MAULANA ALI AHMAD

orang kasmaran

In Tak Berkategori on Desember 8, 2007 at 10:34 pm

jasmine.jpg

Melati tak