnya di kotak dialog Run. Misalnya calc untuk kalkulator, winword untuk Microsoft Word, dan lain sebagainya.

Troubleshooting Sederhana

129. Jika saat defrag tiba-tiba komputer berhenti, restart dan masuk dalam Safe Mode dengan menekan tombol F8 sesaat sebelum Windows mulai berjalan. Defrag lagi harddisk Anda dari mode ini.

130. Cari tahu apakah drive Anda FAT atau NTFS dengan mengklik kanan drive tersebut dan memilih Properties kemudian masuk ke tab General. Baca detail file system pada kotak dialog yang muncul.

131. Ubah sebuah drive dalam format FAT menjadi NTFS melalui DOS dengan perintah convert c:/FS:NTFS. Masuklah dalam registry editor dan buka direktori HKEY_USERS\DEFAULT\Control Panel\Desktop dan buat value dalam AutoEndTask dengan nilai 1.

133. Jika saat menginstal sebuah driver baru komputer hang, restore komputer ke konfigurasi sebelumnya. Caranya, restart komputer dan tekan F8 untuk masuk ke Safe Mode dan pilih option Last Known Good Configuration.

134. Gunakan Event Viewer untuk melacak aplikasi yang error. Caranya, klik kanan My Computer, pilih Manage dan klik event Viewer. Klik ganda setiap aplikasi atau system yang menunjukkan error untuk melihat informasi kesalahan.

135. Ada cara paling tepat untuk mengatur ketepatan jam di komputer. Klik ganda jam di sebelah kanan bawah layar atau di system tray, pilih tab Internet Time. Aktifkan option Automatically synchronize with an Internet time server. Pilih server yang tersedia dan klik Update Now!

Tip dan Trik Spesial untuk Windows 98 dan ME

136. Back-up setting dial-up dengan cara men-drag and drop file koneksi di folder Dial Up Networking ke sebuah floppy drive. File back-up akan disimpan dalam ekstensi.dun.

137. Cara cepat restart, tekan Start|Shut Down|Restart, sementara klik OK, tahan tombol Shift.

138. Gunakan Tweak UI khusus Windows 98 dari http://www.microsoft.com/ntworkstation/downloads/powertoys/networking/nttweakui.asp. Setelah instalasi selesai, buka Tweak UI melalui Control Panel.

139. Gunakan tombol F3 untuk membuka fitur Find saat berada di Windows Explorer atau desktop.

140. Atur koneksi dial-up dengan Telephony Location Manager. Fitur Telephony Location Manager ini akan membantu Anda mengoptimalkan koneksi dial-up. Caranya, klik Start|Run dan ketikkan “tlocmgr” tanpa tanda kutip.

141. Jika komputer Anda tidak bisa di-set Dalam mode standby atau suspended, maka perbaiki dengan Pmtshoot dari http://support.microsoft.com/?kbid=185949.

142. Selalu back-up registry sebelum melakukan perubahan di dalamnya. Caranya, gunakan Registry Checker yang bisa ditemui di Start|Programs| Accessories|System Tools|Tools.

143. Buat sebuah disket bootable untuk Windows 98 dengan cara memformatnya menggunakan system files. Kemudian copy file c:\windows\command\scanreg.exe dan c:\windows\himem.sys ke dalam disket tersebut. Jangan lupa, edit file config.sys yang berada di disket dengan memberi tambahan baris “device =a:\himem.sys” tanpa tanda kutip.

144. Untuk me-restore registry saat komputer tidak mau berjalan, coba booting dengan boot disk. Kemudian masuk ke drive C:\ dan ketikkan “scanreg\restore”, tanpa tanda kutip. Ikuti angkah-langkahnya hingga selesai. Kemudian keluar dari DOS.

145. Tambahkan shortcut Control Panel ke Start Menu dengan mengklik kanan tombol Start dan klik Open. Kemudian klik kanan di area kosong, pilih New|Folder. Isikan “Control Panel.{21EC2020-3AEA-1069-A2DD-08002B30309D}” tanpa tanda kutip dan tekan Enter.

146. Anda bisa menghilangkan kotak dialog password yang muncul kali pertama sebelum masuk dalam Windows. Caranya, masuk ke Control Panel, buka Password dan buka tab Change Password. Isi kolom password lama dengan password yang Anda miliki, dan kosongkan kolom new password. Setelah itu, klik tab User Profiles dan enable option All users of this PC use the same preferences and desktop settings. Perubahan ini akan berjalan setelah Windows di-restart.

147. Untuk membatalkan perintah Print, buka icon Printer di system tray dengan mengklik ganda. Kemudian sorot file yang sedang di-print pada Window Printer dan klik kanan kemudian Cancel.

148. Temukan tool-tool under DOS yang masih layak dipergunakan dalam folder tools\MSDOS di CD Instalasi Windows 98.

149. Jika Windows 98 atau Me berjalan lambat, periksa memory. Caranya, klik kanan My Computer dan pilih Properties. Buka tab Performance dan lihat System Resource. Jika mencapai 80 persen, restart komputer. Ingat, tutup semua program sebelum melihat System Resource.

150. Gunakan Sysedit untuk mengedit file-file system. Misalnya Autoexec.bat dan sebagainya. Ketikkan “sysedit” di kotak dialog Run tanpa diberi tanda petik.

sex

In Tak Berkategori on Desember 14, 2007 at 9:06 pm

A. Pendahuluan

Sex merupakan hal yang dianggap tabu untuk diperbincangkan. Akan tetapi secara bertahap seiring dengan berjalannya waktu pengetahuan tentang sex dan pembicaraan mengenai masalah seksualitas dianggap sebagai hal yang penting dan perlu bagi perkembangan manusia. Akhirnya pada pertengahan tahun 1960-an, tenaga perawatan kesehatan telah mengenali keterkaitan kesehatan seksual dengan komponen kesejahteraan.

Pemahaman mengenai seksualitas akan membantu perawat dalam mengenali nilai dan bias seksual serta memperluas pemahaman tentang batas normal perilaku seksual sehingga mampu memberikan perawatan secara lebih efektif.

B. Konsep Seksualitas

Seksualitas merupakan hal yang sulit untuk didefinisikan karena menyangkut banyak aspek kehidupan dan diekspresikan dalam bentuk perilaku yang beraneka ragam. Sedangkan kesehatan seksual telah didefinisikan oleh WHO (1975) sebagai “pengintegrasian aspek somatik, emosional, intelektual, dengan cara yang positif, memperkaya dan meningkatkan kepribadian, komunikasi, dan cinta”.

Apakah sex dan seksualitas merupakan sesuatu yang sama ?

Ternyata kebanyakan orang memahami sexualitas sebatas istilas sex, padahal antara sex dengan sexualitas merupakan hal yang berbeda. Menurut Zawid (1994), kata sex sering digunakan dalam dua hal, yaitu: (a) aktivitas sexsual genital, dan (b) sebagai label jender (jenis kelamin).

Sedangkan seksualitas memiliki arti yang lebih luas karena meliputi bagaimana seseorang merasa tentang bagaimana seseoarang merasa tentang diri mereka dan bagaimana mereka mengkomunuksikan perasaan tersebut terhadap orang lain melalui tindakan yang dilakukannya seperti, sentuhan, ciuman, pelukan, senggama, atau melalui perilaku yang lebih halus seperti isyarat gerak tubuh, etiket, berpakaian, dan perbendaharaan kata.

Lebih lanjut Menurut Raharjo yang dikutip oleh Nurhadmo (1999) menjelaskan bahwa seksualitas merupakan suatu konsep, kontruksi sosial terhadap nilai, orientasi, dan aperilaku yang berkaitan dengan seks.

1. Dimensi seksualitas

Banyaknya variasi seksualitas dan perilaku seksual membutuhkan perspektif yang holistik (menyeluruh). Bagaimanapun seksualitas dan kesehatan seksual memiliki banyak dimensi antara lain: dimensi sosiokultural, agama & etika, psikologis, dan biologis.

a. Dimensi Sosiokultural

Merupakan dimensi yang melihat bagaimana seksualitas muncul dalam relasi antar manusia, bagaimana seseorang menyesuaikan diri dengan tuntutan peran dari lingkungan sosial, serta bagaimana sosialisasi peran dan fungsi seksualitas dalam kehidupan manusia.

Dengan kata laian seksualitas dipengaruhi oleh norma dan peraturan kultural yang menentukan apakah perilaku tersebut diterima atau tidak berdasarkan kultur yang ada. Sehingga keragaman kultural secara global menyebabkan variabilitas yang sangat luas dalam norma seksual dan menghadirkan spektrum tentang keyakinan dan nilai yang luas. Misalnya: perilaku yang diperbolehkan selama pacaran, hal-hal yang dianggap merangsang, tipe aktivitas seksual, sanksi dan larangan dalam perilaku seksual, atau menentukan orang yang boleh dan tidak boleh untuk dinikahi.

Contoh lain tradisi seksual kultural adalah sirkumsisi. Meskipun di AS masih merupakan masalah kontroversial, akan tetapi hampir 80% neonatus laki-laki disana disirkumsisi dengan alasan higienis atau simbol keagamaan dan identitas etnik tertentu. Demikian pula pada wanita, dalam budaya beberapa negara sirkumsisi pada wanita merupakan tanda fisik kedewasaan seorang wanita, simbol kontrol sosial terhadap kesenangan seksual dan reproduksi mereka.

Survei definitif dan komprehensif mengenai keyakinan dan praktek seksual di Amerika yang dilakukan oleh para peneliti Universitas Chicago menunjukan bahwa seorang individu dipengaruhi oleh jaringan sosial mereka dan cenderung untuk melakukan apa yang digariskan oleh lingkungan sosial mereka (Michael et al, 1994). Hal ini diperkuat dengan hasil penelitian kualitatif mengenai perilaku seksual anak jalanan di stasiun kereta api Lempuyangan Jogjakarta. Lingkungan sosial yang bersifat permisif membuat mereka dengan usia yang sangat muda telah akrab dengan berbagai aktivitas seksual, mulai dari meilhat sampai dengan melakukan hubungan intim. (Purnawan, 2004).

Singkatnya, setiap masyarakat memainkan peran yang sangat kuat dalam membentuk nilai dan sikap seksual, juga dalam membentuk atau menghambat perkembangan dan ekspresi seksual anggotanya. Misalnya bagi bangsa timur, khususnya Indonesia, melakukan hubungan intim (senggama) di luar nikah merupakan sebuah aib walaupun sekarang mulai memudar, akan tetapi bagi masyarakat Barat hal tersebut merupakan hal yang wajar dan biasa terjadi.

b. Dimensi Agama dan Etik

Seksualitas berkaitan dengan standar pelaksanaan agama dan etik Jika keputusan seksual yang ia buat melawati batas kode etik individu maka akan menimbulkan konflik internal, seperti perasaan bersalah, berdosa dan lain-lain. Spektrum sikap mengenai seksualitas memiliki rentang mulai dari pandangan tradisional (hubungan seks hanya boleh dalam perkawinan) sampai dengan sikap yang memperbolehkan sesuai dengan keyakinan individu tentang perbuatannya.

Akan tetapi meskipun agama memegang peranaan penting, akan tetapi keputusan seksual pada akhirnya diserahkan pada individu, sehingga sering timbul pelanggaran etik atau agama. Seperti yang dikemukakan Denney & Quadagno (1992) bahwa seseorang dapat menyatakan pada publik bahwa ia meyakini sistem sosial tertentu tetapi berperilaku cukup berbeda secara pribadi. Misalnya: Seseorang meyakini kalau hubungan sex diluar nikah itu tidak diperbolehkan menurut agama atau etika, tapi karena kurang bisa mengendalikan diri, ia tetap melakukan juga.

Michael et al (1994) membagi sikap dan keyakinan individu tentang seksualitas menjadi 3 kategori:

1) Tradisional :à keyakinan keagamaan selalu dijadikan pedoman bagi perilaku seksual mereka. Dengan demikian homoseksual, aborsi, dan hubungan seks pranikah dan diluar nikah selalu dianggap sebagai sesuatu yang salah.

2) Relasional : à berkeyakinan bahwa sex harus menjadi bagian dari hubungan saling mencintai, tetapi tidak harus dalam ikatan pernikahan.

3) Rekreasional : à menyatakan bahwa kebutuhan seks tidak ada kaitannya dengan cinta.

c. Dimensi biologis

Merupakan dimensi yang berkaitan dengan anatomi dan fungsional organ reproduksi termasuk didalamnya bagaimana menjag kesehatan dan memfungsikan secara optimal.

d. Dimensi psikologis

Seksualitas mengandung perilaku yang dipelajari sejak dini dalam kehidupannya melalui pengamatan terhadap perilaku orang tuanya. Untuk itulah orang tua memiliki pengaruh secara signifikan terhadap seksualitas anak-anaknya. Seringkali bagimana seseorang memandang diri mereka sebagai mahluk seksual berhubungan dengan apa yang telah orang tua tunjukan tentang tubuh dan tindakan mereka.

Menurut Deney & Quadagno hasil penelitian menunjukan kecenderungan orang tua memperlakukan anak perempuan dan laki-laki secara berbeda, mendekorasi kamar secara berbeda, dan demikian pula respon terhadap tindakan mereka.

Orang tua juga akan memberikan penghargaan terhadap anak lak-laki yang melakukan eksplorasi dan mandiri, sedangjan anak perempuan sering didorong untuk menjadi penolong dan meminta bantuan. Lebih lanjut orang tua cenderung mempertegas permaian sesuai dengan jenis kelamin pada anak-anak prasekolah mereka. Kesimpulannya orang tua memperlakukan anaknya sesuai dengan jender.

2. Identitas seksual

a. Identitas biologis

Perbedaan biologis antara pria dan wanita ditentukan pada masa konsepsi. Janin perempuan menerima kromosom X (satu dari setiap orang tuanya), sedangkan janin laki laki menerima satu kromosom X dari ibunya dan satu kromosom Y dari ayahnya.

Walaupun awalnya genitalia janin belum bisa dibedakan, tetapi pada saat hormon seks mulai mempengaruhi janin, genitalia membentuk karakteristik pria atau wanita. Pada saat pubertas wanita mengalami putaran siklus menstruasi dan karakteristik seks skunder. Sedangkan pada anak laki-laki mengalami pembentukan sperma dan karakteristik seks skunder pria.

b. Identitas Jender

Jender adalah suatu ciri yang melekat pada kaum lelaki maupun perempuan yang dikonstruksikan secara sosial maupun kultural (Faqih, 1996). Sedangkan Identitas Jender merupakan rasa menjadi feminin atau maskulin.

Dimana segera setelah bayi lahir orang tua dan komunitasnya akan memberikan label sebagai perempuan atau laki-laki. Kemudian orang dewasa akan memperlakukan secara berbeda antara bayi laki-laki dengan perempuan. Pola interaksi yang berbeda inilah yang kemudian mempengaruhi bayi mengembangkan rasa identitas jendernya.

Pada usia tiga tahun, anak-anak sudah menyadari bahwa mereka akan menjadi anak perempuan atau anak-laki-laki. Pengenalan ini merupakan bagian dari perkembangan konsep diri.

c. Peran Jender

Peran jender merupakan cara dimana seseorang bertindak sebagai wanita atau pria. Ternyata faktor lingkungan (orang tua, teman sebaya, media massa dll) bukan satu-stunnya faktor yang membentuk perbedaan perilaku seksual individu, beberapa peneliti berkeyakinan hormon seks yang mempengaruhi perkembangan otak janin, ikut membentuk terbentuknya peran jender tersebut. Sehngga perilaku seksual merupakan hasil kombinasi fakor lingkungan dan biologis.

Selanjutnya faktor kultural juga merupakan elemen penting dalam menentukan peran seks atau jender. Ada kultur yang secara ketat menggambarkan peranaan sebagai feminin atau maskulin (misal: pencari nafkah dan koordinator finansial rumah tangga sebagai peran maskulin; sedangkan pemberi perawatan anak dan memasak adalah peran feminin). Kelompok kultur lain mungkin lebih fleksibel dalam mendefinisikan peran jender mendorong wanita maupun pria untuk menggali berbagai peran atau perilaku tanpa memberikan label tertentu yang berkaitan dengan seks.

3. Orientasi Seksual

Orientasi seksual merupakan preferensi yang jelas, persisten, dan erotik seseorang untuk jenis kelaminnya atau orang lain. Dengan kata lain orientasi seksual adalah keteratarikan emosional, romatik, seksual, atau rasa sayang yang bertahan lama terhadap orang lain

Orientasi seksual memiliki rentang dari Homoseksual murni sampai dengan Heteroseksual murni termasuk didalamnya Biseksual. Sebagian besar orang termasuk heteroseksual yang memiliki ketertarikan hanya dengan lawan jenis. Sedangkan sebagian kecil termasuk homoseksual atau biseksual.

Homoseksual merupakan orang yang mengalami ketertarikan emosional, romantik, seksual, atau rasa sayang pada sejenis, sedangkan biseksual merasa nyaman melakukan hubungan seksual dengan kedua jenis kelamin. Kaum homoseksual disebut gay (bila laki-laki) atau lesbian (perempuan).

Rentang ini memberikan model konseptual tentang orientasi seksual dalam masyarakat dan komplesitas perilaku manusia. Sehingga ada kemungkinan individu mempunyai perasaan erotik yang ditujukan pada seseorang dengan jenis kelamin yang sama tanpa melakukan aksi terhadap perasaan itu.

Gaya hidup gay atau lesbian sangat dipengaruhi oleh bagaimana mereka memutuskan untuk merahasiakan atau terbuka tentang orientasi seksualnya. Hal ini berkaitan dengan proses penghargaan diri, penerimaan diri, dan keterbukaan diri. Melihat kenyataan diatas maka bukan sesuatu yang benar jika kemudian pria gay selalu berkelakuan agak feminin atau memiliki keinginan menjadi seorang wanita, atau sebaliknya wanita lesbian tidak mesti maskulin atau memiliki keinginan untuk jadi pria. Sebagian besar dari mereka merasa puas dengan jender dan peran sosial mereka, dan hanya memiliki keinginan untuk bersama dengan anggota jenis kelamin mereka sendiri

Variasi dalam expresi seksual

Transeksual adalah orang yang identitas seksual atau jender nya berlawanan dengan sex biologisnya. Seorang pria mungkin berfikir tentang dirinya sebagai seorang wanita dalam tubuh pria, atau seorang wanita mungkin menggambarkan dirinya sebagai pria yang terperangkap dalam tubuh wanita. Perasaan ’terperangkap’ ini disebut juga dengan ’disforia jender’.

Transvetit biasanya adalah pria heteroseksual secara periodik berpakaian seperti wanita untuk pemuasan pikologis dan seksual. Sikap ini bersifat sangat pribadi bahkan bagi orang yang terdekat sekalipun.

C. Sistem Nilai Seksual

Sistem nilai seksual merupakan keyakinan pribadi dan keinginan yang berkaitan dengan seksualitas. Sistem seksual ini dibentuk sepanjang perjalanan hidupnya. Pengalaman ini dapat membuat klien mudah untuk berhadapan dengan masalah seksual dalam lingkungan perawatan atau dapat pula menghambat klien dalam mengekspresikannya.

Dengan demikian perhatian utama perawat terhadap klien adalah apakah perilaku, sikap, perasaan, sikap seksual spesifik itu normal.

Klien yang dirawat juga harus diberi privasi ketika dikunjungi oleh pasangan seksualnya. Privasi ini memungkinkan waktu pembicaraan intim, menyentuh, atau berciuman.

Ketika orientasi atau nilai seksual perawat berbeda dengan klien maka sesuatu yang aneh atau salah menurut perawat mungkin tampak normal dan dapat diterima oleh klien, maka disinilah timbul bias seksual.

Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menghadapi bias seksual agar tidak mengganggu proses perawatan antara lain:

a) promosi tentang eduaksi seks dan pemeriksaan nilai dan keyakinan seksual dengan jujur.

b) Pemberian informasi mengenai efek penyakit pada seksualitas secara jujur dan akurat.

D. Perilaku Seksual

Menurut Wahyudi (2000) perilaku seksual merupakan perilaku yang muncul karena adanya dorongan seksual atau kegiatan mendapatkan kesenangan organ seksual melalui berbagai perilaku.

Perilaku seksual yang sehat dan dianggap normal adalah cara heteroseksual, vaginal, dan dilakukan suka sama suka. Sedangkan yang tidak normal (menyimpang) antara lain Sodomi, homoseksual.

Selama ini perilaku seksual sering disederhanakan sebagai hubungan seksual berupa penetrasi dan ejakulasi. Padahal menurut Wahyudi (2000), perilaku seksual secara rinci dapat berupa:

· Berfantasi : merupakan perilaku membayangkan dan mengimajinasikan aktivitas seksual yang bertujuan untuk menimbulkan perasaan erotisme.

· Pegangan Tangan : Aktivitas ini tidak terlalu menimbulkan rangsangan seksual yang kuat namun biasanya muncul keinginan untuk mencoba aktivitas yang lain.

· Cium Kering : Berupa sentuhan pipi dengan pipi atau pipi dengan bibir.

· Cium Basah : Berupa sentuhan bibir ke bibir

· Meraba : Merupakan kegiatan bagian-bagian sensitif rangsang seksual, seperti leher, breast, paha, alat kelamin dan lain-lain.

· Berpelukan : Aktivitas ini menimbulkan perasaan tenang, aman, nyaman disertai rangsangan seksual (terutama bila mengenai daerah aerogen/sensitif)

· Masturbasi (wanita) atau Onani (laki-laki) : perilaku merangsang organ kelamin untuk mendapatkan kepuasan seksual.

· Oral Seks : merupakan aktivitas seksual dengan cara memaukan alat kelamin ke dalam mulut lawan jenis.

· Petting : merupakan seluruh aktivitas non intercourse (hingga menempelkan alat kelamin).

· Intercourse (senggama) : merupakan aktivitas seksual dengan memasukan alat kelamin laki-laki ke dalam alat kelamin wanita.

E. Perkembangan Seksual

Crain (2002) menyatakan bahwa Freud dalam teori psychosexualnya membagi perkembangan seksual seseorang dalam beberapa tahap, yaitu:

a. Oral stage (0-1 tahun)

Rangsangan seksual pada masa ini terletak pada mulutnya. Kegiatan menghisap puting payudara ibunya atau menghisap jempolnya merupakan kesenangan bagi seorang bayi.

b. Anal stage (1-3 tahun)

Pusat rangsangan pada masa ini terletak pada anusnya. Dimana anak merasakan kesenangan ketika melakukan buang air besar karena telah mampu mengontrol otot sphincter-nya. Mereka kadang-kadang mencoba memasukan kembali atau menahan fesesnya dengan cara menambah tekanan pada rektum. Mereka juga sering tertarik dengan feses yang telah dikeluarkan dengan menjadikannya sebagai alat mainan.

c. Phallic or Oediphal stage (3-6 tahun)

· Anak laki-laki

Dimulai dengan adanya ketertarikan terhadap penisnya. Hal ini disebabkan penis merupakan organ yang mudah dirangsang, mudah berubah, dan kaya akan rangsangan. Mereka ingin membandingkan penisnya dengan laki-laki lain atau dengan binatang, sehingga ia senang memperlihatkan penisnya.

Dia mungkin juga mencium ibunya secara agresiv, ingin tidur malam bersama ibunya atau membayangkan ia menikahinya. Akan tetapi ia belum membayangkan untuk melakukan senggama sehingga merasa bingung apa yang akan dilakukan bersama ibunya.

· Anak perempuan

Pada fase ini ia merasa kecewa dan marah besar dengan ibunya karena tidak memmpunyuai penis. Ia menganggap ibunya melahirkan kedunia dengan keadaan kurang lengkap Ia juga memiliki kedekatan yang lebih terhadap ayahnya. Hal ini mungkin disebabkan ayahnya mulai mengagumi kecantikannya, memanggilnya ‘little princess’ serta senang bermain-main dengannya.

d. Latency stage (6-11 tahun)

Pada fase ini, sebagian besar fantasi seksual tersembunyi di alam bawah sadar mereka.

e. Puberty (Genital Stage)

Pada anak laki-laki dimulai umur 13 tahun sedangkan anak perempuan dimulai pada usia 11 tahun. Pada saat ini anak ingin melepaskan dirinya dari orang tua.

Bagi anak laki-laki masa ini adalah saat melepaskan pertalian dengan ibunya untuk mendapatkan wanita lain sebagai penggantinya. Dia juga harus mengakhiri rivalitas dengan ayahnya dan membebaskan diri dari dominasi ayahnya.

Bagi anak perempuan mempunyai tugas yang sama, ia harus berpisah dari orang tuanya dan menentukan jalan hidupnya sendiri.

f. Adolescence

Pada saat ini seseorang mulai merasakan cinta dan kasih saying satu sama lain. Adolescence mempunyai perhatian yang lebih mengenai siapa mereka, bagaimana mereka di mata orang lain, dan akan menjadi apakah mereka. Mereka mulai merasakan ketertarikan secara seksual antara satu dengan yang lain, sampai dengan jatuh cinta.

Sedangkan dalam buku Fundamental of Nursing (Potter & Perry. 2005), dijelaskan perkembangan seksual meliputi:

1. Masa Bayi (0-1 Tahun)

v Bayi perempuan dan laki-laki memiliki kapasitas untuk kesenangan dan respon seksual, dimana bayi laki-laki berespon terhadap stimulasi dengan ereksi sedangkan perempuan dengan lubrikasi vagina.

v Bayi laki-laki mengalami ereksi nokturnal spontan tanpa stimulasi

v Perilaku dan respon itu TIDAK berhubungan dengan kontak PSIKOLOGI EROTIK seperti pada masa pubertas.

v Orang tua seharusnya memahami dan menerima perilaku eksplorasi bayi sebagai langkah perkembangan identitas diri yang positif dengan cara:

” Memberikan stimulasi taktil lainnya melalui menyusui, memeluk, dan menyentuh atau membuainya.”

2. Masa Usia Bermain dan Prasekolah (1- 5/6 Tahun)

v Pada masa ini anak mulai menguatkan rasa identitas jender dan membedakan perilaku sesua dengan jender yang didefinisikan secara sosial.

v Proses pembelajaran terjadi melalui:

o Interaksi anak dengan orang dewasa

o Boneka yang diberikan

o Pakaian yang dikenakan

o Permainan yang dilakukan

o Respon yang dihargai

v Anak mulai meniru tindakan orang tua yang berjenis kelamin sama, mempertahankan dan memodifikasi perilaku yang didasarkan umpan balik orang tua.

v Ekspolorasi seksual meliputi

o Mengelus diri sendiri

o Manipulasi genital

o Memeluk boneka,hewan peliharaan, atau orang sekitarnya

o Percobaan sensual lainnya.

v Anak sudah bisa diajarkan perbedaan perilaku yang bersifat pribadi atau publik.

v Pertanyaan darimana bayi berasal yang diamati harus dijelaskan dengan terbuka, jujur dan sederhana.
Masa Usia Sekolah ( 6 – 10 tahun)

v Pada masa ini edukasi dan penekanan tentang seksualitas bisa datang dari orang tua atau gurunya disekolah, tapi yang paling signifikan berasal dari teman sebayanya.

v Anak juga akan terus mengajukan pertanyaan tentang seks dan menunjukan kemandirian mereka dengan menguji perilaku yang sesuai, misalnya menggunakan kata-kata kotor atau menceritakan guyonan yang berkonotasi seksual sambil mengamati reaksi orang dewasa

v Anak-anak mulai mempunyai keinginan dan kebutuhan privasi.

v Pada usia 10 tahun, banyak anak gadis dan sebagian sudah mulai mengalami perubahan pubertas, terjadi perubahan pada tubuh mereka. Dengan demikian mereka membutuhkan informasi yang akurat dari rumah maupun sekolah mengenai perubahan tubuh yang dialami. Karena jika tidak mungkin anak akan ketakutan dengan menstruasi atau emisi nokturnal yang dianggapnya sebagai suau penyakit yang menakutkan.

v Pada usia sekolah dini, anak harus diberikan informasi untuk berhati-hati terhadap potensi adanya penganiayaan seksual. Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah pelecehan seksual terhadap anaka antara lain:

· Ajarkan kepada anak mengenai perbedaan antara sentuhan yang baik dengan sentuhan yang buruk dari orang dewasa.

· Beritahu anak mengenai bagian tubuh tertentu yang tak boleh disentuh oleh orang dewasa kecuali saat mandi atau pemeriksaan fisik oleh dokter.

· Ajarkan kepada anak untuk mengatakan ’tidak’ jika merasa tidak nyaman dengan perlakuan orang dewasa dan menceritakan kejadian itu kepada orang dewasa yang meraka percaya.

· Ajarkan bahwa orang dewasa tidak selalu ’benar’, dan semua orang mempunyai kontrol terhadap tubuh mereka, sehingga ia dapat memutuskan siapa yang boleh atau tidak boleh untuk memeluknya.

v Jika terjadi pelecehan seksual pada anak, beberapa hal yang perlu diperhatikan:

§ Ciptakan kondisi sehingga anak merasa leluasa dalam menceritakan tentang bagian tubuhnya dan menggambarkan kejadian dengan akurat.

§ Yakinkan anak bahwa orang dewasa yang melakukannya adalah salah, sedangkan anaknya sendiri adalah benar.

§ Orang tua harus bisa mengkontrol ekspresi emosional didepan anak.
Pubertas dan Masa Remaja

a. Perubahan fsik

1) Perempuan

· Ditandai dengan perkembangan payudara, bisa dimulai paling muda umur 8 tahun sampai akhir usia 10 tahun.

· Meningkatnya kadar estrogen mempengaruhi genitalia, antara lain: uterus membesar; vagina memanjang; mulai tumbuhnya rambut pubis dan aksila; dan lubrikasi vagina baik spontan maupun akibat rangsangan.

· Menarke sangat bervariasi, dapat terjadi pada usia 8 tahun dan tidak sampai usia 16 tahun. Siklus menstruasi pada awalnya tidak teratur dan avulasi mungkin tidak terjadi saat menstruasi pertama.

2) Laki-laki

· Meningkatnya kadar testosteron ditandai dengan peningkatan ukuran penis, testis, prostat, dan vesikula seminalis; tumbuhnya rambut pubis, wajah

· Walaupun mengalami orgasme, tetapi mereka tidak akan mengalami ejakulasi, sebelum organ seksnya matur yaitu sekitar usia 12 – 14 tahun.

· Ejakulasi terjadi pertama kali mungkin saat tidur (emisi nokturnal), dan sering diinterpretasikan sebagai mimpi basah dan bagi sebagian anak hal tersebut merupakan sesuatu yang sangat memalukan.

· Oleh karena itu anak laki-laki harus mengetahui bahwa meski ejakulasi pertama tidak menghasilkan sperma, akan tetapi mereka akan segera menjadi subur.

b. Perubahan psikologis/emosi

· Periode ini ditandai oleh mulainya tanggungjawab dan asimilasi pengharapan masyarakat

· Remaja dihadapkan pada pengambilam sebuah keputusan seksual, dengan demikian mereka membutuhkan informasi yang akurat tentang perubahan tubuh, hubungan dan aktivitas seksual, dan penyakit yang ditularkan melalui aktivitas seksual.

· Yang perlu diperhatikan terkadang pengetahuan yang diadapatkan tidak diintegrasikan dengan gaya hidupnya, hal ini menyebabkan mereka percaya kalau penyakit kelamin maupun kehmilan tidak akan terjadi padanya à sehingga ia cenderung melakukan aktivitas seks tanpa kehati-hatian.

· Masa ini juga merupakan usia dalam mengidentifikasi orientasi seksual, banyak dari mereka yang mengalami setidaknya satu pengalaman homoseksual. Remaja mungkin takut jika pengalaman itu merupakan gambaran seksualitas total mereka, walaupun sebenarnya anggapan ini tidak benar karena banyak individu terus berorientasi heteroseksual secara ketat setelah pengalaman demikian.

· Remaja yang kemudian mengenali preferensi mereka sebagai homoseksual yang jelas akan merasa dan kebingungan sehingga membutuhkan banyak dukungan dari berbagai sumber (Bimbingan Konselor, penasihet spiritual, keluarga, maupun profesional kesehatan mental).

Hubungan dengan perawatan kesehatan:

Pada masa ini remaja mungkin pertama kali mencari perawatan kesehatan tanpa didampingi orangtua. Agar intervensi pada kelompok usia ini bisa efektif harus diperhatikan beberapa hal antara lain:

- Ciptakan lingkungan yang menunjukan kasih sayang, saling percaya, serta kesediaan untuk mendengar

- Klarifikasi dan hormati masalah yang bersifat rahasia

- Perawat kesehatan reproduktif hendaknya memiliki pengetahuan yang mendalam mengenai perkembangan remaja.
Masa Dewasa

· Pada masa ini telah mencapai maturasi akan tetapi terus mengeksplorasi untuk menemukan maturasi emosional dalam hubungan.

· Sambil mengembangkan hubungan yang intim, semua orang dewasa yang secara seksual aktif harus belajar teknik stimulasi dan respon seksual yang memuaskan bagi pasangannya. Mengapa ? karena pengenalan secara mutual tentang keinginan dan preferensi serta negosiasi praktek seksual mencetuskan ekspresi seksual yang positif.

· Teknik stimulasi hendaknya memperhatikan agama, nilai dan sikap keluarga tentang seksualitas karena kalau tidak menimbulkan efek emosional residual seperti rasa bersalah, cemas, atau perasaan berdosa.

· Pada akhir masa dewasa diperlukan pembaruan kembali keintiman diantara pasangan., namun demikian jika salah satu atau keduanya mengalami ancaman gambaran diri karena tubuh yang menua, dan mungkin mencoba menemukan ’kemudaan’nya dengan melakukan hubungan seksual dengan pasangan yang jauh lebih muda.

· Untuk mecegah hal tersebut, jika diinginkan pasangan dapat dibantu untuk menemukan hal atau kegairahan baru dalam hubungan mereka, baik dengan posisi, teknik seksual, maupun fantasi.
Masa Lanjut Usia

· Seksualitas pada masa ini beralih dari penekanan prokreasi menjadi lebih kerah pertemanan , kedekatan fisik, komunikasi intim, dan hubungan fisik mencari kesenangan. Walaupun demikian mereka juga bisa tetap aktif.melakukan aktivitas seks jika memang menginginkan.

· Perubahan fisik yang dialami menyebabkan perubahan perilaku seksual, sehingga perlu dijelaskan perubahan yang terjadi bersama dengan proses penuaan.

· Demikian pula lansi dengan kekuatiran masalah kesehatan yang mengganggu aktivitas seksual, dianjurkan untuk menyesuaikan tindakan seksual dengan kondisinya tersebut.

F. Respon Seksual

Menurut Masters dan Johnson (1966) siklus respon seksual terdiri dari fase excitement, plateu, orgasmus, dan, resolusi. Pada dasarnya fase-fase tersebut diakibatkan oleh vasokonstriksi dan miotania, yang merupakan respons fisiologis dasar dari rangsangan seksual.

Perbandingan siklus respon pada wanita dan pria dapat dilihat pada tabel berikut ini
WANITA
PRIA

I. EXICETEMENT : peningkatan bertahap dalam rangsangan seksual

· Lubrikasi vaginal: dinding vaginal berkeringat

· Ekspansi 2/3 bagian dalam lorong vagina.

· Peningkatan sensitivitas dan pembesaran klitoris serta labia

· Ereksi puting dan peningkatan ukuran payudara

· Ereksi penis

· Penebalan dan elevasi skrotum

· Elevasi dan perbesaran moderat testis

· Ereksi puting dan tumescence (pembengkakan)

II. PLATEU : penguatan respons fase Exitement

· Retraksi klitoris di bawah topi klitoral

· Pembentukan platform orgasmus: pembengkakan 1/3 luar vagina dan labisa minora

· Elevasi serviks dan uterus: efek ‘tenting’

· Perubahan warna kulit yang tampak hidup pada labia minora: “Kulit Seks”

· Pembesaran areola dan payudara

· Peningkatan tegangan otot dan pernafasan

· Peningkatan frekuensi denyut jantung, tekanan darah, dan frekuensi pernafasan
· Peningkatan ukuran glans (ujung) penis

· Peningkatan intensitas warna glans

· Elevasi dan peningkatan 50% ukuran testis.

· Emisi mukoid kelenjar cowper, kemungkinan oleh sperma

· Peningkatan tegangan otot dan pernafasan

· Peningkatan frekuensi denyut jantung, tekanan darah, dan frekuensi pernafasan

III. ORGASME: penyaluran kumpulan darah dan tegangan otot

· Kontraksi involunter platform orgasmik, uterus, rektal dan spingter uretral, dan kelompok otot lain

· Hiperventilasi dan peningkatan frekuensi jantung

· Memuncaknya frekuensi jantung, tekanan darah, dan frekuensi pernafasan

· Penutupan sfingter urinarius internal

· Sensasi ejakulasi yang tidak tertahankan

· Kontraksi duktus deferens vesikel seminalis prostat dan duktud ejakulatorius

· Relaksasi sfingter kandung kemih eksternal

· Memuncaknya frekuensi jantung, tekanan darah, dan frekuensi pernafasan

· Ejakulasi

IV. RESOLUSI: fisiologis dan psikologis kembali kedalam keadaan tidak terangsang.

· Relaksasi bertahap dinding vagina

· Perubahan warna yang cepat pada labia minora

· Berkeringat

· Secara bertahap frekuensi jantung, tekanan darah, dan frekuensi pernafasan kembali normal

· Wanita mampu kembali mengalami orgasme karena tidak mengalami periode refraktori seperti yang terjadi pada pria.
· Kehilangan ereksi penis

· Periode refraktori ketika dilanjutkan stimulasi menjadi tidak enak

· Reaksi berkeringat

· Penurunan testis

· Secara bertahap frekuensi jantung, tekanan darah, dan frekuensi pernafasan kembali normal

G. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Seksualitas dan Perilaku Seksual

Faktor-faktor yang mempengaruhi seksualitas antara lain:

1. Faktor Fisik

Klien dapat mengalami penurunan keinginan seksual karena alasan fisik, karena bagamanapun aktivitas seks bisa menimbulkan nyeri dan ketidaknyamanan. Kondisi fisik dapat berupa penyakit ringan/berat, keletihan, medikasi maupun citra tubuh. Citra tubuh yang buruk, terutama disertai penolakan atau pembedahan yang mengubah bentuk tubuh menyebabkan seseorang kehilangan gairah.

2. Faktor Hubungan

Masalah dalam berhubungan (kemesraan, kedekatan) dapat mempengaruhi hubungan seseorang untuk melakukan aktivitas seksual.

Hal ini sebenarnya tergantung dari bagimana kemampuan mereka dalam berkompromi dan bernegosiasi mengenai perilaku seksual yang dapat diterima dan menyenangkan

3. Faktor Gaya Hidup

Gaya hidup disini meliputi penyalahgunaan alkohol dalam aktivitas seks, ketersediaan waktu untuk mencurahkan perasaan dalam berhubungan, dan penentuan waktu yang tepat untuk aktivitas seks.

Penggunaan alkohol dapat menyebabkan rasa sejahtera atau gairah palsu dalam tahap awal seks dengan efek negatif yang jauh lebih besar dibanding perasaan eforia palsu tersebut.

Sebagian klien mungkin tidak mengetahui bagaiman mengatur waktu antara bekerja dengan aktivitas seksual, sehingga pasangan yang sudah merasa lelah bekerja merasa kalau aktivitas seks merupakan beban baginya.

4. Faktor Harga Diri

Jika harga-diri seksual tidak dipelihara dengan mengembangkan perasaan yang kuat tentang seksual-diri dan dengan mempelajari ketrampilan seksual, aktivitas seksual mungkin menyebabkan perasaan negatif atau tekanan perasaan seksual.

Harga diri seksual dapat terganggu oleh beberapa hal antara lain: perkosaan, inses, penganiayaan fisik/emosi, ketidakadekuatan pendidikan seks, pengaharapan pribadi atau kultural yang tidak realistik.

Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku seksual, menurut Purnawan (2004) yang dikutip dari berbagai sumber antara lain:

a. Faktor Internal

1) Tingkat perkembangan seksual (fisik/psikologis)

Perbedaan kematangan seksual akan menghasilkan perilaku seksual yang berbeda pula. Misalnya anak yang berusia 4-6 tahun berbeda dengan anak 13 tahun.

2) Pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi

Anak yang memiliki pemahaman secara benar dan proporsional tentang kesehatan reproduksi cenderung memahami resiko perilaku serta alternatif cara yang dapat digunakan untuk menyalurkan dorongan seksualnya

3) Motivasi

Perilaku manusia pada dasarnya berorientasi pada tujuan atau termotivasi untuk memperoleh tujuan tertentu. Hersey & Blanchard cit Rusmiati (2001) perilaku seksual seseorang memiliki tujuan untuk memperoleh kesenangan, mendapatkan perasaan aman dan perlindungan, atau untuk memperoleh uang (pada gigolo/WTS)

b. Faktor Eksternal

1) Keluarga

Menurut Wahyudi (2000) kurangnya komunikasi secara terbuka antara orang tua dengan remaja dapat memperkuat munculnya perilaku yang menyimpang

2) Pergaulan

Menurut Hurlock perilaku seksual sangat dipengaruhi oleh lingkungan pergaulannya, terutama pada masa pubertas/remaja dimana pengaruh teman sebaya lebih besar dibandingkan orangtuanya atau anggota keluarga lain.

3) Media massa

Penelitian yang dilakukan Mc Carthi et al (1975), menunjukan bahwa frekuensi menonton film kekerasan yang disertai adegan-adegan merangsang berkolerasi positif dengan indikator agresi seperti konflik dengan orang tua, berkelahi , dan perilaku lain sebagi manifestasi dari dorongan seksual yang dirasakannya.

Referensi
Crain, W. 1992Theorist of Development Concept and Applications. 3th ed. New York: Engle Wood Cliffs
Potter & Perry. 2005 .Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses, dan Praktek. Alih Bahasa, Yasmin Asih. Ed. 4. Jakrta: EGC
Purnawan, I. 2004. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Seksual Pada Anak Jalanan di Stasiun Kereta Api Lempuyangan Jogjakarta. Program Studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Kedokteran UGM.
Minangsari,2005, Merespons Anak yang Mengalami Pelecehan Seksual!, down load from: kompas online, 9 Februari 2007.
Wahyudi,K.2000.Kesehatan Reproduksi Remaja. Lab Ilmu Kedokteran Jiwa FK UGM Jogjakarta.

PENGANTAR KRIMINAL

In Tak Berkategori on Desember 13, 2007 at 10:43 pm

Pengantar Kriminologi.
Pendahuluan.

Kriminologi sebagai ilmu pengetahuan yang sifatnya masih baru apabila kita ambil definisinya secara etimologis berasal dari kata crimen yang berarti kejahatan dan logos yang berarti pengetahuan atau ilmu pengetahuan, sehingga kriminologi adalah ilmu /pengetahuan tentang kejahatan. Istilah kriminologi untuk pertama kali (1879) digunakan oleh P. Topinard, ahli dari perancis dalam bidang antropologi, sementara istilah yang sebelumnya banyak dipakai adalah antropologi criminal.

Menurut E.H. Sutherland, kriminologi adalah seperangkat pengetahuan yang mempelajari kejahatan sebagai fenomena social, termasuk didalamnya proses pembuatan undang-undang, pelanggaran undang-undang dan reaksi terhadap pelanggaran undang-undang.
Bonger mengatakan bahwa kriminologi adalah ilmu yang mempelajari tentang kejahatan seluas-luasnya.
Sejarah kriminologi.
Meskipun Kriminologi bisa dianggap sebagai ilmu pengetahuan baru yang diakui baru lahir pada abad ke-19 ( sekitar tahun 1850 )bersamaan dengan ilmu sosiologi tetapi karangan-karangan tentang kriminologi bisa ditemukan pada zaman kuno yaitu zaman Yunani dimulai dengan karangan Plato dalam “Republiek” menyatakan antara lain bahwa emas , manusia adalah sumber dari banyak kejahatan sedangkan Aristotelis menyatakan bahwa kemiskinan adalah sumber dari kejahatan.
Kemudian abad pertengahan Thomas Aqunio menyatakan bahwa “ orang kaya memboros-boroskan kekayaanya disaat dia jatuh miskin maka dia akan mudah menjadi pencuri”
Perkembangan hukum pidana pada Akhir abad ke 19 yang dirasakan sangat tidak memuaskan membuat para ahli berfikir mengenai efektifitas hukum pidana itu sendiri, Thomas Moore melakukan penelitian bahwa sanksi yang berat bukanlah faktor yang utama untuk memacu efektifitas hukum pidana buktinya lewat penelitiannya ditemukan bahwa para pencopet tetap beraksi disaat dilakukan hukuman mati atas 24 penjahat di tengah-tengah lapangan. Ini membuktikan bahwa sanksi hukum pidana tidak berarti apa-apa. Ketidakpuasan terhadap hukum pidana, Hukum acara pidana dan sistem penghukuman menjadi salah satu pemicu timbulnya kriminologi
Perkembangan ilmu statistik juga mempengaruhi timbulnya kriminologi. Statistik sebagai pengamatan massal dengan menggunakan angka-angka yang merupakan salah satu pendorong perkembangan ilmu sosial.
Quetelet (1796-1829) ahli statistik yang pertama kali melakukan pengamatan terhadap kejahatan. Dialah yang pertama kali membuktikan bahwa kejahatan adalah fakta yang ada dimasyarakat, dalam penelitiannya Quetelet menemukan bahwa kejahatan memiliki pola-pola yang sama setiap tahunnya maka beliau berpendapat bahwa kejahatan dapat diberantas dengan meningkatkan/ memperbaiki kehidupan masyarakat.
Sarjana lain yang menggunakan statistik dalam pengamatan terhadap kejahatan adalah G Von Mayr ( 1841-1925) ia menemukan bahwa perkembangan antara tingkat pencurian dengan tingkat harga gandum terdapat kesejajaran (positif). Bahwa tiap-tiap kenaikan harga gandum 5 sen dalam tahun 1835 – 1861 di bayern. Jumlah pencurian bertambah dengan 1 dari antara 100.000 penduduk. Dalam perkembangannya ternyata tingkat kesejajaran tidak selalu tampak. Karena adakalanya berbanding berbalik ( invers) antara perkembangan ekonomi dengan tingkat kejahatan.
Sebutan kriminologi sendiri diperkenalkan oleh Topinard ( 1830-1911) seorang ahli antropologi dari perancis.

Aliran Pemikiran Dalam Kriminologi
Yang dimaksud dengan aliran pemikiran disini adalah cara pandang (kerangka acuan, Paradigma, perspektif) yang digunakan oleh para kriminolog dalam melihat, menafsirkan, menanggapi dan menjelaskan fenomena kejahatan.
Oleh karena pemamahaman kita terhadap dunia social terutama dipengaruhi oleh cara kita menafsirkan peristiwa-peristiwayang kita alami/lihat, sehingga juga bagi para ilmuwan cara pandang yang dianutnya akan dipengaruhi wujud penjelasan maupun teori yang dihasilkannya. Dengan demikian untuk dapat memahami dengan baik penjelasan-penjelasan dan teori-teori dalam kriminologi perlu diketahui perbedaan aliran pemikiran/paradigma dalam kriminologi.
Teori adalah bagian dari suatu penjelasan mengenai sesuatu sementara suatu penjelasan dipandang sebagai masuk akal akan dipengaruhi oleh fenomena tertentu yang dipersoalkan didalam keseluruhan bidang pengetahuan. Adapun keseluruhan bidang pengetahuan tersebut merupakan latar belakang budaya kontemporer yang berupa dunia informasi. Hal-hal yang dipercayai ( belief ) dan sikap-sikap yang membangun iklim intelektual dari setiap orang pada suatu waktu dan tempat tertentu.
Didalam sejarah intelektual terhadap masalah “penjelasan” ini secara umum dapat dibedakan dua cara pendekatan yang mendasar yakni pendekatan spiritistik atau demonologik dan pendekatan naturalistic, yang kedua-duanya merupakan pendekatan yang dikenal pada masa kuno maupun modern.
Penjelasan demonologik mendasarkan pada adanya kekuasaan lain atau spirit ( roh). Unsur utama dalam penjelasan spiristik adalah sifatnya yang melampaui dunia empiric; dia tidak terikat oleh batasan-batasan kebendaan atau fisik, dan beroperasi dalam cara-cara yang bukan menjadi subyek dari control atau pengetahuan manusia yang bersifat terbatas.
Pada pendekatan naturalistik penjelasan diberikan secara terperinci dengan melihat dari segi obyek dan kejadian-kejadian dunia kebendaan dan fisik. Secara garis besar pendekatan ini dibagi tiga bentuk sistem pemikiran atau bisa disebut sebagai paradigma yang digunakan sebagai kerangka untuk menjelaskan fenomena kejahatan, adapun ketiga paradigma/ aliran ini adalah aliran klasik, positivisme dan aliran kritis.
a. Aliran Klasik
Aliran ini mendasarkan pada pandangan bahwa intelegensi dan rasionalitas merupakan ciri fundamental manusia dan menjadi dasar bagi penjelasan perilaku manusia, baik yang bersifat perorangan maupun kelompok. Intelegensi mampu membawa manusia untuk berbuat mengarahkan dirinya sendiri, dalam arti lain ia adalah penguasa dari dirinya sendiri. Ini adalah pokok pikiran aliran klasik dengan dilandasi pemikiran yang demikian maka penjahat dilihat dari batasan-batasan perundang-undangan yang ada.
Kejahatan dipandang sebagai pelanggaran terhadap undang-undang hukum pidana, penjahat adalah setiap orang yang melakukan kejahatan. Secara rasionalitas maka tanggapan masyarakat adalah memaksimalkan keuntungan dan menekan kerugian yang ditimbulkan oleh kejahatan. Kriminologi disini sebagai alat untuk menguji sistem hukuman yang dapat meminimalkan kejahatan.
Salah satu tokoh dalam aliran ini adalah Cesare Beccaria ( 1738 – 1794 ) merupakan tokoh yang menentang kesewenang-wenangan lembaga peradilan pada saat itu. Dalam bukunya Dei Delitti e delle pene secara gamblang dia menyebutkan keberatan-kebaratannya atas hukum pidana.
Aliran ini melahirkan aliran Neo-Klasik dengan ciri khas yang masih sama tetapi ada beberapa hal yang diperbaharui antara lain adalah kondisi si pelaku dan lingkungan mulai diperhatikan. Hal ini dipicu oleh pelaksanaan Code De Penal secara kaku dimana tidak memperhitungkan usia, kondisi mental si pelaku, aspek kesalahan. Semua faktor tersebut tidak menjadi pertimbangan peringanan hukuman, penjatuhan hukuman dipukul rata berdasarkan prinsip kesamaan hukum dan kebebasan pribadi.
b. Aliran Positivisme
Aliran pemikiran ini bertolak pada pandangan bahwa perilaku manusia ditentukan oleh faktor-faktor diluar kontrolnya, baik yang berupa faktor biologi maupun kultural. Ini berarti manusia bukanlah mahluk yang bebas untuk mengikuti dorongan keinginannya dan intelegensinya, akan tetapi mahluk yang dibatasi atau ditentukan perangkat biologinya dan situasi kulturalnya. Manusia berubah bukan semata-mata akan intelegensianya akan tetapi melalui proses yang berjalan secara perlahan-lahan dari aspek biologinya atau evolusi kultural. Aliran ini melahirkan dua pandangan yaitu Determinisme Biologik yang menganggap bahwa organisasi sosial berkembang sebagai hasil individu dan perilakunya dipahami dan diterima sebagai pencerminan umum dari warisan biologik. Sebaliknya Determinis Kultural menganggap bahwa perilaku manusia dalam segala aspeknya selalu berkaitan dan mencerminkan ciri-ciri dunia sosio kultural yang melingkupinya. Mereka berpendapat bahwa dunia kultural secara relatif tidak tergantung pada dunia biologik, dalam arti perubahan pada yang satu tidak berarti akan segera membuat perubahan yang lainnya.
Salah satu pelopor aliran positivis ini adalah Cesare Lombrosso (1835-1909) seorang dokter dari itali yang mendapat julukan Bapak Kriminologi Modern lewat teorinya yang terkenal yaitu Born Criminal, Lombrosso mulai meletakkan metodologi ilmiah dalam mencari kebenaran mengenai kejahatan serta melihatnya dari banyak faktor.
Teori Born Criminal ini di ilhami oleh teori evolusi dari darwin. Lombrosso membantah mengenai Free Will yang menjadi dasar aliran klasik. Doktin Avatisme membuktikan bahwa manusia menuruni sifat hewani dari nenek moyangnya. Gen ini dapat muncul sewaktu-waktu dan menjadi sifat jahat pada manusia modern.
Dalam perkembangan teorinya bahwa manusia jahat dapat dilihat dari ciri-ciri fisiknya lewat penelitian terhadap 3000 tentara dan narapidana lewat rekam mediknya beberapa diantaranya telingan yang tidak sesuai ukuran, dahi yang menonjol, hidung yang bengkok.
Pada dasarnya teori lombrosso ini membagi penjahat dengan empat golongan, yaitu :
1. Born Criminal yaitu orang yang memang sejak lahir berbakat menjadi penjahat seperti paham avatisme
2. Insane Criminal yaitu orang termasuk dalam golongan orang idiot, embisil,dan paranoid
3. Ocaccasial criminal atau criminaloid adalah pelaku kejahatan yang berdasarkan pada pengalaman yang terus menerus sehingga mempngaruhi pribadinya.
4. Criminal of Passion yaitu orang yang melakukan kejahatan karena cinta, marah atapun karena kehormatan.

c. Aliran Kritis
Pemikiran Kritis lebih mengarhkan kepada proses manusia dalam membangun dunianya dimana dia hidup. Menurut aliran ini tingkat kejahatan dan ciri-ciri pelaku terutama ditentutakan oleh bagaimana undang-undang disusun dan dijalanka. Sehubungan denga itu maka tugas dari kriminologi adalah bagaimana cap jahat tersebut diterapkan terhadap tindakan dan orang-orang tertentu.
Pendekatan kritis ini secara relatif dapat dibedakan antara pendekatan “interaksionis” dan “konflik”. Pendekatan interaksionis berusaha untuk menentukan mengapa tindakan-tindakan dan orang-orang tertentu didefinisikan sebagai kriminal di masyarakat tertentu dengan cara mempelajari “persepsi” makna kejahatan yang dimiliki masyarakat yang bersangkutan. Mereka juga mempelajari kejahatan oleh agen kontrol sosial dan orang-orang yang diberi batasan sebagai penjahat, juga proses sosial yang dimiliki kelompok bersangkutan dalam mendifinisikan seseorang sebagai penjahat.
Hubungan antara kejahatan dan proses kriminalisasi secara umum dijelaskan dalam konsep “penyimpangan” ( deviance ) dan reaksi sosial. Kejahatan dipandang sebagai bagian dari “penyimpangan sosial” dengan arti tindakan yang bersangkutan “berbeda” dengan tindakan orang pada umumnya dan terhadap tindakan menyimpang ini diberlakukan reaksi yang negatif dari masyarakat.
Menurut pendekatan “konflik” orang berbeda karena kekuasaan yang dimilikinya dalam perbuatan dan bekerjanya hukum. Secara umum dapat dijelaskan bahwa mereka yang memiliki kekuasaan yang lebih besar dan mempunyai kedudukan yang tinggi dalam mendifinisikan kejahatan adalah sebagai kepentingan yang bertentangan dengan kepentingan dirinya sendiri. Secara umum kejahatan sebagai kebalikan dari kekuasaan; semakin besar kekuasaan seseorang atau sekelompok orang semakin kecil kemungkinannya untuk dijadikan kejahatan dan demikian juga sebaliknya.
Orientasi sosio-psikologis teori ini pada teori-teori interaksi sosial mengenai pembentukan kepribadian dan konsep “proses sosial” dari perilaku kolektif.
Dalam pandangan teori ini bahwa manusia secara terus menerus berlaku uintuk terlibat dalam kelompoknya dengan arti lain hidupnya merupakan bagian dan produk dari kumpulan kumpulan kelompoknya. Kelompok selalu mengawasi dan berusaha untuk menyeimbangkan perilaku individu-individunya sehingga menjadi suatu perilaku yang kolektif.
Dalam perkembangan lebih lanjut aliran ini melahirkan teori “kriminologi Marxis” dengan dasar 3 hal utama yaitu; (1) bahwa perbedaan bekerjanya hukum merupakan pencerminan dari kepentingan rulling class (2) kejahatan merupakan akibat dari proses produksi dalam masyarakat, dan (3) hukumj pidana dibuat untuk mencapai kepentingan ekonomi dari rulling class.

Daftar Pustaka

Bonger, W.A , Pengantar Tentang Kriminologi, Pustaka Sarjana, Jakarta 1982
Romli Atmasasmita, Teori Dan Kapita Selekta Kriminologi, Refika Aditama, Bandung 1992
Susanto I.S, Kriminologi, FH Universitas Diponegoro, Semarang, 1995
Topo Santoso & Eva Achjani, Kriminologi, Rajawali Press, 2004
Yoblonsky Lewis, Criminologi Crime and Criminality Fourth Edition, Harper & Row Publhiser, New York, 1990

PECANDU MASTRUBASI

In Tak Berkategori on Desember 13, 2007 at 10:40 pm

PECANDU MASTURBASI? JANGAN KUATIR!

By hai hai – Posted on Juni 10th, 2007

Pecandu narkoba, hampir semua orang mengakui keberadaannya, namun Pecandu Masturbasi, mungkin hanya hai hai yang mengakui dan mengajarkannya. Berikut ini adalah pendapat hai hai tentang kecanduan narkoba dan masturbasi:

“Sekali Pecandu narkoba, selamanya pecandu, tidak ada pecandu yang sembuh yang ada adalah pecandu yang tidak memakai narkoba.”

“Sekali Pecandu masturbasi, selamanya pecandu, tidak ada pecandu yang sembuh yang ada adalah pecandu yang tidak masturbasi.”

Hoii… Mari kita membicarakan masturbasi tanpa tedeng aling-aling, rawe-rawe lantas, malang-malang puntung. Biar tuntas tas tas tas. Garamdunia yang memulainya, tanggapannya sudah seabrek-abrek, tapi diskusinya berputar-putar dari situ ke situ lagi.

Musashi, pendekar terbesar dalam sejarah Jepang mengajarkan, ini terjemahan bebasnya,

“Kalau engkau sudah mengerahkan semua jurusmu, namun belum bisa mengalahkan musuh, maka mundurlah dan berhenti bertarung, buang semua kenangan tentang pertarunganmu yang tadi dan mulailah bertarung seolah-olah dia musuh yang baru dihadapi untuk pertama kalinya.”

Nah, mari kita memulai diskusi tentang masturbasi dengan cara baru, mari memandang masturbasi, KECANDUAN dan PECANDU MASTURBASI dengan paradigma baru. Mari mendiskusikan topik ini dengan cara pandang yang mungkin seumur hidup, anda tidak akan pernah memimpikannya bila tidak membaca tulisan ini..

Apa persamaan antara pecandu narkoba dan pecandu masturbasi? Keduanya sama-sama kecanduan rasa NIKMAT. dr. Boyke sering bilang, “hormon endorphin 100 kali lebih dasyat dari morphin.” Itu adalah hasil penelitian ilmiah.

Apa itu ENDORPHIN? Endorphin adalah hormon yang terbentuk di dalam sistem syaraf dan otak manusia, Kegunaannya adalah menangkal rasa sakit dan memunculkan rasa nikmat.

ORGASME bukan satu-satunya cara untuk membentuk hormon endorphin, namun adalah CARA TERDASYAT yang diketahui oleh umat manusia hingga saat ini. Orgasme adalah MUJIZAT yang Tuhan ciptakan bagi manusia untuk menaati perintahNya, “Beranak cuculah dan penuhi bumi.” Sungguh LUAR BIASA, Tuhan memberi perintah dan memperlengkapi manusia untuk menaati perintahNya.

Setiap kali anda membaca perintah Tuhan, cobalah kenali diri sendiri untuk menemukan MUJIZAT Tuhan (potensi) dalam diri untuk menaati perintahNya tersebut. Sekali anda menemukannya, maka anda akan menemukan kenyataan bahwa tidak sulit untuk menaati printah Tuhan.

Apa itu orgasme?

Orgasme adalah enak yang paling enak yang nggak ada yang lebih enak lagi.

Ejakulasi adalah testis (pabrik sperma) menyemburkan sperma melalui penis. Ejakulasi umumnya terjadi hampir bersamaan dengan orgasme. Itu sebabnya, sebagian orang menganggap orgasme adalah ejakulasi.

Bagaimana cara mencapai orgasme? Kemampuan untuk mencapai atau mendapat orgasme sangat tergantung pada kondisi fisik, mental dan pengalaman anda. Anak-anak muda sering mengelompokkannya sebagai berikut: Pandangan hidup, pegangan hidup dan perjuangan hidup.

Pandangan hidup, artinya anda mampu mencapai orgasme dengan menghayal atau melihat gambar atau membaca cerita atau menonton film berisi adegan-adegan mesra, sex atau melihat orang bermesraan atau berhubungan sex.

Pegangan hidup, artinya anda mampu mencapai orgasme dengan cara bercumbu atau koitus (berhubungan sex).

Perjuangan hidup, artinya anda harus ke dokter untuk mengetahui apa yang terjadi, karena secara teknis tubuh anda menghadapi masalah untuk mencapai orgasme.

Masturbasi adalah usaha untuk menggapai orgasme dengan mencumbu diri sendiri sambil membayangkan adegan-adegan mesra. Masturbasi, tindakannya sama, tetapi lamunannya berbeda-beda.

Orang yang sudah pernah berhubungan sex ketika masturbasi akan berfantasi sedang berhubungan sex. Yang sudah pernah bercumbu akan membayangkan sedang bercumbu, yang sudah pernah berciuman akan membayangkan sedang berciuman. Seorang lelaki yang belum pernah melakukan hubungan sex, bercumbu, berciuman, memeluk, membelai wanita ketika melakukan masturbasi hanya akan membayangkan kulit yang mulus, paha yang tersingkap, buah dada yang tersingkap, atau buah dada yang montok, atau gambar yang pernah dilihatnya, cerita yang pernah dibacanya atau film yang pernah ditontontannya. Kalau anda pernah mengintip wanita telanjang, maka sejauh itulah lamunan anda ketika masturbasi atau ketika mimpi basah. Lamunan anda ketika masturbasi tidak akan pernah melampaui pengalaman nyata anda, begitupun dengan mimpi basah anda. Tak peduli berapa banyak tulisan yang anda baca, gambar yang anda pandang dan film porno yang telah anda tonton, tapi itulah yang akan terjadi. Ini sudah dibuktikan oleh para peneliti lho. Nah siapa yang mau sumbang saran atau membantah bahwa hal ini tidak benar?

Jajarkan sejuta laki-laki kristen dewasa tanpa istri, lalu tanya, pernah mimpi basah? Sering mimpi basah? Kalau jawabannya jarang, berarti mereka sering masturbasi, kalau jawabannya sering berarti mereka jarang masturbasi. Kalau mereka bilang mimpi basah rata-rata dua minggu sekali, itu artinya mereka nggak masturbasi, kalau mereka bilang nggak pernah mimpi basah dan nggak pernah masturbasi, maka itu tandanya mereka nggak normal atau sedang membual.

Kalau having sex itu ngetik, maka masturbasi itu tulis tangan, lalu mimpi basah itu apa dong? Kalau having sex itu “Together we work better,” maka masturbasi itu “self service,” lalu mimpi basah itu apa dong?

Mimpi basah adalah cara alamiah tubuh lelaki untuk mengeluarkan sperma, sama seperti mens atau haid pada wanita. Apakah mimpi basah itu dosa? Karena prosedurnya alamiah, dan terjadi selama tidur maka dianggap nggak dosa. Selama ini ada anggapan bahwa yang alamiah jauh lebih baik daripada artificial (rekayasa atau buatan). Katanya, sayur organik (tanpa pupuk kimia dan obat anti hama) lebih sehat dari sayur yang di beri pupuk unorganik.

Apakah Masturbasi dosa?

May! May be Yes, May be No!

Sepuluh Perintah Allah adalah standard untuk menguji apakah masturbasi dosa atau tidak. Ada tiga Aliran klasik mengenai masturbasi pada lelaki. Pertama, masturbasi itu dosa karena melanggar perintah ke 7, “Jangan berzinah.”. Kedua, masturbasi bukan dosa, karena tidak melanggar Sepuluh Perintah Allah. Ketiga, masturbasi dosa, namun hanya dosa kecil yang dilakukan untuk menghindari dosa besar (lebih baik masturbasi daripada koitus (berhubungan sex) dengan wanita yang bukan muhrimnya).

Aliran Masturbasi Dosa, umumnya mengutip ayat Kejadian 38:9-10 dan Matius 5:27-28 sebagai dasar ajarannya. Mari kita menganalisa ayat-ayat tersebut untuk memahaminya.

Tetapi Onan tahu, bahwa bukan ia yang empunya keturunannya nanti, sebab itu setiap kali ia menghampiri isteri kakaknya itu, ia membiarkan maninya terbuang, supaya ia jangan memberi keturunan kepada kakaknya. Tetapi yang dilakukannya itu adalah jahat di mata TUHAN, maka TUHAN membunuh dia juga. Kejadian 38:9-10

And Onan knew that the seed should not be his; and it came to pass, when he went in unto his brother’s wife, that he spilled it on the ground, lest that he should give seed to his brother. And the thing which he did displeased the LORD: wherefore he slew him also. Genesis 38:9-10

Apabila membaca kedua ayat tersebut dalam bahasa aslinya, bahasa Yunani, maka kita harus mengakui bahwa terjemahan ke dalam bahasa Inggris lebih “to the point” dan tidak tedeng aling-aling. Kata Yunani “BOW’” memang lebih tepat bila diterjemahkan sebagai “ia memasuki” dari pada “ia menghampiri.” Dalam kasus Onan, jelas terjadi koitus (masuknya penis ke dalam vagina), namun ejakulasinya dilakukan di luar vagina. Atau dalam bahasa gaulnya dikatakan Onan “having sex” dengan Tamar, namun nembaknya di luar.

Suatu informasi tambahan, dewasa ini banyak orang yang “having sex” meniru cara Onan untuk menghindari terjadinya kehamilan. Sebuah cara yang nampak masuk akal, namun jauh dari efektir sama sekali. Menurut penelitian, setiap kali ejakulasi, seorang laki-laki rata-rata menyemburkan 150.000.000 (seratus lima puluh juta) lebih sperma, namun untuk menghamili seorang wanita hanya dibutuhkan 1 (satu) sperma. Penelitian yang sama menemukan kenyataan bahwa selama koitus, sebelum terjadi ejakulasi, kurang lebih 5% sperma sudah mengalir keluar. Silahkan anda menghitung sendiri, berapa jumlah 5% dari 150 juta. Saya sering berhadapan dengan laki-laki yang curiga bahwa anak yang dikandung oleh pacarnya bukan anaknya, karena mereka penganut onanisme, mempraktekan “SEX” ala Onan, namun pacarnya hamil.

Dalam kasus Onan, saya menarik kesimpulan bahwa Tuhan marah kepada Onan bukan karena dia memnyemburkan spermanya ke lantai, tetapi karena motivasinya ketika melakukan hal itu. Onan sirik, dengki nggak bisa melihat orang senang, daripada melihat orang lain senang, lebih baik dia rugi.
MASHAB
Mashab Klasik
Mashab ini memandang bahwa keadilan dibagi dalam 8 prinsip:
1. 1. Pembentukan suatu masyarakat yang didasarkan pada kontrak (contractual society) untuk menghindarkan perang dari kekacauan. Kebebasan individu ditentukan oleh kekuasaan negara, sebagai administrator yang sah
2. 2. Sumber hukum adalah Undang-Undang bukan hakim. Hanya Undang-Undang yang menentukan hukuman bagi kejahatan. Kekuasaan untuk membuat Undang-Undang hanya ada pada pembuat Undang-Undang. Hakim tidak dapat menjatuhkan hukuman dengan alasan apapun sebelum ditentukan oleh Undang-Undang
3. 3. Tugas hakim hanya menentukan kesalahan seseorang, hukuman adalah urusan Undang-Undang. Hakim tidak diperbolehkan menginterpretasikan Undang-Undang
4. 4. Hak negara untuk menghukum. Hak penguasa untuk menghukum didasarkan kepada keperluan mutlak membela kebebasan masyarakat yang telah dipercayakan kepadanya dari keserakahan individu
5. 5. Harus ada suatu skala kejahatan dan hukuman
6. 6. Sengsara dan kesenangan adalah dasar dari motif-motif manusia
7. 7. Perbuatannya dan bukan kesalahannya yang merupakan ukuran dari besarnya kerugian yang diakibatkan oleh kejahatan
8. 8. Prinsip dasar dari hukum pidana terletak pada sanksi-sanksi yang positif
8 prinsip tersebut diatas merupakan pandangan-pandangan Becaria banyak pengaruhnya pada pembentukan Undang-Undang Perancis (Frech Code Penal) 1791.
Mashab Neo-Klasik
Ciri-ciri mashab ini adalah:
1. 1. Adanya pelunakan atau perubahan pada doktrin kehendak bebas – kebebasan kehendak untuk memilih dapat dipengaruhi oleh : Patologi,
2. 2. Premiditasi, niat yang dijadikan ukuran daripada kebebasan kehendak (hal-hal yang aneh)
3. 3. Pengakuan daripada sahnya keadaan yang memperlunak. Ini dapat bersifat fisik, keadaan lingkungan atau keadaan mental dari si individu
4. 4. Perubahan doktrin tanggung jawab sempurna untuk memungkinkan pelunakan hukuman menjadi tanggung jawab sebagian saja
5. 5. Dimasukkannya kesaksian atau keterangan ahli di dalam acara pengadilan untuk menentukan besarnya tanggung jawab
Mashab Positivis
Penghukuman terhadap penjahat dilakukan melalui eliminasi. Jenis eliminasi yang diterapkan:
1. 1. Eliminasi mutlak atau kematian bagi mereka yang kelakuan jahatnya adalah hasil dari anomali psikologi yang permanen sifatnya, dan yang mengakibatkan bahwa mereka untuk selama-lamanya tidak akan dapat mengikuti kehidupan so-sial
2. 2. Eliminasi sebagian, termasuk didalamnya hukuman penjara seumur hidup atau untuk jangka waktu lama dan pembuangan bagi mereka yang hanya pantas untuk hidup secara nomadis atau primitif, atau isolasi ringan dalam koloni-koloni pertanian bagi pelanggar hukum yang masih muda dan mempunyai harapan
3. 3. Reparasi yang dipaksakan bagi mereka yang kurang memiliki sifat-sifat altruistis dan telah melakukan kejahatan di bawah tekanan keadaan-keadaan tertentu yang pada umumnya tidak akan terjadi lagi
Agar hukuman dapat efektif harus dipenuhi 3 syarat:
1. 1. Sesuai dengan tuntutan masyarakat bahwa petindak harus ditindak karena dia telah melakukan kejahatan
2. 2. Asas-asas umumnya tentang eliminasi harus cukup menakutkan, sehingga merupakan pencegahan
3. 3. Seleksi sosial yang dihasilkannya memberikan harapan untuk kemudian hari dengan jalan destruksi total secara lambat laun dari si penjahat dan keturunannya.
Mashab Kritis
Mashab ini menggunakan pendekatan:
1. Interaksionis
Kejahatan dipandang sebagai suatu perbuatan atau perilaku yang menyimpang secara sosial. Definisi kejahatan tergantung keadaan sosial.
Tiga konsep dasar pada pendekatan ini:
1. 1. Manusia berperilaku berdasarkan arti sesuatu yang melekat (inheren) pada perilaku tersebut
2. 2. Arti dari sesuatu timbul atau ditafsirkan berdasarkan interaksi sosial
3. 3. Pemberian arti terhadap sesuatu tersebut berlangsung secara terus-menerus
2. Pendekatan Konflik
Pendekatan ini beranggapan bahwa hukum berisi nilai-nilai yang tidak mencerminkan keinginan seluruh masyarakat tetapi hanya mencerminkan keinginan dari sekelompok warga masyarakat yang memiliki kekuasaan dalam bidang politik, ekonomi dan sosial. Hukum dibuat untuk melindungi nilai dan kepentingan kelompok yang berkuasa. Definisi kejahatan ditentukan oleh penguasa.
Pendekatan ini dibagi dua sub pendekatan:
1. 1. Non-Marxis; menghendaki hukum pidana diubah menjadi lebih baik
2. 2. Marxis; menghendaki perubahan hukum pidana dilakukan oleh orang yang memang benar-benar bersih, kata lain perubahan struktural
Empat syarat yang harus diperhatikan untuk menggunakan Mashab kritis:
1. 1. Harus ada satu metodologi yang dapat digunakan untuk menggali kekayaan dunia penjahat dan metodologi yang dapat menghargai bermacam masalah yang dihadapi penjahat
2. 2. Memperhatikan dampak yang ditimbulkan oleh lembaga-lembaga hukum terhadap realitas sosial penjahat
3. 3. Aspek kriminal dan non kriminal satu sama lain salin berhubungan erat
4. 4. Kejahatan dan penjahat merupakan hasil dari interaksi antara atauran-aturan, pembentukan hukum, penegakan hukum dan pelanggaran hukum.
TEORI
Teori Kriminologi yang Positif
A. Teori-teori yang berpusat pada keanehan dan keabnormalan si individu
Teori-teori tipe fisik
Teori tipe ini berlandaskan pada pendapat umum bahwa terdapat perbedaan-perbedaan biologis pada tingkah laku manusia. Sesoramg bertingkah laku berbeda, karena ia memiliki struktur yang berbeda. Sesungguhnya tingkahlaku jahat seseorang merupakan cacat-cacat biologis dan inferioritas. Yang tergolong dalam teori ini adalah:
1. 1. Fisiognomi dan frenologi. Teori Fisiognomi berlandaskan pada hubungan antara raut muka dengan kelakuan Manusia. Ciri-ciri kurang baik; pria tidak berkumis, wanita berkumis, mata yang Gelisah, dagu yang lemah. Teori ini mendorong lahirnya frenologi. Teori Frenologi berlandaskan pada otak merupakan alat atau organ pada akal. Teori ini berdalil; lahirnya tengkorak sesuai dengan isinya, akal terdiri dari Kecakapan-kecakapan dan fungsinya, dan kecakapan-kecakapan tersebut bersangkut dengan bentuk otak dan tengkorak. Beberapa kecakapan yang dimiliki seseorang yaitu: cinta birahi, cinta keturunan, keramahan, sifat militan, sifat perusak, sifat mengakui sesuatu sebagai milik, sifat hati-hati, harga diri, ketegasan, sifat meniru, kebaikan, sifat membangun dan lain sebagainya. Kecakapan tersebut dapat digolongkan dalam 3 bagian : naluri-naluri aktif atau rendah, sentimen-sentimen moral, dan kecakapan-kecakapan intelektual. Menurut teori ini kejahatan disebabkan karena naluri-naluri rendah, seperti cinta birahi, cinta keturunan, sifat militan, sifat rahasia.
2. 2. Antropologi Kriminal ; teori ini berlandaskan pada penjahat merupakan interior secara organis. Sedangkan kejahatan adalah hasil daripada pengaruh millieu terhadap organisme manusia yang rendah tingkatannya. Bagi penjahat hanya dapat dilakukan melalui cara eliminasi mutlak atau penumpasan secara total pada orang-orang secara fisik, mental dan moral
3. 3. Teori interioritas dan teori tipe fisik : Kretschmer-Sheldon Teori interioritas berlandaskan pada anggapan tentang adanya interioritas/cacat dasar telah diperkuat dengan pernyataan-pernyataan, bahwa macam-macam tabiat yang dapat dilihat mencerminkan suatu kekurangan dengan mana orang dilahirkan di dunia ini, dan yang bersifat konstitusional. Teori tipe fisik; berlandaskan pada tiga tipe; astenik berhubungan dengan pencurian kecil-kecilan dan pemalsuan, atletik, kebanyakan bersifat schizoprene, tipe ini berhubungan kejahatan kekerasan; piknik pada umumnya circular berhubungan dengan penipuan, pemalsuan dan kejahatan kekerasan; displastik dan campuran berhubungan dengan kejahatan melanggar ketertiban umum dan kesusilaan, tetapi juga dengan kejahatan kekerasan
4. 4. Teori tipe test mental dan kelemahan jiwa; terori ini berlandaskan pada pendapat bahwa penjahat adalah tipe orang -oramg yang memiliki cap tertentu,
5. 5. Teori kewarisan ; teori ini berlandaskan bahwa orang tua yang berperilaku jahat akan diturunkan kepada anaknya
6. 6. Teori psikopati; berlandaskan bahwa kejahatan merupakan kelainan-kelainan dari pelakunya
B. Teori-teori yang berpusat kepada pengaruh-pengaruh kelompok atau pengaruh kebudayaan
1. 1. Hubungan antara kondisi ekonomi dengan kriminalitas; Teori ini berlandaskan bahwa kejahatan dapat terukur melalui statistik
2. 2. Kejahatan sebagai tingkahlaku yang dipelajari secara normal; teori ini berlandaskan bahwa kejahatan merupakan tingkahlaku yang dipelajari seperti kegiatan manusia yang selalu mencerminkan sesuatu dari kepribadiannya dan dari kecakapan-kecakapannya namun berlawanan dengan hukum dan bertentangan dengan kesusilaan dalam masyarakat
Teori konflik kelompok; berlandaskan bahwa definisi kejahatan diberikan oleh kelompok mayoritas kepada kelompok minoritas.
Teori Kriminologi Kritis
I. Interaksionisme simbolik dan pemelajaran sosial. Teori dalam kelompok ini berlandaskan pada
1. 1. Pluralism of selves (kemajemukan diri) ; berpendapat bahwa seseorang mempunyai diri sosial, kesadaran diri dianggap bergantung pada berbagai reaksi dari berbagai individu
2. 2. The looking glass self; berpendapat bahwa; citra tentang penampilan kepada orang lain; citra terhadap penilaiannya tentang penampilan, dan beberapa macam perasaan diri (self feeling) seperti kebanggan
3. 3. Definition of the situation; berlandaskan bahwa bila seseorang mendefinisikan suatu situasi sebagai kenyataan, maka akan nyata dalam akibatnya
4. 4. Interaksionisme simbolik ; berlandaskan bahwa tingkah laku yang dimiliki seseorang merupakan perwujudan dari tingkah laku masyarakat sekitarnya
5. 5. Aktualisasi penyimpangan; berlandaskan bahwa belajar menjadi penyimpang melibatkan suatu proses sosialisasi dimana instruksi rangsangan, persetujuan, kebersamaan, perbincangan gaya hidup bahwa pelaku penyimpangan sendiri mulai mendefinisikannya sebagai biasa dalam kehidupan sehari-hari
II. Teori labeling; berlandaskan bahwa kriminalitas adalah sebuah kata, dan bukan perbuatan atau tindakan, kriminalitas didefinisikan secara sosial dan orang-orang kriminalitas dihasilkan secara sosial dalam suatu proses yang mendorong orang banyak memberikan cap pada kelompok minoritas, dimana dalam banyak hal bahkan memungkinkan mereka memaksakan konsekuensi daripada labeling terseut. Akibatnya orang yang diberi cap cacat mungkin tidak bisa berbuat lain daripada peranan yang telah diberikan kepadanya.
Data terbaru 31 Maret 2001

Pengantar Kriminologi.
Pendahuluan.

Kriminologi sebagai ilmu pengetahuan yang sifatnya masih baru apabila kita ambil definisinya secara etimologis berasal dari kata crimen yang berarti kejahatan dan logos yang berarti pengetahuan atau ilmu pengetahuan, sehingga kriminologi adalah ilmu /pengetahuan tentang kejahatan. Istilah kriminologi untuk pertama kali (1879) digunakan oleh P. Topinard, ahli dari perancis dalam bidang antropologi, sementara istilah yang sebelumnya banyak dipakai adalah antropologi criminal.

Menurut E.H. Sutherland, kriminologi adalah seperangkat pengetahuan yang mempelajari kejahatan sebagai fenomena social, termasuk didalamnya proses pembuatan undang-undang, pelanggaran undang-undang dan reaksi terhadap pelanggaran undang-undang.
Bonger mengatakan bahwa kriminologi adalah ilmu yang mempelajari tentang kejahatan seluas-luasnya.
Sejarah kriminologi.
Meskipun Kriminologi bisa dianggap sebagai ilmu pengetahuan baru yang diakui baru lahir pada abad ke-19 ( sekitar tahun 1850 )bersamaan dengan ilmu sosiologi tetapi karangan-karangan tentang kriminologi bisa ditemukan pada zaman kuno yaitu zaman Yunani dimulai dengan karangan Plato dalam “Republiek” menyatakan antara lain bahwa emas , manusia adalah sumber dari banyak kejahatan sedangkan Aristotelis menyatakan bahwa kemiskinan adalah sumber dari kejahatan.
Kemudian abad pertengahan Thomas Aqunio menyatakan bahwa “ orang kaya memboros-boroskan kekayaanya disaat dia jatuh miskin maka dia akan mudah menjadi pencuri”
Perkembangan hukum pidana pada Akhir abad ke 19 yang dirasakan sangat tidak memuaskan membuat para ahli berfikir mengenai efektifitas hukum pidana itu sendiri, Thomas Moore melakukan penelitian bahwa sanksi yang berat bukanlah faktor yang utama untuk memacu efektifitas hukum pidana buktinya lewat penelitiannya ditemukan bahwa para pencopet tetap beraksi disaat dilakukan hukuman mati atas 24 penjahat di tengah-tengah lapangan. Ini membuktikan bahwa sanksi hukum pidana tidak berarti apa-apa. Ketidakpuasan terhadap hukum pidana, Hukum acara pidana dan sistem penghukuman menjadi salah satu pemicu timbulnya kriminologi
Perkembangan ilmu statistik juga mempengaruhi timbulnya kriminologi. Statistik sebagai pengamatan massal dengan menggunakan angka-angka yang merupakan salah satu pendorong perkembangan ilmu sosial.
Quetelet (1796-1829) ahli statistik yang pertama kali melakukan pengamatan terhadap kejahatan. Dialah yang pertama kali membuktikan bahwa kejahatan adalah fakta yang ada dimasyarakat, dalam penelitiannya Quetelet menemukan bahwa kejahatan memiliki pola-pola yang sama setiap tahunnya maka beliau berpendapat bahwa kejahatan dapat diberantas dengan meningkatkan/ memperbaiki kehidupan masyarakat.
Sarjana lain yang menggunakan statistik dalam pengamatan terhadap kejahatan adalah G Von Mayr ( 1841-1925) ia menemukan bahwa perkembangan antara tingkat pencurian dengan tingkat harga gandum terdapat kesejajaran (positif). Bahwa tiap-tiap kenaikan harga gandum 5 sen dalam tahun 1835 – 1861 di bayern. Jumlah pencurian bertambah dengan 1 dari antara 100.000 penduduk. Dalam perkembangannya ternyata tingkat kesejajaran tidak selalu tampak. Karena adakalanya berbanding berbalik ( invers) antara perkembangan ekonomi dengan tingkat kejahatan.
Sebutan kriminologi sendiri diperkenalkan oleh Topinard ( 1830-1911) seorang ahli antropologi dari perancis.

Aliran Pemikiran Dalam Kriminologi
Yang dimaksud dengan aliran pemikiran disini adalah cara pandang (kerangka acuan, Paradigma, perspektif) yang digunakan oleh para kriminolog dalam melihat, menafsirkan, menanggapi dan menjelaskan fenomena kejahatan.
Oleh karena pemamahaman kita terhadap dunia social terutama dipengaruhi oleh cara kita menafsirkan peristiwa-peristiwayang kita alami/lihat, sehingga juga bagi para ilmuwan cara pandang yang dianutnya akan dipengaruhi wujud penjelasan maupun teori yang dihasilkannya. Dengan demikian untuk dapat memahami dengan baik penjelasan-penjelasan dan teori-teori dalam kriminologi perlu diketahui perbedaan aliran pemikiran/paradigma dalam kriminologi.
Teori adalah bagian dari suatu penjelasan mengenai sesuatu sementara suatu penjelasan dipandang sebagai masuk akal akan dipengaruhi oleh fenomena tertentu yang dipersoalkan didalam keseluruhan bidang pengetahuan. Adapun keseluruhan bidang pengetahuan tersebut merupakan latar belakang budaya kontemporer yang berupa dunia informasi. Hal-hal yang dipercayai ( belief ) dan sikap-sikap yang membangun iklim intelektual dari setiap orang pada suatu waktu dan tempat tertentu.
Didalam sejarah intelektual terhadap masalah “penjelasan” ini secara umum dapat dibedakan dua cara pendekatan yang mendasar yakni pendekatan spiritistik atau demonologik dan pendekatan naturalistic, yang kedua-duanya merupakan pendekatan yang dikenal pada masa kuno maupun modern.
Penjelasan demonologik mendasarkan pada adanya kekuasaan lain atau spirit ( roh). Unsur utama dalam penjelasan spiristik adalah sifatnya yang melampaui dunia empiric; dia tidak terikat oleh batasan-batasan kebendaan atau fisik, dan beroperasi dalam cara-cara yang bukan menjadi subyek dari control atau pengetahuan manusia yang bersifat terbatas.
Pada pendekatan naturalistik penjelasan diberikan secara terperinci dengan melihat dari segi obyek dan kejadian-kejadian dunia kebendaan dan fisik. Secara garis besar pendekatan ini dibagi tiga bentuk sistem pemikiran atau bisa disebut sebagai paradigma yang digunakan sebagai kerangka untuk menjelaskan fenomena kejahatan, adapun ketiga paradigma/ aliran ini adalah aliran klasik, positivisme dan aliran kritis.
a. Aliran Klasik
Aliran ini mendasarkan pada pandangan bahwa intelegensi dan rasionalitas merupakan ciri fundamental manusia dan menjadi dasar bagi penjelasan perilaku manusia, baik yang bersifat perorangan maupun kelompok. Intelegensi mampu membawa manusia untuk berbuat mengarahkan dirinya sendiri, dalam arti lain ia adalah penguasa dari dirinya sendiri. Ini adalah pokok pikiran aliran klasik dengan dilandasi pemikiran yang demikian maka penjahat dilihat dari batasan-batasan perundang-undangan yang ada.
Kejahatan dipandang sebagai pelanggaran terhadap undang-undang hukum pidana, penjahat adalah setiap orang yang melakukan kejahatan. Secara rasionalitas maka tanggapan masyarakat adalah memaksimalkan keuntungan dan menekan kerugian yang ditimbulkan oleh kejahatan. Kriminologi disini sebagai alat untuk menguji sistem hukuman yang dapat meminimalkan kejahatan.
Salah satu tokoh dalam aliran ini adalah Cesare Beccaria ( 1738 – 1794 ) merupakan tokoh yang menentang kesewenang-wenangan lembaga peradilan pada saat itu. Dalam bukunya Dei Delitti e delle pene secara gamblang dia menyebutkan keberatan-kebaratannya atas hukum pidana.
Aliran ini melahirkan aliran Neo-Klasik dengan ciri khas yang masih sama tetapi ada beberapa hal yang diperbaharui antara lain adalah kondisi si pelaku dan lingkungan mulai diperhatikan. Hal ini dipicu oleh pelaksanaan Code De Penal secara kaku dimana tidak memperhitungkan usia, kondisi mental si pelaku, aspek kesalahan. Semua faktor tersebut tidak menjadi pertimbangan peringanan hukuman, penjatuhan hukuman dipukul rata berdasarkan prinsip kesamaan hukum dan kebebasan pribadi.
b. Aliran Positivisme
Aliran pemikiran ini bertolak pada pandangan bahwa perilaku manusia ditentukan oleh faktor-faktor diluar kontrolnya, baik yang berupa faktor biologi maupun kultural. Ini berarti manusia bukanlah mahluk yang bebas untuk mengikuti dorongan keinginannya dan intelegensinya, akan tetapi mahluk yang dibatasi atau ditentukan perangkat biologinya dan situasi kulturalnya. Manusia berubah bukan semata-mata akan intelegensianya akan tetapi melalui proses yang berjalan secara perlahan-lahan dari aspek biologinya atau evolusi kultural. Aliran ini melahirkan dua pandangan yaitu Determinisme Biologik yang menganggap bahwa organisasi sosial berkembang sebagai hasil individu dan perilakunya dipahami dan diterima sebagai pencerminan umum dari warisan biologik. Sebaliknya Determinis Kultural menganggap bahwa perilaku manusia dalam segala aspeknya selalu berkaitan dan mencerminkan ciri-ciri dunia sosio kultural yang melingkupinya. Mereka berpendapat bahwa dunia kultural secara relatif tidak tergantung pada dunia biologik, dalam arti perubahan pada yang satu tidak berarti akan segera membuat perubahan yang lainnya.
Salah satu pelopor aliran positivis ini adalah Cesare Lombrosso (1835-1909) seorang dokter dari itali yang mendapat julukan Bapak Kriminologi Modern lewat teorinya yang terkenal yaitu Born Criminal, Lombrosso mulai meletakkan metodologi ilmiah dalam mencari kebenaran mengenai kejahatan serta melihatnya dari banyak faktor.
Teori Born Criminal ini di ilhami oleh teori evolusi dari darwin. Lombrosso membantah mengenai Free Will yang menjadi dasar aliran klasik. Doktin Avatisme membuktikan bahwa manusia menuruni sifat hewani dari nenek moyangnya. Gen ini dapat muncul sewaktu-waktu dan menjadi sifat jahat pada manusia modern.
Dalam perkembangan teorinya bahwa manusia jahat dapat dilihat dari ciri-ciri fisiknya lewat penelitian terhadap 3000 tentara dan narapidana lewat rekam mediknya beberapa diantaranya telingan yang tidak sesuai ukuran, dahi yang menonjol, hidung yang bengkok.
Pada dasarnya teori lombrosso ini membagi penjahat dengan empat golongan, yaitu :
1. Born Criminal yaitu orang yang memang sejak lahir berbakat menjadi penjahat seperti paham avatisme
2. Insane Criminal yaitu orang termasuk dalam golongan orang idiot, embisil,dan paranoid
3. Ocaccasial criminal atau criminaloid adalah pelaku kejahatan yang berdasarkan pada pengalaman yang terus menerus sehingga mempngaruhi pribadinya.
4. Criminal of Passion yaitu orang yang melakukan kejahatan karena cinta, marah atapun karena kehormatan.

c. Aliran Kritis
Pemikiran Kritis lebih mengarhkan kepada proses manusia dalam membangun dunianya dimana dia hidup. Menurut aliran ini tingkat kejahatan dan ciri-ciri pelaku terutama ditentutakan oleh bagaimana undang-undang disusun dan dijalanka. Sehubungan denga itu maka tugas dari kriminologi adalah bagaimana cap jahat tersebut diterapkan terhadap tindakan dan orang-orang tertentu.
Pendekatan kritis ini secara relatif dapat dibedakan antara pendekatan “interaksionis” dan “konflik”. Pendekatan interaksionis berusaha untuk menentukan mengapa tindakan-tindakan dan orang-orang tertentu didefinisikan sebagai kriminal di masyarakat tertentu dengan cara mempelajari “persepsi” makna kejahatan yang dimiliki masyarakat yang bersangkutan. Mereka juga mempelajari kejahatan oleh agen kontrol sosial dan orang-orang yang diberi batasan sebagai penjahat, juga proses sosial yang dimiliki kelompok bersangkutan dalam mendifinisikan seseorang sebagai penjahat.
Hubungan antara kejahatan dan proses kriminalisasi secara umum dijelaskan dalam konsep “penyimpangan” ( deviance ) dan reaksi sosial. Kejahatan dipandang sebagai bagian dari “penyimpangan sosial” dengan arti tindakan yang bersangkutan “berbeda” dengan tindakan orang pada umumnya dan terhadap tindakan menyimpang ini diberlakukan reaksi yang negatif dari masyarakat.
Menurut pendekatan “konflik” orang berbeda karena kekuasaan yang dimilikinya dalam perbuatan dan bekerjanya hukum. Secara umum dapat dijelaskan bahwa mereka yang memiliki kekuasaan yang lebih besar dan mempunyai kedudukan yang tinggi dalam mendifinisikan kejahatan adalah sebagai kepentingan yang bertentangan dengan kepentingan dirinya sendiri. Secara umum kejahatan sebagai kebalikan dari kekuasaan; semakin besar kekuasaan seseorang atau sekelompok orang semakin kecil kemungkinannya untuk dijadikan kejahatan dan demikian juga sebaliknya.
Orientasi sosio-psikologis teori ini pada teori-teori interaksi sosial mengenai pembentukan kepribadian dan konsep “proses sosial” dari perilaku kolektif.
Dalam pandangan teori ini bahwa manusia secara terus menerus berlaku uintuk terlibat dalam kelompoknya dengan arti lain hidupnya merupakan bagian dan produk dari kumpulan kumpulan kelompoknya. Kelompok selalu mengawasi dan berusaha untuk menyeimbangkan perilaku individu-individunya sehingga menjadi suatu perilaku yang kolektif.
Dalam perkembangan lebih lanjut aliran ini melahirkan teori “kriminologi Marxis” dengan dasar 3 hal utama yaitu; (1) bahwa perbedaan bekerjanya hukum merupakan pencerminan dari kepentingan rulling class (2) kejahatan merupakan akibat dari proses produksi dalam masyarakat, dan (3) hukumj pidana dibuat untuk mencapai kepentingan ekonomi dari rulling class.

Daftar Pustaka

Bonger, W.A , Pengantar Tentang Kriminologi, Pustaka Sarjana, Jakarta 1982
Romli Atmasasmita, Teori Dan Kapita Selekta Kriminologi, Refika Aditama, Bandung 1992
Susanto I.S, Kriminologi, FH Universitas Diponegoro, Semarang, 1995
Topo Santoso & Eva Achjani, Kriminologi, Rajawali Press, 2004
Yoblonsky Lewis, Criminologi Crime and Criminality Fourth Edition, Harper & Row Publhiser, New York, 1990

pendidikan berwawasan demokrasi

In MAULANA ALI AHMAD on Desember 9, 2007 at 9:49 pm

Drs. Cholisin, M.Si.

I. PENDAHULUAN
Dalam era reformasi deawasa ini, diberlakukan kebijakan otonomi yang seluas-luasnya dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Otonomi daerah merupakan distribusi kekuasaan secara vertikal. Distribusi kekuasan itu dari pemerintah pusat ke daerah, termasuk kekuasaan dalam bidang pendidikan. Dalam pelaksanaan otonomi daerah di bidang pendidikan tampak masih menghadapi berbagai masalah. Masalah itu diantaranya tampak pada kebijakan pendidikan yang tidak sejalan dengan prinsip otonomi daerah dan masalah kurang adanya koordinasi dan sinkronisasi. Kondisi yang demikian dapat menghadirkan beberapa hal, seperti : kesulitan pemerintah pusat untuk mengendalikan pendidikan di daerah; daerah tidak dapat mengembangkan pendidikan yang sesuai dengan potensinya. Apabila hal ini dibiarkan berbagai akibat yang tidak diinginkan bisa muncul. Misalnya, kembali pada kebijakan pendidikan yang sentralistis, tetapi sangat dimungkinkan juga daerah membuat kebijakan pendidikan yang dianggapnya paling tepat meskipun sebenarnya bersebrangan dengan kebijakan pusat. Kalau hal ini terjadi maka konflik antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah sulit dihindari. Dalam sejarah konflik kepentingan pusat dan daerah memicu terjadinya upaya – upaya pemisahan diri yang tentunya mengancam disintegrasi bangsa.
Dengan perkataan lain apabila kebijakan pendidikan dalam konteks otonomi daerah tidak dilakukan upaya sinkronisasi dan koordinasi dengan baik, tidak mustahil otonomi tersebut dapat mengarah pada disintegrasi bangsa. Dalam kondisi demikian diperlukan cara bagaimana agar kebijakan pendidikan di daerah dengan pusat ada sinkronisasi dan kordinasi. Juga perlu diusahakan secara sistematis untuk membina generasi muda untuk tetap memiliki komitmen yang kuat untuk tetap dibawah naungan NKRI. Masalah sinkronisasi dan koordinasi kebiajakan pendidikan dan upaya membina generasi muda yang berorientasi memperkuat integrasi bangsa menjadi fokus dalam makalah ini.

II. MENGEMBANGKAN KEBIJAKAN PENDIDIKAN
YANG DEMOKRATIS
Peran negara dalam bidang pendidikan di negara demokrasi seharusnya bersifat akomodatif terhadap kepentingan warga negaranya di bidang pendidikan. Namun peran negara dalam bidang pendidikan bisa saja dilaksanakan dalam rangka melegitimasi dan mempertahankan status-quo. Upaya ini biasanya dilakukan merasuk dalam sistem pendidikan dalam hidden curriculum. Atau menurut Michael W. Aplle politik kebudayaan suatu negara disalurkan melalui lembaga – lembaga pendidikan ( Tilaar, 2003 : 145) . Tentang bagaimana perubahan peran negara dalam pendidikan dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Di era reformasi dan globalisasi dewasa ini, ada kecenderungan kekuasaan negara melemah di desak oleh kekuasaan ekonomi. Indikasinya bisnis pendidikan mulai dirasakan. Maraknya pembukaan program ekstensi atau non-reguler di PTN (Perguruan Tinggi Negeri) ada kecenderungan untuk memperoleh dana ketimbang untuk demokratisasi pendidikan. Sehingga pendidikan semakin elitis. Membesarnya pemungutan biaya yang relatif tinggi tampaknya belum diikuti dengan peningkatan mutu pendidikan. Karena nuansa bisnisnya semakin menguat, maka orang juga mulai mempertanyakan eksistensi lembaga pendidikan sebagai lembaga pelayanan publik.
Fenomena lain berbagai gedung pendidikan beralih fungsi menjadi pusat bisnis. Meskipun pemerintah dikritik bahkan didemo oleh masyarakat yang keberatan, tetapi kebiajakn itu tetap berlangsung . Pemerintah dalam hal ini tampak tidak berdaya menghadapi para pemilik modal .
Masalah mahalnya pendidikan antara lain disebabkan kurang adanya komitmen dari pemerintah maupun partai politik untuk memprioritaskan bidang pendidikan. Ini terlihat dari anggaran pendidikan yang sangat minim. Negara sebagai penanggung jawab utama pendidikan nasional seharusnya menyediakan fasilitas pendidikan yang realistik dan memadai. Secara normatif dalam sejarah pernah ada kebijakan negara yang mengamanatkan anggaran pendidikan 25% dari APBN (Tap MPRS No. XXVII /MPRS/1966). Begitu pula di era reformasi UUD 1945 mengamanatkan anggaran pendidikan 20 % dari APBN. Dalam kenyataan empirik dana pendidikan dewasa ini diperkirakan hanya sekitar 4 % dari APBN. Ironisnya DPR dan partai politik tidak ada yang protes.
Pemerintah Indonesia sampai sekarang belum memiliki political will untuk memprioritaskan pendidikan untuk perbaikan ekonomi dan sumber daya manusia. Sesungguhnya telah banyak bukti seperti dinyakatan Lauritz-Holm Nielson (Lead Specialist for Higher Education, Science and Technology the World Bank) pada acara International Conference Higher Education Reform 2001 di Jakarta bahwa pendidikan tinggi merupakan kunci terpenting dalam pembangunan ekonomi secara global. Akumulasi penguasaan pengetahuan dapat menjadi keunggulan kompetitif suatu negara. Selanjutnya Nielson menyatakan di negara – negara maju, investasi di bidang penelitian dan pengembangan (litbang) bisa mencapai 85 % dari total anggaran litbang seluruh dunia. Di India, Brasil, Cina, dan negara-negara Asia Timur lainnya, anggaran litbangnya mencapai 11 % dari total anggaran litbang dunia. Hanya tersisa 4 % yang dibagi oleh negara – negara sedang berkembang. Dalam kondisi dana litbang yang sangat minim di negara sedang berkembang, Nielson melihat negara –negara sedang berkembang tidak memahami strategi pertumbuhan ekonomi melalui penguasaan pengetahuan. Padahal penguasaan pengetahuan melalui pendidikan pada akhirnya dapat meningkatkan kapasitas keuntungan kompetitif negaranya ( http: / / www. yahoo. com , 1 September 2004).
Begitu pula dewasa ini partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan mulai cenderung memiliki orientasi bisnis yang kuat. Tidak mudah bagi mereka yang berada pada level menengah ke bawah bisa menikmati pendidikan di sekolah swasta. Partisipasi masyarakat dalam menuntaskan wajib belajarpun masih memprihatinkan. Misalnya bisa dilihat indikatornya masih banyaknya usia wajib belajar belum memperoleh pendidikan. Pada tahun 2004 menurut Depdiknas dari 13 juta anak usia 13 – 15 tahun atau usia SMP yang belum tertampung masih sekitar 2, 5 juta anak. Pendidikan alternatif program paket belajar belum mampu mengatasi anak yang belum tertampung. Karena baru sekitar 245.000 yang terlayani melalui 12.871 TBK (Tempat Kegiatan Belajar) di bawah naungan 2 870 sekolah. Kondisi ini masih diperparah sekitar 97 % pelajar SMP terbuka tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi dikarenakan factor ekonomi atau tidak adanya sekolah lanjutan di tempat tinggal mereka (Kompas, 19 Juli 2004).
Dalam era reformasi ada kesan pengembangan kebijakan pendidikan tampak demokratis. Misalnya, antara lain tampak dengan dikembangkannya Kurikulum 2004 (Kurikukulum Berbasis Kompetensi), MBS (Manajemen Berbasis Sekolah), Komite Sekolah. Hal ini merupakan upaya penerapan secara konkrit otonomi pendidikan. Tetapi dalam pelaksanaannya masih jauh dari harapan. Kebijakan pelaksanaan UAN (Ujian Akhir Nasional) sebagai dasar untuk menentukan kelulusan dinilai tidak sinkron dengan otonomi daerah. Karena berakibat dapat mengurangi otonomi kewenangan akademik guru dan daerah (Cholisin : 2004b) . Coba bandingkan dengan negara tetangga Vietnam yang menganut sistem politik otoriter, tetapi dalam hal penentuan kelulusan siswa diserahkan sepenuhnya kepada sekolah. Sekolah menyelenggarakan ujian berdasarkan standar nasional. Disamping itu dilihat dari segi cakupan kompetensi yang diuji dalam UAN dinilai tidak valid , karena hanya mengungkap aspek kognitif. Hal ini dinilai telah mereduksi tuntutan kompetensi dalam KBK yang mengharuskan ketiga aspek kompetensi yakni kognitif, afektif dan psikomotorik untuk dievaluasi.
Di berbagai daerah baik provinsi maupun kabupaten/kota masih enggan untuk melaksanakan ketentuan anggaran pendidikan sebesar 20% dari APBD. Oleh karena itu dewasa ini biaya pendidikan dirasakan oleh masyarakat semakin relatif mahal. Meskipun pengeluaran penduduk untuk pendidikan di Indonesia (tahun 2001 – 2002) masih rendah yakni 1,3 % dari total PDB sebesar 662,9 miliar dollar AS (lihat Tabel 2.). Pada sisi lain banyak fasilitas pendidikan yang jauh dari layak. Sementara itu rakyat tidak banyak bisa berbuat banyak untuk mempengaruhi perumusan kebijakan pendidikan.
Muchtar Bukhori salah seorang pakar pendidikan Indonesia menilai” Kebijakan pendidikan kita tak pernah jelas. Pendidikan kita hanya melanjutkan pendidikan yang elite dengan kurikulum yang elitis yang hanya bisa ditangkap oleh 30 % anak didik”, sedangkan 70% lainnya tidak bisa mengikuti. (Kompas, 4 September 2004). Padahal kondisi daerah di Indonesia dilihat dari sisi SDM-nya sangat kompleks. Maka tidak mengherankan apabila banyak terjadi kejanggalan, misalnya daerah yang SDA-nya tinggi tetapi SDM-nya rendah. Papua, Kalimantan Tengah dapat dicontohkan dalam kasus ini. Kondisi ini semakin mempersulit mewujudkan pendidikan yang egalitarian dan SDM yang semakin merata di berbagai daerah.
Kesenjangan di atas, apabila tidak segera dilakukan pembuatan kebijakan pendidikan yang jelas orientasinya dapat memicu disintegrasi. Orientasi kebijakan pendidikan yang diperkirakan dapat memperkuat integrasi nasional adalah meningkatkan mutu SDM dan pemerataannya di daerah. Pengembangan SDM menjadi kebutuhan mendesak, karena dibandingkan dengan negara tetangga masih rendah (lihat Tabel. 3 di bawah ini).

Tabel.4. Human Developmen Index (UNDP : 2004)
(177 countries)
001. Norway
002. Sweden
003. Australia
004.Canada
____________
009. Japan
025. Singapura
033. Brunai Darussalam
___________________
058. Malaysia
076. Thailand
083. Philippines
111. Indonesia

Sumber : Ki Supriyoko (2004). “ Meningkatkan Profesionalisme Membangun Citra Guru di Indonesia”, p. 1.

Dengan demikian kebijakan pemerintah pusat lebih pada pengendalian mutu, sedangkan daerah diberikan keluasan untuk secara kreatif mengembangkan berbagai kebijakan teknis yang dianggap tepat dengan berpedoman pada mutu standar nasional.

III. PENDIDIKAN DEMOKRASI
DALAM RANGKA INTEGRASI BANGSA
Adalah John Dewey ( dalam Tilaar, 2003) filosof pendidikan yang melihat hubungan yang begitu erat antara pendidikan dan demokrasi. Dewey mengatakan bahwa apabila kita berbicara mengenai demokrasi maka kita memasuki wilayah pendidikan. Pendidikan merupakan sarana bagi tumbuh dan berkembangnya sikap demokrasi. Oleh karena itu, pendidikan tidak dapat dilepaskan dari penyelenggaraan negara yang demokratis.
Pendidikan demokrasi sebagai upaya sadar untuk membentuk kemampuan warga negara berpartisipasi secara bertanggung jawab dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sangat penting. Kemampuan partisipasi politik warga negara ini diperlukan agar demokrasi dalam arti pemerintahan dari mereka yang diperintah bisa berkembang secara maksimal. Karena kalau hanya mempercayakan kepada para pelaku dalam sistem politik dirasa kurang efektif. Lebih-lebih dewasa ini ada kecenderungan melemahnya moralitas publik di kalangan pejabat publik/ politisi. Melemahnya moralitas publik ditandai dengan merembaknya ‘demokratisasi korupsi’. Begitu pula dalam konteks otonomi daerah, ruhnya ada pada partisipasi masyarakat dalam perumusan dan pelaksanaan kebijakan publik di daerah masing-masing.Tanpa partisipasi masyarakat otonomi itu akan mati. Dengan kata lain demokrasi itu dapat diumpamakan sebagai jiwa dan otonomi daerah itu adalah pengejawantahannya.
Dengan tingginya partisipasi rakyat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, maka dapat mendorong pada terwujudnya pemerintah yang transparans dan akuntabel. Pemerintah yang demikian merupakan pemerintah yang demokratis, dekat dengan rakyat sehingga menjadi perekat bangsa.
Sedangkan pentingnya pendidikan demokrasi antara lain dapat di lihat dari nilai – nilai yang terkandung di dalam demokrasi. Nilai-nilai demokrasi dipercaya akan membawa kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik dalam semangat egalitarian dibandingkan dengan ideologi non-demokrasi.

Menurut Dahl (2001) keuntungan dari demokrasi sebagai berikut :
1. Demokrasi menolong mencegah tumbuhnya pemerintahan oleh kaum otokrat yang kejam dan licik.
2. Demokrasi menjamin bagi warga negaranya dengan sejumlah HAM yangtidak diberikan dan tidak dapat diberikan oleh sistem-sitem yang tidak demokratis.
3. Demokrasi menjamin kebebasan pribadi yang lebih luas bagi warga negaranya daripada alternatif lain yang memungkinkan.
4. Demokrasi membantu rakyat untuk melindungi kepentingan dasarnya.
5. Hanya pemerintahan yang demokratis yang dapat memberikan kesempatan sebesar – besarnya bagi orang – orang untuk menggunakan kebebasab untuk menentukan nasibnya sendiri, yaitu untuk hidup di bawah hukum yang mereka pilih sendiri.
6. Hanya pemerintahan yang demokratis yang dapat memberikan kesempatan sebesar-besarnya untuk menjalankan tanggungjawab moral.
7. Demokrasi membantu perkembangan manusia lebih total daripada alternatif lain yang memungkinkan.
8. Hanya pemerintahan yang demokratis yang dapat membantu perkembangan kadar persamaan politik yang relatif tinggi.
9. Negara – negara demokrasi perwakilan modern tidak berperang satu sama lain.
10. Negara – negara dengan pemerintahan demokratis cenderung lebih makmur daripada negara – negara dengan pemerintahan yang tidak demokratis.
Dalam pendidikan demokrasi menekankan pada pengembangan ketrampilan intelektual (intellectual skill), ketrampilan pribadi dan sosial (personal and social skill) (Zamroni, 2003). Ketrampilan intelektual menekankan pada pengembangan berpikir kritis siswa. Selama ini tampak ditekankan pada kegiatan mengakumulasi/menabung pengetahuan sebanyak mungkin kepada siswa (knowledge deposite).
Ketrampilan pribadi ditekankan pada pengembangan kepercayaan diri dan harapan-harapan diri terhadap sistem politiknya. Harapan itu misalnya bahwa sistem politik akan mengakomodasi berbagai kepentingan dirinya sebagai warga negara. Dalam kenyataan ada kecenderungan siswa dipolakan pada ketergantungan yang sangat tinggi terhadap pemerintah atau pihak lain. Sedangkan ketrampilan sosial ditekankan pada kemampuan emphatic dan respek pada orang lain, berkomunikasi dan toleransi.
Dalam pendidikan demokrasi tampak ada tuntutan kepada sekolah untuk mentransfer pengajaran yang bersifat akademis ke dalam realitas kehidupan yang luas di masyarakat. Dengan perkataan lain praktek pembelajaran dilakukan dengan materi yang substansial (konsep teori yang sangat selektif) tetapi kaya dalam implementasi. Di masa lalu pendidikan demokrasi tidak berkembang. Hal ini bisa dicontohkan pada kasus PPKn/PKn. (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan/ Pendidikan Kewarganegaraan). PPKn (versi Civic Education Indonesia) dikembangkan secara indoktrinasi, mengakumulasi pengetahuan yang kurang bermakna, bersifat hegemonic dan sering dikritik anti realitas. Nilai – nilai pluralisme di abaikan. PKn yang seharusnya dikembangkan sebagai pendidikan untuk membentuk karakter bangsa diabaikan. Sebagai pendidikan yang mengarah pada pembentukan karakter bangsa seharusnya PKn menerapkan pendekatan pendidikan multikultural ( proses transformasi cara hidup menghormati, toleran terhadap keanekaragaman budaya yang hidup dalam masyarakatnya yang plural), tetapi juga diabaikan. Padahal PKn memang merupakan pendidikan untuk mengakomodasi subyek didik yang berasal dari berbagai kadang politik, etnis dan tradisi yang berbeda – beda. Lebih – lebih dewasa ini dengan dikembangkannya otonomi daerah di bidang pendidikan, maka peran PKn menjadi sangat strategis. Karena otonomi daerah di bidang pendidikan berarti “ pendidikan bukan hanya menjadi tanggung jawab daerah tetapi juga merupakan refleksi dari identitas daerah atau budaya daerah dalam rangka pembinaan kesatuan dan persatuan nasional “(Tilaar, 2003 : 182-183).
Ketika Indonesia menjadi negara merdeka, proses menjadi bangsa Indonesia terus berlangsung ( masih dalam proses pembentukan). Penduduk Indonesia baru lebih merupakan sejumlah kumpulan kelompok etnis dan ras tertentu. Sehingga tidak mengherankan dalam perjalanan sebagai negara merdeka, NKRI sering dihadapkan pada terjadinya konflik sosial yang keras dan gerakan separatis yang sangat potensial menimbulkan disintegrasi bangsa. Pada negara bangsa yang demikian, “bangsa itu akan terbentuk ketika telah adanya kesepakatan bentuk partisipasi politik dan rezim politik (konstitusi) yang hendak dikembangkan” ( Ramlan Surbakti, 1992). Kesepakatan ini mulai menemukan bentuknya pada era reformasi ini.
Pengembangan PKn ke depan sebagai pendidikan demokrasi (seperti tampak pada Kurikulum 2004) , tidak hanya sebatas mengembangkan warga negara yang demokratis, tetapi juga hendak mengembangkan pemberdayaan warga negara (citizen empowerment), memfungsikan sebagai pendidikan multikultural, memperkokoh nasionalisme dengan menekankan pendekatan political nation untuk melengkapi pendekatan lama yakni cultural nation. Pendidikan demokrasi melalui PKn difokuskan pada peletakkan dasar yang kokoh bagi berkembangnya civil society sebagai basis negara demokrasi.
Untuk keberhasilan pendidikan demokrasi seperti di atas, diperlukan kondisi berkembangnya kultur demokrasi. Ruy ( dalam Zamroni, 2003) mengemukakan ada 4 ciri kultur demokrasi, 1) merupakan budaya campuran dari berbagai nilai-nilai dari ideologi politik yang berbeda – beda; 2) bersumber pada budaya umum dan bersifat horizontal; 3) didasarkan pada masyarakat sipil (civil society); 4) merupakan keterpaduan dari berbagai segmen masyarakat (kelompok kecil masyarakat tercermin dalam norma dan perilaku masyarakat secara keseluruhan).
Ideologi – ideologi politik di Indonesia memang beragam tetapi kini kian mencair. Hal itu bisa dilihat begitu mudahnya terjadi koalisi antara partai politik yang berbeda ideologi. Kini (menjelang pemilihan Presiden tahap kedua, 20 September 2004 ) muncul Koalisi Kebangsaan (KK) dan Koalisi Kerakyatan (KKr). KK yang terdiri dari PDI-P, Partai Golkar, PPP, PDS dan PBR. Sedangkan KKr terdiri atas Partai Demokrat, FKPI, PBB dan PKS. Polarisasi ini menurut Tamrin Amal Tomagola (2004) membelah bangsa ini menurut garis wilayah, kelas, tingkat modernitas dan ideologi. Polarisasi ini berkutub saling berseberangan dengan titik singgung yang terbatas, kekentalan luar-Jawa versus kekentalan Jawa, perkotaan vs pedesaan, kelas menengah vs kelas bawah, modernis vs tradisional, individualisme vs komunalisme dan dominasi sipil vs dominasi militer.
Gambaran polarisasi di atas, tampak memberikan kesan masih kentalnya dasar ideologi atau aliran, tetapi kesan yang lebih kuat koalisi itu dibangun atas dasar bagi – bagi kekuasaan (‘politik dagang sapi’). Dalam kenyataan, ada kecenderungan pragmatisme dan materialisme-lah yang menjadi ideologi partai politik. Berpolitik untuk memperjuangkan idealisme seperti yang tercermin dalam ideologi politik merupakan barang langka. Berpolitik untuk meperjuangkan kepentingan publik telah berganti sebagai mata pencahariaan. Berbagai kasus korupsi dikalangan pejabat publik di pusat maupun daerah mencerminkan melemahnya moralitas publik. Padahal moralitas publik merupakan perekat bangsa. Karena dalam moralitas publik kewenangan dalam membuat dan melaksanakan kebijakan, kewenangan mengalokasikan anggaran, proyek, jabatan, dan pelayanan publik, dan pengadaan dan penggunaan asset pemerintah harus diperuntukan bagi kepentingan publik, untuk semua warga negara tanpa diskriminasi.
Dalam kondisi perpolitikan tersebut di atas, maka pendidikan demokrasi telah kehilangan referensi bagaimana berpolitik yang berorientasi pada idealisme dan berpolitik yang bermoral. Oleh karena itu di kalangan masyarakat dewasa ini seperti tampak dalam pemilihan presiden ada fenomena melemahnya politik aliran dan menguatnya mesianisme (memilih karena figure, pemimpin yang mampu memberikan kesejahteraan dan keadilan atau ratu adil). Namun baik pemilih yang masih berkutat pada pertimbangan domain politik aliran dan mesianisme sama –sama masih dalam tataran pemilih emosional. Pemilih rasional tampak belum berkembang. Ini merupakan tantangan bagi pendidikan demokrasi yang berkehendak untuk mengembangkan berpolitik (memilih) secara rasional. Berpolitik rasional inilah diharapkan dapat mencegah berbagai perilaku politik yang mengarah pada konflik sosial. Dengan demikian berpolitik rasional yang dibarengi dengan komitmen moral yang tinggi merupakan unsur penting bagi pengembangan rasa kebangsaan yang kuat.
Pada sisi lain budaya umum yang bersifat horizontal yang penting bagi pendidikan demokrasi masih belum berkembang. Kultur feodalistik-lah yang berkembang. Hal ini terlihat hubungan patron-klien masih sangat kuat. Penguasa yang semestinya menjadi pelayan publik justru minta dilayani oleh masyarakat. Egalitarianisme tidak berkembang. Budaya politik demokrasi atau budaya politik kewarganegaraan (Almond & Verba, 1984) yang merupakan budaya campuran dari budaya politik partisipan, subyek dan parokhial tidak berkembang secara proporsional. Budaya politik subyek yang ditandai oleh kepatuhan tanpa sikap kritis terhadap penguasa berkembang melampaui dua budaya politik yang lain. Hal ini disebabkan antara lain kuatnya obsesi elite baik pada masa Orde Lama dan Orde Baru pada kekuasaan.
Dalam masa Orde Baru Ong Hok Ham (2002) mengambarkan bahwa obsesi elite Orde Baru (kekuasaan Soeharto yang terdiri dari berbagai aliansi militer , politik, bisnis, dll.) terhadap kekuasaan, jabatan, dan status segila obsesi orang Cina terhadap uang. Obsesi – obsesi tersebut turut menegakkan orde patrimonial dan praetorian di Indonesia. Adnan Buyung Nasution (Kompas, 15 Agustus 2004) dalam konteks ini menyatakan pada zaman Orde Lama siapa dekat kekuasaan selamat, dan akan maju. Akhirnya orang tersebut menjilat pada kekuasaan. Di zaman Soeharto kekuasaan itu ditambah dengan materi. Kalau di zaman Soekarno kekuasaan itu memiliki tujuan yang dianggap luhur karena waktu itu untuk revolusi. Dalam revolusi masih ada sesuatu yang ideal. Lepas benar atau tidak, revolusi untuk sesuatu yang dianggap luhur. Dalam zaman Soeharto kekuasaan lebih ditekankan pada tujuan ekonomi, orang mengejar materi kekayaan, kemewahan ataupun uang.
Sementara itu unsur kultur demokrasi yang berupa masyarakat sipil masih lemah. Hal ini ditandai antara lain :(1) mudahnya berkembang tindakan kekerasan baik oleh pemerintah maupun masyarakat, seperti tampak dalam pelanggaran hak asasi manusia (HAM); (2) belum kuatnya penghargaan dan toleransi terhadap pluralisme tampak pada mudahnya berkembang konflik sosial; (3) asosiasi dalam masyarakat yang mestinya independen tetapi mampu mengendalikan masyarakat politik (political society) kenyataannya mudah dihegemoni oleh penguasa maupun menjadi kepanjangan kepentingan kekuatan politik. Bahkan ada kesan mengundang kekuatan politik untuk mengkooptasi. Hal ini diperparah karena ternyata sosialisasi politik yang berkembang seperti dinyatakan Afan Gafar ( dalam Cholisin, 2004a) belum memunculkan civil society. Indikatornya antara lain (1) dalam masyarakat kita, anak-anak tidak didik menjadi insan mandiri. Anak – nak bahkan mengalami alienasi politik dalam keluarga. Sejumlah keputusan penting dalam keluarga, termasuk keputusan nasib si anak, merupakan domain orang dewasa, anak – anak tidak dilibatkan sama sekali. (2) tingkat politisasi sebagain besar masyarakat kita sangat rendah. Ikut terlibat dalam wacana publik tentang hak – hak dan kewajiban warga negara, hak asasi manusia dan sejenisnya, bukanlah skala prioritas penting. Hal ini senada dengan pendapat yang dinyatakan Prof. Sutton dalam konferensi internasional tentang Civic Education and Multiculturalism di Universitas Negeri Padang, 13 Juli 2002 ( Tilaar, 2003: 182) ” It not enough to learn what of democracy is it also necessary to teach children and youth how to be apart of democracy”.

IV. PENUTUP
Kebijakan pendidikan seharusnya bersifat akomodatif terhadap aspirasi rakyatnya sebagai konsekuensi Indonesia menganut sistem politik demokrasi. Dengan diberlakukan otonomi daerah yang termasuk di dalamnya otonomi bidang pendidikan, maka kebijakan pendidikan yang demokratis telah mendapat wadah pengejawantahannya secara jelas. Namun dalam pelaksanaannya kebijakan pendidikan Indonesia secara umum dinilai belum memiliki orientasi yang jelas. Untuk itu dalam konteks kepentingan upaya mewujudkan integrasi bangsa perlu kebijakan pendidikan diorientasikan pada peningkatan mutu SDM dan pemerataannya di daerah.
Disamping itu pelaksanaan kebijakan yang ada masih tampak belum adanya koordinasi yang baik antara pusat dan daerah. Kondisi ini diperparah adanya kecenderungan lemahnya kemauan politik pemerintah untuk menerapkan amanat konstitusi terutama menyangkut alokasi dana pendidikan. Lemahnya kemauan politik pemerintah tersebut, tampak tidak dipersoalkan oleh DPR dan Parpol. Ke depan agar supaya kebijakan pendidikan bersifat efektif kontrol DPR dan Parpol harus kuat dan konsisten. Masyarakat juga harus melakukan tekanan (pressure) terus menerus. Hal ini penting karena ada kecenderungan kemauan dan kontrol serta tekanan tersebut lemah karena didominasi oleh pemilik modal (kuasa ekonomi).
Upaya untuk memperkuat integrasi bangsa disamping melalui kebijakan pendidikan yang demokratis juga dapat melalui pendidikan demokrasi. Pendidikan demokrasi akan dapat meningkatkan integrasi bangsa karena merupakan proses transformasi nilai-nilai daris sistem politik nasional yang telah disepakati yakni sistem politik demokrasi. Masalahnya dalam kenyataan budaya demokrasi belum berkembang dengan baik. Budaya politik di Indonesia masih didominasi oleh budaya politik non-demokrasi (feodal). Untuk itu perlu dikembangkan pendidikan demokrasi melalui PKn (Civic Education), partai politik dan asosiasi – asosiasi dalam masyarakat. Strateginya adalah menanamkan pengetahuan demokrasi yang dibarengi dengan memberikan pengalaman hidup berdemokrasi.

orang kasmaran

In Tak Berkategori on Desember 8, 2007 at 10:34 pm

jasmine.jpg

Melati tak pernah berdusta dengan apa yang ditampilkannya. Ia tak memiliki warna dibalik warna putihnya. Ia juga tak pernah menyimpan warna lain untuk berbagai keadaannya, apapun kondisinya, panas, hujan, terik ataupun badai yang datang ia tetap putih. Kemanapun dan dimanapun ditemukan, melati selalu putih. Putih, bersih, indah berseri di taman yang asri. Pada debu ia tak marah, meski jutaan butir menghinggapinya. Pada angin ia menyapa, berharap sepoinya membawa serta debu-debu itu agar ianya tetap putih berseri. Karenanya, melati ikut bergoyang saat hembusan angin menerpa. Kekanan ia ikut, ke kiri iapun ikut. Namun ia tetap teguh pada pendiriannya, karena kemanapun ia mengikuti arah angin, ia akan segera kembali pada tangkainya.

Pada hujan ia menangis, agar tak terlihat matanya meneteskan air diantara ribuan air yang menghujani tubuhnya. Agar siapapun tak pernah melihatnya bersedih, karena saat hujan berhenti menyirami, bersamaan itu pula air dari sudut matanya yang bening itu tak lagi menetes. Sesungguhnya, ia senantiasa berharap hujan kan selalu datang, karena hanya hujan yang mau memahami setiap tetes air matanya. Bersama hujan ia bisa menangis sekeras-kerasnya, untuk mengadu, saling menumpahkan air mata dan merasakan setiap kegetiran. Karena juga, hanya hujan yang selama ini berempati terhadap semua rasa dan asanya. Tetapi, pada hujan juga ia mendapati keteduhan, dengan airnya yang sejuk.

Pada tangkai ia bersandar, agar tetap meneguhkan kedudukannya, memeluk erat setiap sayapnya, memberikan kekuatan dalam menjalani kewajibannya, menserikan alam. Agar kelak, apapun cobaan yang datang, ia dengan sabar dan suka cita merasai, bahkan menikmatinya sebagai bagian dari cinta dan kasih Sang Pencipta. Bukankah tak ada cinta tanpa pengorbanan? Adakah kasih sayang tanpa cobaan?

Pada dedaunan ia berkaca, semoga tak merubah warna hijaunya. Karena dengan hijau daun itu, ia tetap sadar sebagai melati harus tetap berwarna putih. Jika daun itu tak lagi hijau, atau luruh oleh waktu, kepada siapa ia harus meminta koreksi atas cela dan noda yang seringkali membuatnya tak lagi putih?

Pada bunga lain ia bersahabat. Bersama bahu membahu menserikan alam, tak ada persaingan, tak ada perlombaan menjadi yang tercantik, karena masing-masing memahami tugas dan peranannya. Tak pernah melati iri menjadi mawar, dahlia, anggrek atau lili, begitu juga sebaliknya. Tak terpikir melati berkeinginan menjadi merah, atau kuning, karena ia tahu semua fungsinya sebagai putih.

Pada matahari ia memohon, tetap berkunjung di setiap pagi mencurahkan sinarnya yang menghangatkan. Agar hangatnya membaluri setiap sel tubuh yang telah beku oleh pekatnya malam. Sinarnya yang menceriakan, bias hangatnya yang memecah kebekuan, seolah membuat melati merekah dan segar di setiap pagi. Terpaan sinar mentari, memantulkan cahaya kehidupan yang penuh gairah, pertanda melati siap mengarungi hidup, setidaknya untuk satu hari ini hingga menunggu mentari esok kembali bertandang.

Pada alam ia berbagi, menebar aroma semerbak mewangi nan menyejukkan setiap jiwa yang bersamanya. Indah menghiasharumi semua taman yang disinggahinya, melati tak pernah terlupakan untuk disertakan. Atas nama cinta dan keridhoan Pemiliknya, ia senantiasa berharap tumbuhnya tunas-tunas melati baru, agar kelak meneruskan perannya sebagai bunga yang putih. Yang tetap berseri disemua suasana alam.

Pada unggas ia berteriak, terombang-ambing menghindari paruhnya agar tak segera pupus. Mencari selamat dari cakar-cakar yang merusak keindahannya, yang mungkin merobek layarnya dan juga menggores luka di putihnya.

Dan pada akhirnya, pada Sang Pemilik Alam ia meminta, agar dibimbing dan dilindungi selama ia diberikan kesempatan untuk melakoni setiap perannya. Agar dalam berperan menjadi putih, tetap diteguhkan pada warna aslinya, tidak membiarkan apapun merubah warnanya hingga masanya mempertanggungjawabkan semua waktu, peran, tugas dan tanggungjawabnya. Jika pada masanya ia harus jatuh, luruh ke tanah, ia tetap sebagai melati, seputih melati. Dan orang memandangnya juga seperti melati.

Dan kepada melatiku, tetaplah menjadi melati di tamanku. Karena, aku akan menjadi angin, menjadi hujan, menjadi tangkai, menjadi matahari, menjadi daun dan alam semesta. Tetapi takkan pernah menjadi debu atau unggas yang hanya akan merusak keindahannya, lalu meninggalkan melati begitu saja.

Oleh :

Maulana

Cinta sering membuat orang tidak habis pikir. Keberadaannya misterius, sama seperti terorisme. Tetapi, karenanya segalanya menjadi mungkin. Orang bisa terbang ke langit tujuh, juga bisa terjun bebas dari gedung lantai tujuh. Sampai-sampai ada peringatan Hari Valentine 14 Februari, hari cinta seluruh dunia! Entahlah….

Tidak mudah memberikan kesimpulan tentang cinta. Orang, buku, atau film memberikan pengertian yang berbeda tentang cinta. Ada yang mengatakan cinta itu buta, gombal, seks, dan seterusnya. Erich Fromm dalam The Art of Loving mengatakan, cinta itu seni maka butuh pengorbanan, kesabaran, konsentrasi, dan –yang terpenting– kematangan pribadi. Dengan penuh percaya diri, Megan Tresidder dalam The Handbook of Love menjelaskan bahwa tanpa disadari pola-pola cinta telah mempengaruhi perilaku keseharian manusia. Dan (memang) cinta hanya bisa dimengerti oleh yang empunya cerita, yang pernah mengalamainya. Ia selalu hadir berbeda-beda menyertai amukan badai zaman.

Pastinya, cinta yang disebut-sebut kali ini bukan sembarang cinta. Yaitu cinta suci antara laki-laki dan perempuan; cinta yang biasanya dimiliki oleh kaum muda-mudi, katakanlah Romeo dan Juliet, bukan Rama dan Sinta yang telah beranjak tua. Yang terahir ini lebih fokus mengurusi masa depan anak-anak. Kalaupun masih ada cerita cinta di antara mereka, paling tidak kisarannya antara selingkuh, madu, tua-tua keladi, dan seterusnya. Jika diceritakan sudah tidak menarik karena tiada lagi istilah cinta suci atau first love never dies. Makanya berbicara cinta tidak bisa terlepas dari lika-liku kehidupan remaja.

Atau bisa dibaca sebaliknya, kehidupan remaja bisa diamati dari bagaimana cara mereka bercinta? Mungkin itu lebih tepat dialamatkan untuk cinta yang ada di buku-buku sastra, layar kaca atau pentas seni cerita. Karena kisah cinta adalah ritual dan harus dituturkan bersamaan dengan kisah-kisah kehidupan yang lain.

Atau juga bisa dibaca sebaliknya, kisah cinta adalah kisah kehidupan remaja yang sebenarnya. Yang ini, paling tepat dialamatkan untuk film-film atau sinetron Indonesia yang bertemakan cinta. Karena Indonesia dengan karakteristiknya yang unik, berbeda sama sekali dengan negara-negara lain di dunia? Bangsa India yang terkenal gemar sekali mengampanyekan ”cinta dapat mengubah segalanya”, tidak selalu menempatkan cinta sebagai cerita utama dalam film-filmnya. Umumnya, cerita cinta oleh film-film India adalah sekadar ritual yang harus disertakan dalam menceritakan kedunguan polisi, kebejatan sistem hukum dan pemerintahan, penjahat yang selalu dikalahkan oleh ”sang” penegak kebenaran, atau dalam rangka mempromosikan bagaimana idealtipe budaya India kepada dunia.

Apalagi film-film ek-sen bergaya Amerika. Yang pasti, percintaan dalam film James Bond dan sejenisnya hanyalah pemanis cerita utamanya, misalnya, keberanian dan kemenangan jagoan, serta kecanggihan teknologi di era modern. Singkatnya, cinta menurut orang Amerika adalah –meminjam bahasa remaja Indonesia– cerita indah namun tiada arti. Yang berarti adalah cerita utama yang besertaan dengan cerita cinta itu. Dan memang seharusnya demikian.

Bagaimana dengan Indonesia, cerita cinta menjadi kisah utama? Ada yang kembali beralasan, cerita cinta hanya sebagai pengantar cerita. Tetapi, kenapa hanya cerita cinta di perkotaan saja? Wajar saja, karena para produser Jakarta yang berdatangan dari daerah-daerah sudah cukup bangga mempertontonkan problematika dan atau kemajuan-kemajuan yang ada di kota metropolitan Jakarta, yang tidak ada di daerah mereka? Dalam rangka mengejar status modernitas, mereka tidak bangga mempertontonkan apa-apa yang berada di daerah mereka?

Kembali kepada remaja. Anehnya, film atau sinetron yang bertemakan ”murni” cinta justru paling digandrungi. Remaja Indonesia bagian mana yang belum pernah menyaksikan film Ada Apa dengan Cinta (AADC), yang jelas-jelas memakai judul ”cinta”? Lagi pula sudah disinetronkan, ceritanya sengaja diperlama menuruti kebutuhan jam tayang, menyusul sukses cerita asalnya ditepuktangani para penonton.

Bisa dikatakan, film AADC berjasa membangunkan dunia perfilman Indonesia dari tidurnya. Maunya film ini mempertontonkan kehidupan kelompok atau geng remaja perempuan (Cinta, Maura, Milly, Alya dan Karmen) yang bebas dari tekanan orang tua, guru-guru di sekolah, juga teman-teman laki-laki; sebuah eksklusivitas sosial remaja perempuan yang sudah biasa. Tetapi kenapa film-film atau sinetron yang menyusul sukses film AADC mengambil cerita cintanya saja. Atau film AADC-lah yang sengaja mengangkat posisi cinta? Membingungkan. Sebut saja film Eiffel… I’m in Love (EIiL) besutan Nasri Cheppy, 30 Hari Mencari Cinta garapan Sutradara Upi Avianto, Sinetron Cinta SMU, Kalau Cinta Jangan Belagu, dan Inikah Rasanya. Semuanya bertemakan remaja metropolitan dan tentunya tentang percintaan mereka.

Berkali-kali salah satu pabrik rokok menyindir, ”Kalau memang cinta itu buta, buat apa ada bikini”, tapi para produser tidak tersindir sedikit pun untuk terus menggarap film atau sinetron bertemakan cinta. Para penonton juga tidak kapok-kapok menyimak cerita cinta. Malah, perkembangan sinetron-sinetron yang bertemakan cinta semakin menggila. Sekarang, cinta sudah dibuktikan adanya (dalam cerita sinetron) oleh anak-anak usia SD yang sedang lucu-lucunya. Mungkin besok ada sinetron khusus untuk anak-anak usia TK berjudul ”cintaku ketahuan bu guru!”

Tentunya ini bukan saja permasalahan konsumerisme. Kegemaran generasi muda menyaksikan film-film bertemakan cinta bukan hanya karena pihak produser pintar memasarkan produknya. Kalau Ariel Heryanto mengatakan bahasa menunjukkan bangsa, maka kegemaran generasi muda menyaksikan film-film cinta menunjukkan, ya demikianlah mereka. Mempersoalkan lebih dahulu mana antara sutradara dan alur cerita, sama dengan berpusing-pusing memikirkan lebih dahulu mana telur dengan ayam.

Yang fakta, selain mata pelajaran wajib, di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi ada pelajaran ekstrakulikuler bernama ”jadian” dan ”putus”, kalau dulu disebut pacaran. Bahkan demi pelajaran itu, seorang siswa berani mbolos, kalau perlu pindah atau putus sekolah. Yang mahasiswa bisa beralasan, buat apa kuliah kalau tidak menjamin kerja. Malam Minggu yang sedianya disiapkan khusus untuk beristirahat dari belajar semingguan, malah menjadi malam yang panjang, mendalami pelajaran ekstrakulikuler tadi.

Ada apa dengan generasi muda bangsa Indonesia? Gosip percintaan artis mulai ketika syuting, bulan madu, sampai ”keputusan” mereka, dihafalkan habis dan sebagai bahan diskusi di sekolahan atau kampus. Yang mendukung itu, karena pada saat memencet-mencet tombol remote control stasiun televisi, ”gosip” yang satu ini pasti ada. Yang sudah menikah (Rama dan Shinta tadi, atau ayah dan bunda), tidak mau ketinggalan ”wacana” menggosipkan itu saat berada di angkutan umum, obrolan basa-basi dengan rekan kerja di kantor atau sawah, dalam pertemun akhir tahun wali murid dan kepala sekolah, sampai di acara arisan partai.

Tidak apa, demikianlah tentang cinta.

Kalau boleh berpendapat, daripada capai-capai membincangkan moral bangsa Indonesia, lebih baik memikirkan cinta. Keduanya sama-sama tidak bisa dijelaskan sejelas-jelasnya di era materialisme-positivisme, juga sama-sama menimbulkan masalah. Tetapi kata cinta lebih akrab di telinga generasi muda bangsa Indonesia. Mungkin banyak yang tidak mengerti apa itu moral dan siapa yang paling tidak bermoral di antara kita, tetapi generasi muda mana yang tidak mengerti arti sebuah cinta. Tepatnya, mereka lebih berpengalaman soal cinta daripada soal moral. Bukankah pengalaman adalah pintu pertama untuk melakukan serangkaian percobaan ilmiah dan teknologi? Pengalaman mereka dalam ”bercinta” adalah modal utama untuk membahas kehidupan mereka di masa depan dan (kalau perlu) masa depan bangsa Indonesia.

Dan, oleh sebab cinta diyakini tidak pernah bisa dijelaskan dengan kata-kata, yang menjadi pe-er bukan lagi AADC tetapi di balik menjadi DCAA (Dengan Cinta Apa Ada) bangsa Indonesia yang adem ayem gemah lipah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo? Sekali lagi, karena cinta segalanya menjadi mungkin.

mahasiswa unipa menentang kapitalisme

In Tak Berkategori on Desember 8, 2007 at 10:21 pm

Investasi Dan Pertumbuhan Ekonomi

Adam Smith sebagai bapak ilmu ekonomi pertama kali memperkenalkan konsep Kapitalisme melalui bukunya The Wealth of Nations tahun 1776, tetapi sebelum menerbitkan buku ini Adam smith terlebih dahulu menerbitkan sebuah buku yang berjudul The Theory of Moral Sentiments. Sayangnya orang lebih takjub pada karya monumental yang berjudul The Wealth of Nations, padahal syarat-syarat terwujudnya kesejahteraan seperti yang dicita-citakan Smith pada karya monumentalnya itu terdapat dalam buku The Theory of Moral Sentiments.
Konsep kapitalisme yang diusung oleh Smith seolah menemui momentum dengan hadirnya revolusi industri di Inggris dan revolusi prancis. Di prancis konsep Kapitalisme menemukan slogan yakni Laissez Faire dengan tokohnya Jean Baptiste Say. Kedua ekonom ini menganggap bahwa kemakmuran dapat dicapai ketika campur tangan pemerintah dalam ekonomi ditiadakan, dan para pengusaha dibebaskan berusaha seluas-luasnya. Konsekuensi nyata dari pemberlakuan ekonomi kapitalisme ini adalah ekspedisi-ekspedisi yang dilakukan oleh bangsa eropa untuk menemukan bahan-bahan tambang khususnya emas mulai beralih menuju konsep perdagangan, dimana bangsa eropa menjadikan daerah jajahannya sebagai pasar yang potensial untuk menjual barang.
Namun sayangnya konsep kapitalisme ini tidak bisa menemukan titik keseimbangan sehingga persoalan mendasar dalam ekonomi yakni pengangguran tidak dapat dicegah, depresi besar tahun 1930-an menjadi bukti rapuhnya pondasi konsep kapitalisme. John Maynard Keynes dalam buku revolusionernya tahun 1936, The General Theory of Employment, Interest, and Money mengatakan bahwa sesungguhnya kapitalisme tidak stabil dan tidak berkecenderungan full employment, namun untuk mengatasi itu bukanlah nasionalisasi, kontrol terhadap upah-harga, dan intervensi dalam permintaan dan penawaran solusinya. Untuk menjalankan Kapitalisme sesuai dengan relnya menuju kemakmuran, Keynes menawarkan kebijakan defisit, dan melakukan pengeluaran untuk kerja publik yang akan menaikkan permintaan dan memulihkan kepercayaan.
Konsep yang dikemukakan oleh Keynes yang kemudian lebih dikenal sebagai ekonomi Neoklasik karena merupakan pembaharuan ekonomi klasiknya Adam Smith sebenarnya sudah dicoba diterapkan di Indonesia ketika mengalami krisis tahun 1997/98. Namun, penerapan ini tidak cukup memberi efek positif ekonomi Indonesia, memang secara toritik apa yang dikemukakan Keynes sangat logis dan benar, namun sayangnya Keynes tidak melihat faktor lain diluar ekonomi. Inilah kesalahan fatal ekonomi neoklasik yang menganggap dunia ekonomi adalah otonom, dianggap lepas (atau bisa dilepas) dari dunia politik, sosial, hukum, dan moral. Kesalahan fatal lainnya dari ekonom neoklasik menganggap bahwa asumsi-asumsi yang melekat dalam kebijakan ekonomi tidak perlu diungkap/dinyatakan karena diagnosis ekonom selalu disertai asumsi ceteris paribus, dimana faktor lain dianggap tetap sehingga tidak perlu dijelaskan karena semua orang pasti tahu, dan ini bentuk lain dari arogansi ilmu ekonomi neoklasik.
Ekonom Indonesia yang banyak bersekolah di luar negeri yakni Amerika, Eropa dan Australia dengan sangat yakin melakukan pembenaran terhadap konsep yang dikemukakan oleh Keynes. Memang tidak dapat dipungkiri ekonom kita menyimak dengan sangat baik dari dosen-dosennya yang memang menggunakan textbook neoklasik. Bahkan dengan sangat bangganya mereka ajarkan juga hal yang sama kepada anak didiknya di kampus-kampus Indonesia. Mereka juga dengan sangat yakinnya mengatakan investasi merupakan jalan satu-satunya untuk memulihkan ekonomi Indonesia, karena dengan adanya investasi pertumbuhan ekonomi juga akan ikut terdongkrak. Lebih parah lagi investasi yang benar-benar diharapkan adalah masuknya modal-modal asing. Tidak salah jika kemudian banyak dilakukan privatisasi atas aset-aset negara, terutama di kuasai oleh pihak asing. Lahirnya UU Penanaman Modal tahun 2007 merupakan salah satu bukti anjuran ekonom neoklasik dengan jargon investasinya. Dalam UU tersebut penguasaan asing terhadap aset yang berupa lahan/tanah dapat dikuasai sampai 90 tahun, dibandingkan dengan culture stelsel pada zaman pejajahan Belanda yang membolehkan penguasaan lahan oleh asing sampai 70 tahun sungguh sangat keterlaluan.
Anggapan bahwa investasi asing sebagai dewa penolong untuk peningkatan pertumbuhan ekonomi tidak terbukti. Roadshow yang banyak dilakukan oleh pejabat Indonesia mulai dari presiden, wakil dan para menterinya ke berbagai negara untuk menarik investasi belum banyak membawa hasil. Justru lebih banyak uang yang dikeluarkan untuk pembiayaan roadshow tersebut, dan hal tersebut dibebankan pada rakyat lewat APBN. Mungkin kita perlu menengok pada tahun 1997-1998 ketika krisis mencapai puncaknya. Pada saat itu perekonomian Indonesia banyak ditopang oleh investasi asing, namun disaat krisis mereka ini tidak banyak membantu dan justru melarikan modalnya keluar negeri, tanpa persaan bersalah.
Kejadian yang sama tetapi berbeda terjadi saat ini, dimana investasi PMA bergeser dari sektor tradable (berkaitan dengan ekspor dan impor, seperti manufaktur) pada sektor non tradable (tidak terkait ekspor-impor, seperti jasa, telekomunikasi, perdagangan). Artinya investasi asing (PMA) tidak banyak memberi arti bagi ekonomi Indonesia, dan investasi ini banyak berupa merger dan akuisisi, sehingga tidak banyak berpengaruh pada sektor riil. Indikator ini bisa kita lihat pada kenaikan IHSG.
Harapan naiknya investasi sektor swasta dan domestik sebagai penopang pertumbuhan ekonomi seperti yang terjadi pada tahun 1997-1998 tidak terjadi. Keberpihakan pemerintah terhadap investasi ini masih kurang, hal inilah yang turut mendorong turunnya investasi ini pada tahun 2007, sehingga harapan untuk menggerakkan sektor riil sulit terwujud. Terlalu bertopangnya perekonomian Indonesia pada investasi asing perlu dirubah, karena investasi ini paling rawan terhadap kondisi sosial politik dan keamanan. Perlu saatnya bagi pemerintah tidak terlalu mengandalkan investasi asing untuk mengejar pertumbuhan ekonomi. Perbaikan dan pemihakan peraturan investasi bagi investor swasta dan domestik mutlak diperlukan.
Akademia-Forum
Kapitalisme Vs Syariah
Oleh Witono Hidayat Yuliadi
Kesenjangan sosial yang begitu lebar adalah keniscayaan yang harus dilalui ketika kapitalisme menjadi konsep dasar pembangunan ekonomi. Konsep usungan Adam Smith ini menjadikan manusia hanyalah sebuah obyek layaknya mesin yang tidak memiliki sifat kemanusiaan.
Meski konsep ini hampir hilang digilas konsep pembangunan sosialis usungan Karl Marx, namun diakui bahwa kapitalisme adalah konsep yang paling banyak berkembang saat ini. Banyak pihak merasa nyaman mengembangkan konsep kapitalisme dalam program pembangunan ekonomi di berbagai negara, termasuk Indonesia. Hal ini didukung kenyataan bahwa dalam konsep ini memberikan kesempatan seluas- luasnya bagi setiap orang untuk bisa memiliki kekayaan sebanyak- banyaknya.
Dampaknya, ada konsekuensi bahwa hal tersebut menjadikan manusia lupus, serigala bagi sesamanya. Sebab, dari kesempatan yang diberikan untuk menumpuk kekayaannya, tidak terdapat konsekuensi yang melekat atas hak tersebut. Akibatnya, pemodal memiliki kesempatan luas untuk mengembangkan modal. Di sisi lain para pekerja akan tetap menjadi pekerja. Dan, kelompok proletar tanpa keterampilan akan selamanya menjadi kaum pinggiran tanpa kesempatan menjadi lebih baik.
Fenomena dari dampak konsep kapitalisme di Indonesia juga sudah tampak beberapa tahun terakhir ini. Ketika harga BBM melambung diikuti kenaikan berbagai komoditas, masyarakat juga harus antre untuk berebut kebutuhan pokok. Minyak tanah, beras, dan terakhir minyak goreng harus didapatkan dengan perjuangan berjam-jam di bawah terik matahari. Ironisnya, di sisi lain terdapat kelompok masyarakat yang juga terlibat dalam proses antrean, hanya berbeda komoditas yang diantrekan. Mereka saling berebut untuk menjadi kelompok pertama kepemilikan barang mewah seperti mobil, motor besar, bahkan handphone.
Inilah perbedaan dari konsep kapitalis dan konsep syariah dalam proses pembangunan ekonomi bangsa. Meski di sisi lain, keduanya memiliki juga persamaan mendasar yang menjunjung hak manusia dalam upaya pemenuhan kebutuhannya.
Persamaan kedua konsep ini terdapat pengakuan dan penghargaan atas kepemilikan pribadi. Dan, kesempatan ini diberikan seluas- luasnya kepada masing-masing pribadi untuk memupuk kekayaan seluas- luasnya.
Sebaliknya, ada perbedaan mendasar pula yang melekat pada kedua konsep tersebut. Inilah yang menjadi penyebab mengapa konsep kapital mulai banyak ditinggalkan dan dianggap sebagai biang membesarnya angka kemiskinan di bumi ini. Sebab, dalam kapitalisme individu yang diberi keleluasaan untuk memupuk kekayaan tidak diajarkan untuk memiliki kepedulian kepada sesama. Kekayaan yang dihasilkan berhak digunakan keseluruhan untuk memakmurkan diri sendiri. Di sini nyata terlihat betapa konsep ini mengajarkan manusia untuk menjadi egois tanpa peduli kepada sesama.
Dalam konsep syariah, individu wajib untuk tetap menjaga sifat sosialnya atas kekayaan yang dimiliki. Caranya dengan menyisihkan 2,5 persen dari kekayaan yang dimilikinya dalam bentuk zakat yang akan digunakan untuk proses menyejahterakan kaum kurang mampu.
Dengan kesenjangan ekonomi yang kian menganga di Indonesia, jelas ada yang salah dalam proses peletakan dasar konsep pembangunan berbasis kapitalisme. Meski disesumbarkan bahwa pembangunan Indonesia menganut ekonomi Pancasila, dalam praktiknya, kapitalis menjadi ruh pergerakan ekonomi Indonesia. WITONO HIDAYAT YULIADI Mahasiswa Magister Manajemen Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
Jangan agungkan Eropa sebagai keseluruhan. Di mana pun ada yang mulia dan jahat. Di mana pun ada malaikat dan iblis. Di mana pun ada iblis bermuka malaikat, dan malaikat bermuka iblis. Dan satu yang tetap, Nak, abadi : yang kolonial, dia selalu iblis.”
¤ (Pramodya Ananta Toer – Mama, 83) ¤
Kalo tentang kapitalisme, entahlah, saya kok berhenti sejenak untuk merenung dan ingin tahu lebih jauh, ada apa, kenapa dan kata tanya lain yang mengikutinya. Tentang quote diatas, mudah-mudahan masih berhubungan, dan apalagi soal judul, yang seolah-olah saya ini merasa nyaman sebagai bangsa terjajah, menikmati hembusan nafas sebagai yang tertindas dengan bangganya.
Enaknya njongos, njoni dengan perusahaan asing menjadikan pertentangan, dengan menggadaikan segala idealisme kepentingan untuk membuncitkan perut, ternyata kehidupan bergantung dari tetes demi tetes sampah kapitalis.
Bukannya saya tidak setuju dengan ekonomi global, dengan pasar bebas, tapi setidaknya kita mempunyai bargaining yang menguntungkan. Bukan terus menerus berada dibawah, ah.. saya kurang bagus mendiskripsikannya buat anda.
Herannya tak semua dari kawan menyadarinya, semua seolah berlomba menggendutkan perut istri dan anak mereka, setor muka bahkan agama demi posisi untuk melanjutkan nafas berikutnya. Tampaknya ini yang harus dipertaruhkan untuk menang.
“Kau pribumi terpelajar! Kalau mereka itu, pribumi itu, tidak terpelajar, kau harus bikin mereka jadi terpelajar. Kau harus, harus, harus bicara pada mereka, dengan bahasa yang mereka tahu.”
¤ (Pramodya Ananta Toer – Jean Marais, 55) ¤
Jangan agungkan Eropa sebagai keseluruhan. Di mana pun ada yang mulia dan jahat. Di mana pun ada malaikat dan iblis. Di mana pun ada iblis bermuka malaikat, dan malaikat bermuka iblis. Dan satu yang tetap, Nak, abadi : yang kolonial, dia selalu iblis.”
¤ (Pramodya Ananta Toer – Mama, 83) ¤
Kalo tentang kapitalisme, entahlah, saya kok berhenti sejenak untuk merenung dan ingin tahu lebih jauh, ada apa, kenapa dan kata tanya lain yang mengikutinya. Tentang quote diatas, mudah-mudahan masih berhubungan, dan apalagi soal judul, yang seolah-olah saya ini merasa nyaman sebagai bangsa terjajah, menikmati hembusan nafas sebagai yang tertindas dengan bangganya.
Enaknya njongos, njoni dengan perusahaan asing menjadikan pertentangan, dengan menggadaikan segala idealisme kepentingan untuk membuncitkan perut, ternyata kehidupan bergantung dari tetes demi tetes sampah kapitalis.
Bukannya saya tidak setuju dengan ekonomi global, dengan pasar bebas, tapi setidaknya kita mempunyai bargaining yang menguntungkan. Bukan terus menerus berada dibawah, ah.. saya kurang bagus mendiskripsikannya buat anda.
Herannya tak semua dari kawan menyadarinya, semua seolah berlomba menggendutkan perut istri dan anak mereka, setor muka bahkan agama demi posisi untuk melanjutkan nafas berikutnya. Tampaknya ini yang harus dipertaruhkan untuk menang.
“Kau pribumi terpelajar! Kalau mereka itu, pribumi itu, tidak terpelajar, kau harus bikin mereka jadi terpelajar. Kau harus, harus, harus bicara pada mereka, dengan bahasa yang mereka tahu.”
¤ (Pramodya Ananta Toer – Jean Marais, 55) ¤
KAPITALISME
Kapitalisme merupakan sistem ekonomi politik yang cenderung ke arah pengumpulan kekayaan secara individu tanpa gangguan kerajaan. Ini bererti individu samada dari dalam atau dari luar negara berhak untuk memiliki harta benda, industri dan perniagaan dan menambahkan kekayaan mereka. Biasanya dalam sistem ini akan wujud jurang perbezaan yang ketara antara yang kaya dengan yang miskin. Sistem yang bertentangan dengan ideologi ini ialah komunisme dan sosialisme. Kapitalisme berasal dari perkataan kapital yang bermaksud “modal”.
Sifat-Sifat Dasar Sistem Kapitalis
Dalam sebuah perjuangan, kita harus tahu siapa kawan dan siapa lawan. Musuh kita adalah kapitalisme. Tetapi apakah kapitalisme itu?
Jawabannya mungkin tampak sederhana. Kapitalisme bukankah sebuah sistem dimana sejumlah individu yang kaya memiliki pabrik-prabrik dan perusahaan lainnya? Bukankah para kapitalis ini bersaing pada sebuah pasar bebas, tanpa perencanaan yang terpusat, dengan hasil bahwa sistem perekonomian sering jadi kacau dan acapkali mengalami krisis?
Jawaban untuk menghindari keadaan seperti itu juga tampaknya jelas, ialah menyita industri dari para individu itu (nasionalisasi), dan membiarkan negara untuk merencanakan ekonominya.
Menurut kebanyakan orang yang berhaluan kiri, hal-hal diatas dianggap merupakan inti dari ajaran Marxisme. Tetapi dewasa ini permasalahan-permasalahan diatas tidak dapat dilihat sesederhana itu. Pada satu sisi, banyak perusahaan di bawah sistim kapitalis dewasa ini tidak lagi dikontrol oleh para individu. Secara formal perusahaan-perusahaan itu dimiliki oleh para pemegang saham, tapi kenyataannya perusahaan-perusahaan raksasa seperti General Motors dijalankan oleh para pejabat perusahaan. Sedangkan bentuk perusahaan-perusahaan lainnya adalah perusahaan negara seperti BUMN di Indonesia. Namun kaum buruh juga dieksploitasi dalam perusahaan tersebut.
Di sisi yang lain, masyarakat yang telah meninggalkan kepemilikan swasta dan memilih rencana-rencana ekonomi yang terpusat tidak tampak menarik lagi saat ini. Negara-negara seperti di bekas Uni Soviet telah menteror kelas buruhnya, sedangkan para birokrat yang mengelola pabrik-pabrik. Dan pada akhirnya masyarakat itu juga mengalami krisis ekonomi dan politik.
Saat ini Cina mencoba mengambil alih beberapa aspek pasar bebas ke dalam kebijakan ekonomi mereka, karena takut tidak mampu untuk tetap bersaing dengan negara-negara kapitalis barat.
Jadi keseluruhan arti kapitalisme dan sosialisme, dan perbedaan-perbedaan diantara kedua sistem itu, perlu dikaji ulang untuk disesuaikan dengan perkembangan ekonomi dewasa ini.
Disini, ide-ide Karl Marx sangatlah penting. Dia sama sekali tidak menganggap kepemilikan alat-alat produksi oleh individu swasta merupakan masalah utama kapitalisme. Yang ia tolak adalah sebuah situasi dimana alat produksi dikontrol oleh minoritas — dalam berbagai bentuk — untuk mengeksploitasi mayoritas.
Eksploitasi semacam ini mengambil bentuk dalam hubungan sosial di tempat kerja. Yakni para pekerja yang tidak memiliki perangkat produksi, dan tidak memiliki komoditi untuk dijual sehingga mereka harus menjual tenaga kerjanya untuk gaji (wage labour system). Ini berarti mereka tidak memiliki kontrol dari hasil kerjanya. Dalam sebuah sistem ekonomi seperti ini, tidak ada kemungkinan untuk merencanakan perekonomian demi kepentingan masyarakat luas.
Justru sebaliknya, setiap kapitalis akan didorong oleh kompetisi untuk membangun usaha dengan mengorbankan orang lain. Seperti yang dikatakan Marx, ‘Akumulasi! Akumulasi! itu adalah nabi-nabi baginya’. Ini berarti yang kuat memakan yang lemah, dan sistemnya akan turun secara drastis sampai mengalami krisis ekonomi.
Marx, menyebut kondisi seperti ini keterasingan (atau alienasi) pekerja, dan salah satu slogannya yang sangat terkenal adalah ‘penghapusan sistem wage labour”.
Di dunia moderen, modal memiliki bentuk yang bermacam-macam. Di mancanegara terjadi swastanisasi perusahaan-perusahan milik negara. Negara-negara lain seperti Swedia atau Italia masih memiliki sektor negara yang besar, sedangkan di Cina dan Kuba perencanaan ekonominya masih dilakukan secara terpusat.
Tetapi di semua negara itu analisa fundamental Marx masih sangat relevan. Alat-alat produksi masih dikontrol oleh minoritas — meskipun komposisinya sangat bermacam-macam dari para pengusaha individu melalui sektor swasta dan birokrat yang bekerja di sektor publik.
Para pekerja menjual tenaga mereka untuk mendapatkan gaji, dan tidak memiliki kontrol terhadap proses produksi atau barang-barang yang mereka hasilkan.
Produksi dilaksanakan dengan jalan kompetisi, baik dalam skop kecil, persaingan antar perusahaan maupun dalam skop besar atau nasional, antar negara, yang dipimpin oleh aparatus negara.
Kompetisi antar negara juga memiliki bentuk yang lain yaitu kompetisi militer. Bekas negara Uni Soviet selalu mendorong ekonominya berjalan secara efisien, karena harus bersaing dengan Amerika Serikat dalam hal persenjataan. Kaum buruh di Uni Soviet dihisap oleh birokrasi yang tengah berkuasa guna kompetisi militer tersebut. Kami menyebut bentuk ekonomi yang dijalankan oleh rezim Soviet itu “Kapitalisme Negara”.
Apapun bentuk kompetisi itu, hasilnya selalu sama: “Akumulasi! Akumulasi! itulah nabi-nabinya!” Sedangkan para pekerja adalah korbannya. Jadi apa yang perlu dilakukan? Jawabannya ada pada sistem sosialis yang sejati, yang berarti pekerja sendiri yang harus mengontrol proses produksi, dan memproduksi untuk kebutuhan manusia, bukan untuk kebutuhan kompetisi.
Kontrol pekerja terhadap produksi — yang berkaitan erat dengan kontrol mereka secara demokratis terhadap negara — dapat diterapkan di sebuah negara secara sementara. Namun seperti yang kita lihat, tekanan kompetisi berlangsung secara internasional. Maka untuk jangka panjang, sosialisme mesti diciptakan di tingkat internasional.
Apakah sistem kapitalis?
Oleh Muhammad Salleh (September 2002).
Kita kini sedang menghayati sebuah dunia di mana kekayaan sedang diciptakan pada kadar yang tidak dapat dibayangkan oleh generasi-generasi dahulu. Kejayaan-kejayaan teknologi, seperti kejuruteraan genetik dan dunia Internet, sedang berkembang dengan pesat. Semua ini, kita diberitahu, adalah hasil daripada kejayaan sistem kapitalis. Menurut penyokong-penyokong sistem kapitalis di merata dunia, sistem inilah yang telah membolehkan umat manusia mencapai tahap kemajuan yang tinggi, lantas menjadikan sistem kapitalis sebuah sistem sempurna, yang tidak lagi dapat diubahkan.
Memang tidak dapat dinafikan bahawa buat kali pertama dalam sejarah dunia, kita mempunyai kekayaan yang mencukupi untuk memuaskan keperluan-keperluan setiap insan di dunia. Namun, apa yang tidak dikatakan oleh penyokong-penyokong kapitalisme itu adalah bahawa berjuta-juta orang masih mengalami kebuluran, berjuta-juta orang masih mengalami penyakit yang mudah dicegah, kehidupan berjuta-juta orang masih dikecewakan oleh kemiskinan. Masyarakat kita, iaitu masyarakat kapitalis, dikuasai oleh ketidak-samarataan dan ketidak-adilan, sambil kehidupan kita semua diancam oleh krisis ekonomi dan konflik bersenjata. Pada masa apabila sistem kapitalisme masih muda, Karl Marx sudah melihat percanggahan-percanggahan ini dengan jelas, lalu menulis:
Dalam satu tangan, kuasa-kuasa perindustrian dan saintifik telah memasuki kehidupan, yang mana-mana zaman sejarah manusia lalu tidak pernah mengharapkan. Dalam tangan sebelah wujudnya ciri-ciri kereputan, yang jauh melintasi kengerian Empayar Rom. Pada hari-hari ini, semuamya seolah-olah hamil dengan percanggahannya. Jentera, dihadiahkan dengan kuasa memendekkan dan meringankan usaha manusia, kita melihat melaparkan dan membebankan manusia. Sumber-sumber kekayaan luas, oleh sesuatu keajaiban luarbiasa, diubahkan menjadi punca-punca keperluan.
Di sebalik perbincangan-perbincangan seperti ini, terdapat satu persoalan asas, iaitu apakah sebenarnya sistem kapitalis? Apakah ciri-ciri asas sistem tersebut, dan apakah kesan daripada ciri-ciri tersebut? Pada pandangan pertama, jawapan kepada soalan-soalan seperti ini mungkin dikatakan ringkas. Bukankah sistem kapitalis sebuah sistem di mana beberapa individu yang kaya memiliki kilang-kilang, pejabat-pejabat dan perusahaan-perusahaan yang lain? Bukankah pihak kapitalis menyokong pasaran bebas, tanpa apa-apa perancangan terpusat? Namun, dewasa kini, persoalan-persoalan tersebut tidak dapat ditangani dengan begitu mudah. Misalnya, kebanyakan perusahaan gergasi kini tidak lagi dimiliki oleh seorang individu, tetapi mungkin digerakkan oleh pejabat perusahaan atau kerajaan negara. Walau apapun perbezaan-perbezaan ini, yang jelas adalah bahawa para pekerja dan golongan bawahan terus dieksploitasi dan ditindas di bawah sistem kapitalis ini.
Maka, erti kapitalisme perlulah dikaji dengam menyeluruh dan disesuaikan dengan perkembangan ekonomi mutakhir. Dari segi ini, kajian Karl Marx terhadap sistem kapitalis sangatlah penting, kerana, dalam kata-kata Georg Lukacs, teori Marx teori Marx, “meleburkan wajah pertubuhan-pertubuhan sosial yang kaku, tidak bersejarah dan semulajadi; ia mendedahkan punca-punca bersejarah mereka dan maka menunjukkan bahawa ianya tertakluk kepada sejarah dari setiap segi termasuk kemunduran bersejarah.” Marx telah menunjukkan bahawa tindakan manusia pada masa yang lalu telah menciptakan dunia moden, bahkan juga bahawa tindakan manusia dapat membentukkan masa depan yang bebas dari percanggahan-percanggahan kapitalisme.
Berhadapan dengan pendekatan ini, kita perlulah terlebih dahulu mengkaji sejarah sistem kapitalis untuk mengenalpasti ciri-cirinya. Sebelum bangkitnya sistem kapitalis, iaitu semasa wujudnya sistem feudal, manusia belum lagi memajukan cara-cara untuk menguasai dunia semulajadi, atau untuk menghasilkan barangan yang mencukupi bagi setiap insan. Marx telah menulis bahawa kesemua hubungan-hubungan sosial dalam sistem feudal “diikat kepada tahap perkembangan kuasa-kuasa produktif dan tenaga pekerja yang rendah serta hubungan-hubungan terhad di antara manusia dan proses menciptakan dan menghasilkan semula kehidupan materialis mereka, dan maka juga hubungan-hubungan terhad di antara manusia dan alam.”
Dalam sistem feudal, tanah merupakan sumber pengeluaran. Inilah yang dimaksudkan oleh Marx apabila dia menulis bahawa “Dalam permilikan tanah feudal, kita sudah menjumpai penguasaan tanah sebagai kuasa sesuatu yang asing ke atas manusia. Hamba serf adalah sampingan kepada tanah. Serupa dengan itu, pewaris melalui sistem pewarisan feudal, iaitu anak lelaki sulong, dimiliki oleh tanah. Ia mewarisi dia.” Dalam satu tangan, tahap kuasa-kuasa produktif yang rendah bermakna usaha berterusan bagi golongan petani, sambil dalam tangan sebelah, tuan-tuan feudal dan pegawai-pegawai gereja mengambil apa yang mereka menghendaki dari petani dengan kekuasaan.
Hubungan-hubungan sosial dalam masyarakat feudal merupakan hubungan-hubungan penguasaan dan penaklukan, tetapi ia sudah jelasnya merupakan hubungan-hubungan sosial di antara individu-individu. Dari segi ini, batasan-batasan feudalisme sangatlah berbeza daripada dinamik kapitalisme. Pihak borjuasi muda menginginkan sebuah masyarakat di mana segalanya dapat dijual-beli dengan duit. Sebuah masyarakat seperti itu sudah pasti bergantung kepada pembatasan-pembatasan tanah bersama dengan kejam. Ini bermakna bahawa, buat kali pertama dalam sejarah manusia, majoriti masyarakat dinafikan jalan secara langsung kepada pengeluaran dan cara-cara menciptakan kekayaan. Maka, pada abad ke-17 dan ke-18 di Eropah, sebuah kelas pekerja yang tidak memiliki tanah telah ditaklukkan kepada bentuk pengeksploitasian yang baru, iaitu pekerjaan bergaji.

Pendek kata, kapitalisme melibatkan perubahan asas dalam hubungan-hubungan di antara manusia, peralatan-peralatan pengeluaran dan bahan-bahan pengeluaran.” Oleh kerana perubahan-perubahan asas ini, setiap aspek kehidupan manusia telah diubah. Namun, perubahan-perubahan ini hanya dapat dilaksanakan melalui apa yang Peter Linebaugh telah menamakan ‘serangan-serangan perundangan’ pada hujung abad ke-18 untuk memperdayakan kelas pekerja bahawa apa yang mereka menghasilkan sebenarnya dimiliki oleh pihak kapitalis yang memiliki kilang-kilang. Menjelang abad ke-19, pekerjaan bergaji telah menggantikan kesemua bentuk pembayaran yang lain di Eropah.

Kajian Marx terhadap sistem kapitalis muda pada abad ke-19 menunjukkan bagaimana tenaga pekerja telah menjadi sebuah komoditi, yang dapat dijual-beli pada pasaran. Pihak kapitalis dan para pekerja mungkin bebas dari satu sama lain dari mana-mana segi rasmi, tetapi dalam realiti mereka berkait rapat. Pengeluaran barangan tidak lagi berlaku di rumah atau bengkel-bengkel kecil (seperti dalam sistem feudal), tetapi kini berlaku di kilang-kilang baru di mana mekanisasi tenaga pekerja telah mengubah hubungan-hubungan manusia. Dalam karyanya yang terpenting, iaitu Kapital, Marx membandingkan usaha tukang-tukang kraf di bawah sistem feudal dengan pekerja kilang di bawah sistem kapitalis:

Dalam kraftangan dan pengeluaran, para pekerja menggunakan peralatan; di kilang, jentera menggunakan pekerja. Di sana, gerak-geri peralatan tenaga pekerja bergerak baginya, di sini ia adalah gerak-geri jentera yang mesti mengikutinya. Dalam pengeluaran, para pekerja adalah sebahagian daripada mekanisme hidup. Dalam kilang, kita mempunyai mekanisme tanpa kehidupan yang asing daripada pekerja, yang hanya menjadi sampingan hidup.

Salah satu ciri kapitalisme yang paling membinasakan merupakan pembahagian tenaga pekerja. Sebelum kapitalisme, memang terdapatnya pembahagian tenaga pekerja secara sosial, dengan orang-orang berbeza telibat dalam cabang-cabang pengeluaran atau kraf yang berbeza. Dengan kapitalisme telah bangkitnya pembahagian tenaga pekerja secara terperinci dalam setiap cabang pengeluaran. Pembahagian tenaga pekerja ini bermakna bahawa pekerja terpaksa menjadi khusus dalam tugas-tugas tertentu. Maka, tidak menghairankanlah bahawa John Ruskin pernah menulis bahawa pembahagian tenaga pekerja adalah ungkapan palsu kerana ia adalah manusia yang dibahagikan.

Dalam sistem kapitalis, para pekerja semakin bergantung kepada pihak kapitalis yang memiliki cara-cara pengeluaran seperti kilang-kilang dan pejabat-pejebat. Ia menjadi semakin mustahil bagi pekerja untuk hidup secara bebas daripada kapitalisme – jika dia bekerja, dia menjadi ibarat sebuah jentera; jika dia tidak bekerja, dia akan hidup dalam kemiskinan. Marx menulis mengenai para pekerja: “Kewujudan kapital adalah kewujudannya, kehidupannya, kerana ia menentukan kandungan kehidupannya dalam cara yang tidak mempedulikannya.” Pendek kata, para pekerja tidak mempunyai pilihan – bersedia bekerja atau bersedia mengalami kemiskinan. Maka, di bawah kapitalisme, tenaga pekerja menjadi tenaga pekerja yang dipaksa kerana para pekerja tidak dapat memilih untuk tidak bekerja, para pekerja tidak memiliki apa yang diciptakan oleh mereka dan para pekerja tidak dapat memilih apa yang patut diciptakan. Marx menulis:

… pekerja hanya merasai dirinya apabila tidak bekerja; apabila dia bekerja, dia tidak merasai dirinya. Dia berasa selesa apabila tidak bekerja, dan bukannya di rumah apabila dia bekerja. Maka usahanya bukan secara sukarela tetapi dipaksa, ia adalah tenaga pekerja dipaksa. Maka, ia bukan kepuasaan sesuatu keperluan, tetapi hanya cara untuk memuaskan keperluan tersebut secara asing daripadanya. Sifat asingnya ditunjukkan dengan jelas oleh fakta bahawa sesudah apa-apa fizikal atau pemaksaan lain wujud, ia dipulaukan seperti wabak penyakit.

Di sini, kita dapat merumuskan perbincangan di atas dengan kata-kata berikut. Marx sebenarnya tidak menganggap permilikan alat-alat atau cara-cara pengeluaran oleh individu sebagai masalah utama kapitalisme. Dalam kajiannya ke atas sistem tersebut, yang menjadi jelas adalah bahawa dia menolak situasi di mana cara-cara pengeluaran dikuasai oleh sebuah minoriti (iaitu kelas kapitalis atau borjuasi), dengan tujuan mengeksploitasi majoriti (iaitu kelas pekerja). Pengeksploitasian ini dapat mengambil pelbagai bentuk dalam hubungan-hubungan sosial di antara manusia. Seperti yang telah dikatakan di atas, para pekerja tidak memiliki cara-cara pengeluaran, dan terpaksa menjual satu-satunya komoditi yang dimiliki mereka, iaitu tenaga pekerja mereka. Inilah satu sebab mengapa kemungkinan untuk merancangkan jalan-jalan ekonomi demi kepentingan masyarakat umum tidak dapat bangkit dalam keadaan seperti ini.

Tambahan pula, setiap kapitalis didoring untuk bersaing demi memajukan perusahaannya sambil mengorbankan orang yang lain. Marx telah melaungkan: “Akumulasi! Akumulasi! Itulah nabi-nabi baginya.” Ini bermakna bahawa kapitalis yang kuat memakan kapitalis yang lemah, dan bahawa sistem kapitalis akan merosot dengan dramatik apabila mengalami krisis ekonomi.

Sejak abad ke-19, sistem kapitalis ini telah menyebar ke setiap penjuru dunia, dan mungkin tidak terdapatnya negara yang bebas daripada cengkamannya. Inilah sebab utama mengapa kajian Marx sangatlah relevan dan penting pada hari ini. Cara-cara pengeluaran masih dikuasai oleh golongan minoriti, biarpun di sebuah negara membangun seperti Malaysia atau sebuah negara maju seperti Amerika Syarikat. Walaupun bentuk persaingan kapitalis mungkin berbeza dari satu tempat ke tempat yang lain, hasilnya sentiasa sama: “Akumulasi! Akumulasi! Itulah nabi-nabi baginya.” Dan para pekerjalah yang menjadi mangsa.

Maka, apa yang dapat dilakukan? Kajian Marx juga telah mengenalpasti kelas pekerja sebagai unsur yang dapat menumbangkan sistem kapitalis dan mengubah masyarakat. Walaupun pihak borjuasi atau kelas pemerintah dapat menggunakan penguasaan mereka ke etas ekonomi untuk menguasai kanca politik melalui kerajaan, tentera dan polis, kejayaan sistem mereka juga mewujudkan sebuah kelas yang mempunyai kuasa untuk membebaskan seluruh umat manusia – iaitu kelas pekerja. Kelas pekerja ini tidak mengenali warna kulit, jantina, orientasi seksual, mahupun sempadan negara. Hanya kelas pekerja sendiri yang dapat membina sebuah masyarakat tanpa keperluan dan tanpa diktator kerana kelas pekerja sememangnya berbeza daripada kelas-kelas yang lain. Kini terdapatnya beratus-ratus juta pekerja dan jumlah mereka semakin meningkat setiap hari. Kerana kapitalisme merupakan sistem antarabangsa, ia terus mengembang dan mengerjakan mereka yang suatu hari nanti akan memusnahkan sistem kapitalis itu.

Kemampuan unik kelas pekerja untuk mengubah dunia berpunca dari kedudukan kelas tersebut dalam sistem kapitalisme. Secara asasnya, kapitalisme menarik penduduk dari desa dan menghimpunkan mereka di tempat-tempat bekerja yang besar. Maka, para pekerja mendapati bahawa mereka telah menjadi sebahagian daripada unit yang melibatkan beratus-ratus atau beribu-ribu orang. Untuk mencapai pembaikan dalam keadaan mereka, para pekerja perlulah bertindak secara kolektif, dengan melibatkan rakan-rakan sekerja mereka. Untuk mengubah dunia, kelas pekerja perlulah bersatu di bawah panji-panji demokratik lagi sosialis.
Kapitalisme merupakan sistem ekonomi politik yang cenderung ke arah pengumpulan kekayaan secara individu tanpa gangguan kerajaan. Ini bererti individu samada dari dalam atau dari luar negara berhak untuk memiliki harta benda, industri dan perniagaan dan menambahkan kekayaan mereka. Biasanya dalam sistem ini akan wujud jurang perbezaan yang ketara antara yang kaya dengan yang miskin. Sistem yang bertentangan dengan ideologi ini ialah komunisme dan sosialisme. Kapitalisme berasal dari perkataan kapital yang bermaksud “modal”. Apakah sistem kapitalis?
Oleh Muhammad Salleh (September 2002).
Kita kini sedang menghayati sebuah dunia di mana kekayaan sedang diciptakan pada kadar yang tidak dapat dibayangkan oleh generasi-generasi dahulu. Kejayaan-kejayaan teknologi, seperti kejuruteraan genetik dan dunia Internet, sedang berkembang dengan pesat. Semua ini, kita diberitahu, adalah hasil daripada kejayaan sistem kapitalis. Menurut penyokong-penyokong sistem kapitalis di merata dunia, sistem inilah yang telah membolehkan umat manusia mencapai tahap kemajuan yang tinggi, lantas menjadikan sistem kapitalis sebuah sistem sempurna, yang tidak lagi dapat diubahkan.
Memang tidak dapat dinafikan bahawa buat kali pertama dalam sejarah dunia, kita mempunyai kekayaan yang mencukupi untuk memuaskan keperluan-keperluan setiap insan di dunia. Namun, apa yang tidak dikatakan oleh penyokong-penyokong kapitalisme itu adalah bahawa berjuta-juta orang masih mengalami kebuluran, berjuta-juta orang masih mengalami penyakit yang mudah dicegah, kehidupan berjuta-juta orang masih dikecewakan oleh kemiskinan. Masyarakat kita, iaitu masyarakat kapitalis, dikuasai oleh ketidak-samarataan dan ketidak-adilan, sambil kehidupan kita semua diancam oleh krisis ekonomi dan konflik bersenjata. Pada masa apabila sistem kapitalisme masih muda, Karl Marx sudah melihat percanggahan-percanggahan ini dengan jelas, lalu menulis:
Dalam satu tangan, kuasa-kuasa perindustrian dan saintifik telah memasuki kehidupan, yang mana-mana zaman sejarah manusia lalu tidak pernah mengharapkan. Dalam tangan sebelah wujudnya ciri-ciri kereputan, yang jauh melintasi kengerian Empayar Rom. Pada hari-hari ini, semuamya seolah-olah hamil dengan percanggahannya. Jentera, dihadiahkan dengan kuasa memendekkan dan meringankan usaha manusia, kita melihat melaparkan dan membebankan manusia. Sumber-sumber kekayaan luas, oleh sesuatu keajaiban luarbiasa, diubahkan menjadi punca-punca keperluan.
Di sebalik perbincangan-perbincangan seperti ini, terdapat satu persoalan asas, iaitu apakah sebenarnya sistem kapitalis? Apakah ciri-ciri asas sistem tersebut, dan apakah kesan daripada ciri-ciri tersebut? Pada pandangan pertama, jawapan kepada soalan-soalan seperti ini mungkin dikatakan ringkas. Bukankah sistem kapitalis sebuah sistem di mana beberapa individu yang kaya memiliki kilang-kilang, pejabat-pejabat dan perusahaan-perusahaan yang lain? Bukankah pihak kapitalis menyokong pasaran bebas, tanpa apa-apa perancangan terpusat? Namun, dewasa kini, persoalan-persoalan tersebut tidak dapat ditangani dengan begitu mudah. Misalnya, kebanyakan perusahaan gergasi kini tidak lagi dimiliki oleh seorang individu, tetapi mungkin digerakkan oleh pejabat perusahaan atau kerajaan negara. Walau apapun perbezaan-perbezaan ini, yang jelas adalah bahawa para pekerja dan golongan bawahan terus dieksploitasi dan ditindas di bawah sistem kapitalis ini.
Maka, erti kapitalisme perlulah dikaji dengam menyeluruh dan disesuaikan dengan perkembangan ekonomi mutakhir. Dari segi ini, kajian Karl Marx terhadap sistem kapitalis sangatlah penting, kerana, dalam kata-kata Georg Lukacs, teori Marx teori Marx, “meleburkan wajah pertubuhan-pertubuhan sosial yang kaku, tidak bersejarah dan semulajadi; ia mendedahkan punca-punca bersejarah mereka dan maka menunjukkan bahawa ianya tertakluk kepada sejarah dari setiap segi termasuk kemunduran bersejarah.” Marx telah menunjukkan bahawa tindakan manusia pada masa yang lalu telah menciptakan dunia moden, bahkan juga bahawa tindakan manusia dapat membentukkan masa depan yang bebas dari percanggahan-percanggahan kapitalisme.
Berhadapan dengan pendekatan ini, kita perlulah terlebih dahulu mengkaji sejarah sistem kapitalis untuk mengenalpasti ciri-cirinya. Sebelum bangkitnya sistem kapitalis, iaitu semasa wujudnya sistem feudal, manusia belum lagi memajukan cara-cara untuk menguasai dunia semulajadi, atau untuk menghasilkan barangan yang mencukupi bagi setiap insan. Marx telah menulis bahawa kesemua hubungan-hubungan sosial dalam sistem feudal “diikat kepada tahap perkembangan kuasa-kuasa produktif dan tenaga pekerja yang rendah serta hubungan-hubungan terhad di antara manusia dan proses menciptakan dan menghasilkan semula kehidupan materialis mereka, dan maka juga hubungan-hubungan terhad di antara manusia dan alam.”
Dalam sistem feudal, tanah merupakan sumber pengeluaran. Inilah yang dimaksudkan oleh Marx apabila dia menulis bahawa “Dalam permilikan tanah feudal, kita sudah menjumpai penguasaan tanah sebagai kuasa sesuatu yang asing ke atas manusia. Hamba serf adalah sampingan kepada tanah. Serupa dengan itu, pewaris melalui sistem pewarisan feudal, iaitu anak lelaki sulong, dimiliki oleh tanah. Ia mewarisi dia.” Dalam satu tangan, tahap kuasa-kuasa produktif yang rendah bermakna usaha berterusan bagi golongan petani, sambil dalam tangan sebelah, tuan-tuan feudal dan pegawai-pegawai gereja mengambil apa yang mereka menghendaki dari petani dengan kekuasaan.
Hubungan-hubungan sosial dalam masyarakat feudal merupakan hubungan-hubungan penguasaan dan penaklukan, tetapi ia sudah jelasnya merupakan hubungan-hubungan sosial di antara individu-individu. Dari segi ini, batasan-batasan feudalisme sangatlah berbeza daripada dinamik kapitalisme. Pihak borjuasi muda menginginkan sebuah masyarakat di mana segalanya dapat dijual-beli dengan duit. Sebuah masyarakat seperti itu sudah pasti bergantung kepada pembatasan-pembatasan tanah bersama dengan kejam. Ini bermakna bahawa, buat kali pertama dalam sejarah manusia, majoriti masyarakat dinafikan jalan secara langsung kepada pengeluaran dan cara-cara menciptakan kekayaan. Maka, pada abad ke-17 dan ke-18 di Eropah, sebuah kelas pekerja yang tidak memiliki tanah telah ditaklukkan kepada bentuk pengeksploitasian yang baru, iaitu pekerjaan bergaji.

Pendek kata, kapitalisme melibatkan perubahan asas dalam hubungan-hubungan di antara manusia, peralatan-peralatan pengeluaran dan bahan-bahan pengeluaran.” Oleh kerana perubahan-perubahan asas ini, setiap aspek kehidupan manusia telah diubah. Namun, perubahan-perubahan ini hanya dapat dilaksanakan melalui apa yang Peter Linebaugh telah menamakan ‘serangan-serangan perundangan’ pada hujung abad ke-18 untuk memperdayakan kelas pekerja bahawa apa yang mereka menghasilkan sebenarnya dimiliki oleh pihak kapitalis yang memiliki kilang-kilang. Menjelang abad ke-19, pekerjaan bergaji telah menggantikan kesemua bentuk pembayaran yang lain di Eropah.

Kajian Marx terhadap sistem kapitalis muda pada abad ke-19 menunjukkan bagaimana tenaga pekerja telah menjadi sebuah komoditi, yang dapat dijual-beli pada pasaran. Pihak kapitalis dan para pekerja mungkin bebas dari satu sama lain dari mana-mana segi rasmi, tetapi dalam realiti mereka berkait rapat. Pengeluaran barangan tidak lagi berlaku di rumah atau bengkel-bengkel kecil (seperti dalam sistem feudal), tetapi kini berlaku di kilang-kilang baru di mana mekanisasi tenaga pekerja telah mengubah hubungan-hubungan manusia. Dalam karyanya yang terpenting, iaitu Kapital, Marx membandingkan usaha tukang-tukang kraf di bawah sistem feudal dengan pekerja kilang di bawah sistem kapitalis:

Dalam kraftangan dan pengeluaran, para pekerja menggunakan peralatan; di kilang, jentera menggunakan pekerja. Di sana, gerak-geri peralatan tenaga pekerja bergerak baginya, di sini ia adalah gerak-geri jentera yang mesti mengikutinya. Dalam pengeluaran, para pekerja adalah sebahagian daripada mekanisme hidup. Dalam kilang, kita mempunyai mekanisme tanpa kehidupan yang asing daripada pekerja, yang hanya menjadi sampingan hidup.

Salah satu ciri kapitalisme yang paling membinasakan merupakan pembahagian tenaga pekerja. Sebelum kapitalisme, memang terdapatnya pembahagian tenaga pekerja secara sosial, dengan orang-orang berbeza telibat dalam cabang-cabang pengeluaran atau kraf yang berbeza. Dengan kapitalisme telah bangkitnya pembahagian tenaga pekerja secara terperinci dalam setiap cabang pengeluaran. Pembahagian tenaga pekerja ini bermakna bahawa pekerja terpaksa menjadi khusus dalam tugas-tugas tertentu. Maka, tidak menghairankanlah bahawa John Ruskin pernah menulis bahawa pembahagian tenaga pekerja adalah ungkapan palsu kerana ia adalah manusia yang dibahagikan.

Dalam sistem kapitalis, para pekerja semakin bergantung kepada pihak kapitalis yang memiliki cara-cara pengeluaran seperti kilang-kilang dan pejabat-pejebat. Ia menjadi semakin mustahil bagi pekerja untuk hidup secara bebas daripada kapitalisme – jika dia bekerja, dia menjadi ibarat sebuah jentera; jika dia tidak bekerja, dia akan hidup dalam kemiskinan. Marx menulis mengenai para pekerja: “Kewujudan kapital adalah kewujudannya, kehidupannya, kerana ia menentukan kandungan kehidupannya dalam cara yang tidak mempedulikannya.” Pendek kata, para pekerja tidak mempunyai pilihan – bersedia bekerja atau bersedia mengalami kemiskinan. Maka, di bawah kapitalisme, tenaga pekerja menjadi tenaga pekerja yang dipaksa kerana para pekerja tidak dapat memilih untuk tidak bekerja, para pekerja tidak memiliki apa yang diciptakan oleh mereka dan para pekerja tidak dapat memilih apa yang patut diciptakan. Marx menulis:

… pekerja hanya merasai dirinya apabila tidak bekerja; apabila dia bekerja, dia tidak merasai dirinya. Dia berasa selesa apabila tidak bekerja, dan bukannya di rumah apabila dia bekerja. Maka usahanya bukan secara sukarela tetapi dipaksa, ia adalah tenaga pekerja dipaksa. Maka, ia bukan kepuasaan sesuatu keperluan, tetapi hanya cara untuk memuaskan keperluan tersebut secara asing daripadanya. Sifat asingnya ditunjukkan dengan jelas oleh fakta bahawa sesudah apa-apa fizikal atau pemaksaan lain wujud, ia dipulaukan seperti wabak penyakit.

Di sini, kita dapat merumuskan perbincangan di atas dengan kata-kata berikut. Marx sebenarnya tidak menganggap permilikan alat-alat atau cara-cara pengeluaran oleh individu sebagai masalah utama kapitalisme. Dalam kajiannya ke atas sistem tersebut, yang menjadi jelas adalah bahawa dia menolak situasi di mana cara-cara pengeluaran dikuasai oleh sebuah minoriti (iaitu kelas kapitalis atau borjuasi), dengan tujuan mengeksploitasi majoriti (iaitu kelas pekerja). Pengeksploitasian ini dapat mengambil pelbagai bentuk dalam hubungan-hubungan sosial di antara manusia. Seperti yang telah dikatakan di atas, para pekerja tidak memiliki cara-cara pengeluaran, dan terpaksa menjual satu-satunya komoditi yang dimiliki mereka, iaitu tenaga pekerja mereka. Inilah satu sebab mengapa kemungkinan untuk merancangkan jalan-jalan ekonomi demi kepentingan masyarakat umum tidak dapat bangkit dalam keadaan seperti ini.

Tambahan pula, setiap kapitalis didoring untuk bersaing demi memajukan perusahaannya sambil mengorbankan orang yang lain. Marx telah melaungkan: “Akumulasi! Akumulasi! Itulah nabi-nabi baginya.” Ini bermakna bahawa kapitalis yang kuat memakan kapitalis yang lemah, dan bahawa sistem kapitalis akan merosot dengan dramatik apabila mengalami krisis ekonomi.

Sejak abad ke-19, sistem kapitalis ini telah menyebar ke setiap penjuru dunia, dan mungkin tidak terdapatnya negara yang bebas daripada cengkamannya. Inilah sebab utama mengapa kajian Marx sangatlah relevan dan penting pada hari ini. Cara-cara pengeluaran masih dikuasai oleh golongan minoriti, biarpun di sebuah negara membangun seperti Malaysia atau sebuah negara maju seperti Amerika Syarikat. Walaupun bentuk persaingan kapitalis mungkin berbeza dari satu tempat ke tempat yang lain, hasilnya sentiasa sama: “Akumulasi! Akumulasi! Itulah nabi-nabi baginya.” Dan para pekerjalah yang menjadi mangsa.

Maka, apa yang dapat dilakukan? Kajian Marx juga telah mengenalpasti kelas pekerja sebagai unsur yang dapat menumbangkan sistem kapitalis dan mengubah masyarakat. Walaupun pihak borjuasi atau kelas pemerintah dapat menggunakan penguasaan mereka ke etas ekonomi untuk menguasai kanca politik melalui kerajaan, tentera dan polis, kejayaan sistem mereka juga mewujudkan sebuah kelas yang mempunyai kuasa untuk membebaskan seluruh umat manusia – iaitu kelas pekerja. Kelas pekerja ini tidak mengenali warna kulit, jantina, orientasi seksual, mahupun sempadan negara. Hanya kelas pekerja sendiri yang dapat membina sebuah masyarakat tanpa keperluan dan tanpa diktator kerana kelas pekerja sememangnya berbeza daripada kelas-kelas yang lain. Kini terdapatnya beratus-ratus juta pekerja dan jumlah mereka semakin meningkat setiap hari. Kerana kapitalisme merupakan sistem antarabangsa, ia terus mengembang dan mengerjakan mereka yang suatu hari nanti akan memusnahkan sistem kapitalis itu.

Kemampuan unik kelas pekerja untuk mengubah dunia berpunca dari kedudukan kelas tersebut dalam sistem kapitalisme. Secara asasnya, kapitalisme menarik penduduk dari desa dan menghimpunkan mereka di tempat-tempat bekerja yang besar. Maka, para pekerja mendapati bahawa mereka telah menjadi sebahagian daripada unit yang melibatkan beratus-ratus atau beribu-ribu orang. Untuk mencapai pembaikan dalam keadaan mereka, para pekerja perlulah bertindak secara kolektif, dengan melibatkan rakan-rakan sekerja mereka. Untuk mengubah dunia, kelas pekerja perlulah bersatu di bawah panji-panji demokratik lagi sosialis.
SOSIALISME
“Apa bedanya Kapitalisme dan Sosialisme?” “Kapitalisme membuat kekeliruan sosial!,” “Sosialisme membuat kekeliruan kapital!” “Lha, kalau Pancasila?” “Pancasilaisme di bawah Orde baru membuat kekeliruan sosial sekaligus kekeliruan kapital!” “Apa bedanya Kapitalisme dan Sosialisme?” “Kapitalisme membuat kekeliruan sosial!,” “Sosialisme membuat kekeliruan kapital!” “Lha, kalau Pancasila?” “Pancasilaisme di bawah Orde baru membuat kekeliruan sosial sekaligus kekeliruan kapital!”

Sosialisme Utopis
Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.
Langsung ke: navigasi, cari
Sosialisme Utopis atau Sosialisme Utopia adalah sebuah istilah untuk mendefinisikan awal mula pemikiran sosialisme modern. Para sosialis utopis tidak pernah benar-benar menggunakan ini untuk menyebut diri mereka; istilah “Sosialisme Utopis” awalnya diperkenalkan oleh Karl Marx dan kemudian digunakan oleh pemikir-pemikir sosialis setelahnya, untuk menggambarkan awal kaum sosialis intelektual yang menciptakan hipotetis masa datang dari penganut paham egalitarian dan masyarakat komunal tanpa semata-mata memperhatikan diri mereka sendiri dengan suatu cara dimana komunitas masyarakat seperti itu bisa diciptakan atau diperjuangkan.
Kata utopia sendiri diambil dari kisah pulau Utopia karangan Thomas Moore.
Karena Sosialisme utopis ini lebih merupakan sebuah kategori yang luas dibanding sebuah gerakan politik yang spesifik, maka sebenarnya sulit untuk mendefinisikan secara tepat istilah ini. Merujuk kepada beberapa definisi, desinisi sosialisme utopis ini sebaiknya melihat para penulis yang menerbitkan tulisan-tulisan mereka pada masa antara Revolusi Perancis dan pertengahan 1930-an. Definisi lain mengatakan awal mula sosialisme utopis jauh lebih ke masa lalu, dengan mengambil contoh bahwa figur Yesus adalah salah satu diantara penganut sosialisme utopis.
Walaupun memang terbuka kemungkinan siapapun yang hidup dalam waktu kapanpun dalam sejarah dapat disebut sebagai seorang sosialis utopis, istilah ini lebih sering dipakai terhadap para sosialis utopis yang hidup pada seperempat masa pertama abad 19. Sejak pertengahan abad 19 dan selanjutnya, cabang-cabang sosialisme yang lain jauh melebihi versi utopisnya, baik dalam perkembangan pemikirannya maupun jumlah penganutnya. Para sosialis utopis sangat penting dalam pembentukan pergerakan modern bagi komunitas intentional dan koperasi, techno komunisme.
Istilah “sosialisme ilmiah” kadang digunakan oleh para penganut paham Marxisme untuk menguraikan versi sosialisme mereka, terutama untuk tujuan membedakannya dari Sosialisme Utopis dimana telah terdeskripsi dan idealistis (dalam beberapa hal mewakili suatu yang ideal) dan bukan ilmiah, yaitu, yang dibangun melalui pemikiran dan berdasarkan pada ilmu-ilmu sosial.
Pemikir utama
Robert Owen (1771-1858) adalah seorang pelaku bisnis sukses yang menyumbangkan banyak laba dari bisnis nya demi peningkatan hidup karyawannya. Reputasi dia meningkat ketika dia mendirikan suatu pabrik tekstil di New Lanark, Skotlandia dan memperkenalkan waktu kerja lebih pendek, membangun sekolah untuk anak-anak dan merenovasi rumah-rumah tempat tinggal pegawainya. Ia juga merancang suatu komunitas Owenite yang disebut New Harmony (Keselarasan Baru) di Indiana, AS. Komunitas ini bubar ketika salah satu dari mitra bisnisnya melarikan diri dengan membawa semua laba yang ada. Kontribusi utama Owen bagi pikiran kaum sosialis adalah pandangan tentang dimana perilaku sosial manusia tidaklah tetap atau absolut, dan manusia mempunyai kehendak bebas untuk mengorganisir diri mereka ke dalam segala bentuk masyarakat yg mereka inginkan.
Étienne Cabet (1788–1856) dipengaruhi oleh pemikiran Robert Owen. Di dalam bukunya Travel and adventures of Lord William Carisdall in Icaria (1840) ia memaparkan suatu masyarakat komunal idealis. Usaha nya untuk membuatnya kembali (gerakan Icarian) gagal.
Charles Fourier (1772-1837) sejauh ini adalah seorang sosialis yang paling utopis. Menolak semua tentang Revolusi Industri dan semua permasalahan yang timbul menyertainya, ia membuat berbagai pendapat fantastis tentang dunia yang ideal yang ia impikan. Selain beberapa kecenderungan yang jelas-jelas tidak sosialis, ia tetap memberi kontribusi berarti bagi gerakan sosialis. Tulisan-tulisannya membantu Karl Marx muda dan membantunya memikirkan teori alienasi-nya. Fourier juga seorang feminisme radikal.
Sosialisme Utopis dalam kultur modern
Salah satu yang paling terkenal adalah United Federation of Planets yang dilukiskan pada kisah Star Trek – The Next Generation. Tidak ada kekurangan, tidak ada kemiskinan, tidak ada kejahatan, tidak ada penyakit atau ketidakpedulian di dunia; semua orang bekerja untuk kemajuan bagi semua umat manusia, bukan bagi kekayaan dirinya sendiri, sesuai dengan ketetapan federasi.

Galery

In Tak Berkategori on Desember 8, 2007 at 9:04 pm

slide2.jpg

copy-of-copy-of-lana_05.jpg

slide10.jpg

copy-of-lana_10.jpg

Biologi Molekuler

In Tak Berkategori on Desember 6, 2007 at 10:58 pm

BIOLOGI MOLEKULAR

Biologi molekular atau biologi molekul merupakan salah satu cabang biologi yang merujuk kepada pengkajian mengenai kehidupan pada skala molekul. Ini termasuk penyelidikan tentang interaksi molekul dalam benda hidup dan kesannya, terutama tentang interaksi berbagai sistem dalam sel, termasuk interaksi DNA, RNA, dan sintesis protein, dan bagaimana interaksi tersebut diatur. Bidang ini bertumpang tindih dengan bidang biologi (dan kimia) lainnya, terutama genetika dan biokimia.Daftar isi

1 Keterkaitan dengan ilmu hayati “skala-molekul” lainnya
2 Teknik biologi molekular
2.1 Kloning ekspresi
2.2 Polymerase chain reaction (PCR)
2.3 Elektroforesis gel
3 Lihat pula
4 Bacaan lanjutan
5 Pranala luar

Keterkaitan Dengan Ilmu Hayati “Skala-Molekul” Lainnya

Para peneliti biologi molekular menggunakan teknik-teknik khusus yang khas biologi molekular (lihat subbab Teknik di bagian lain artikel), namun kini semakin memadukan teknik-teknik tersebut dengan teknik dan gagasan-gagasan dari genetika dan biokimia. Tidak terdapat lagi garis tegas yang memisahkan disiplin-disiplin ilmu ini seperti sebelumnya. Secara umum keterkaitan bidang-bidang tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:
Biokimia – telaah zat-zat kimia dan proses-proses vital yang berlangsung pada makhluk hidup.
Genetika – telaah atas efek perbedaan genetik pada makhluk hidup (misalnya telaah mengenai mutan).
Biologi molekular – telaah dalam skala molekul atas proses replikasi, transkripsi, dan translasi bahan genetik

Semakin banyak bidang biologi lainnya yang memfokuskan diri pada molekul, baik secara langsung mempelajari interaksi molekular dalam bidang mereka sendiri seperti pada biologi sel dan biologi perkembangan, maupun secara tidak langsung (misalnya dengan menggunakan teknik biologi molekular untuk menyimpulkan ciri-ciri historis populasi atau spesies) seperti pada genetika populasi dan filogenetika.

Teknik biologi molekular

Kloning ekspresi

Salah satu teknik dasar biologi molekular adalah kloning ekspresi, yang digunakan misalnya untuk mempelajari fungsi protein. Pada teknik ini, potongan DNA penyandi protein yang diinginkan ditransplantasikan ke suatu plasmid (DNA sirkular yang biasanya ditemukan pada bakteri; dalam teknik ini, plasmid disebut sebagai vektor ekspresi).

Plasmid yang telah mengandung potongan DNA yang diinginkan tersebut kemudian dapat disisipkan ke dalam sel bakteri atau sel hewan. Penyisipan DNA ke dalam sel bakteri disebut transformasi, dan dapat dilakukan dengan berbagai metode, termasuk elektroporasi, mikroinjeksi dan secara kimia. Penyisipan DNA ke dalam sel eukaryota, misalnya sel hewan, disebut sebagai transfeksi, dan teknik transfeksi yang dapat dilakukan termasuk transfeksi kalsium fosfat, transfeksi liposom, dan dengan reagen komersial. DNA dapat pula dimasukkan ke dalam sel dengan menggunakan virus (disebut transduksi viral).

Setelah penyisipan ke dalam sel, protein yang disandi oleh potongan DNA tadi dapat diekspresikan oleh sel bersangkutan. Berbagai jenis cara dapat digunakan untuk membantu ekspresi tersebut agar protein bersangkutan didapatkan dalam jumlah besar, misalnya inducible promoter dan specific cell-signaling factor. Protein dalam jumlah besar tersebut kemudian dapat diekstrak dari sel bakteri atau eukaryota tadi.

Polymerase chain reaction (PCR)
Artikel utama: Reaksi berantai polimerase

Polymerase chain reaction (“reaksi [be]rantai polimerase”, PCR) merupakan teknik yang sangat berguna dalam membuat salinan DNA. PCR memungkinkan sejumlah kecil sekuens DNA tertentu disalin (jutaan kali) untuk diperbanyak (sehingga dapat dianalisis), atau dimodifikasi secara tertentu. Sebagai contoh, PCR dapat digunakan untuk menambahkan situs enzim restriksi, atau untuk memutasikan (mengubah) basa tertentu pada DNA. PCR juga dapat digunakan untuk mendeteksi keberadaan sekuens DNA tertentu dalam sampel.

PCR memanfaatkan enzim DNA polimerase yang secara alami memang berperan dalam perbanyakan DNA pada proses replikasi. Namun demikian, tidak seperti pada organisme hidup, proses PCR hanya dapat menyalin fragmen pendek DNA, biasanya sampai dengan 10 kb (kb=kilo base pairs=1.000 pasang basa). Fragmen tersebut dapat berupa suatu gen tunggal, atau hanya bagian dari suatu gen.

Proses PCR untuk memperbanyak DNA melibatkan serangkaian siklus temperatur yang berulang dan masing-masing siklus terdiri atas tiga tahapan. Tahapan yang pertama adalah denaturasi cetakan DNA (DNA template) pada temperatur 94-96°C, yaitu pemisahan utas ganda DNA menjadi dua utas tunggal. Sesudah itu, dilakukan penurunan temperatur pada tahap kedua sampai 45-60°C yang memungkinkan terjadinya penempelan (annealing) atau hibridisasi antara oligonukleotida primer dengan utas tunggal cetakan DNA. Primer merupakan oligonukelotida utas tunggal yang sekuens-nya dirancang komplementer dengan ujung fragmen DNA yang ingin disalin; primer menentukan awal dan akhir daerah yang hendak disalin. Tahap yang terakhir adalah tahap ekstensi atau elongasi (elongation), yaitu pemanjangan primer menjadi suatu utas DNA baru oleh enzim DNA polimerase. Temperatur pada tahap ini bergantung pada jenis DNA polimerase yang digunakan. Pada akhirnya, satu siklus PCR akan menggandakan jumlah molekul cetakan DNA atau DNA target, sebab setiap utas baru yang disintesis akan berperan sebagai cetakan pada siklus selanjutnya.

Elektroforesis gel
Artikel utama: Elektroforesis

Elektroforesis gel merupakan salah satu teknik utama dalam biologi molekular. Prinsip dasar teknik ini adalah bahwa DNA, RNA, atau protein dapat dipisahkan oleh medan listrik. Dalam hal ini, molekul-molekul tersebut dipisahkan berdasarkan laju perpindahannya oleh gaya gerak listrik di dalam matriks gel. Laju perpindahan tersebut bergantung pada ukuran molekul bersangkutan. Elektroforesis gel biasanya dilakukan untuk tujuan analisis, namun dapat pula digunakan sebagai teknik preparatif untuk memurnikan molekul sebelum digunakan dalam metode-metode lain seperti spektrometri massa, PCR, kloning, sekuensing DNA, atau immuno-blotting yang merupakan metode-metode karakterisasi lebih lanjut.

Gel yang digunakan biasanya merupakan polimer bertautan silang (crosslinked) yang porositasnya dapat diatur sesuai dengan kebutuhan. Untuk memisahkan protein atau asam nukleat berukuran kecil (DNA, RNA, atau oligonukleotida), gel yang digunakan biasanya merupakan gel poliakrilamida, dibuat dengan konsentrasi berbeda-beda antara akrilamida dan zat yang memungkinkan pertautan silang (cross-linker), menghasilkan jaringan poliakrilamida dengan ukuran rongga berbeda-beda. Untuk memisahkan asam nukleat yang lebih besar (lebih besar dari beberapa ratus basa), gel yang digunakan adalah agarosa (dari ekstrak rumput laut) yang sudah dimurnikan.

Dalam proses elektroforesis, sampel molekul ditempatkan ke dalam sumur (well) pada gel yang ditempatkan di dalam larutan penyangga, dan listrik dialirkan kepadanya. Molekul-molekul sampel tersebut akan bergerak di dalam matriks gel ke arah salah satu kutub listrik sesuai dengan muatannya. Dalam hal asam nukleat, arah pergerakan adalah menuju elektroda positif, disebabkan oleh muatan negatif alami pada rangka gula-fosfat yang dimilikinya. Untuk menjaga agar laju perpindahan asam nukleat benar-benar hanya berdasarkan ukuran (yaitu panjangnya), zat seperti natrium hidroksida atau formamida digunakan untuk menjaga agar asam nukleat berbentuk lurus. Sementara itu, protein didenaturasi dengan deterjen (misalnya natrium dodesil sulfat, SDS) untuk membuat protein tersebut berbentuk lurus dan bermuatan negatif.

Setelah proses elektroforesis selesai, dilakukan proses pewarnaan (staining) agar molekul sampel yang telah terpisah dapat dilihat. Etidium bromida, perak, atau pewarna “biru Coomassie” (Coomassie blue) dapat digunakan untuk keperluan ini. Jika molekul sampel berpendar dalam sinar ultraviolet (misalnya setelah “diwarnai” dengan etidium bromida), gel difoto di bawah sinar ultraviolet. Jika molekul sampel mengandung atom radioaktif, autoradiogram gel tersebut dibuat.

Pita-pita (band) pada lajur-lajur (lane) yang berbeda pada gel akan tampak setelah proses pewarnaan; satu lajur merupakan arah pergerakan sampel dari “sumur” gel. Pita-pita yang berjarak sama dari sumur gel pada akhir elektroforesis mengandung molekul-molekul yang bergerak di dalam gel selama elektroforesis dengan kecepatan yang sama, yang biasanya berarti bahwa molekul-molekul tersebut berukuran sama. “Marka” atau penanda (marker) yang merupakan campuran molekul dengan ukuran berbeda-beda dapat digunakan untuk menentukan ukuran molekul dalam pita sampel dengan meng-elektroforesis marka tersebut pada lajur di gel yang paralel dengan sampel. Pita-pita pada lajur marka tersebut dapat dibandingkan dengan pita sampel untuk menentukan ukurannya. Jarak pita dari sumur gel berbanding terbalik terhadap logaritma ukuran molekul.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.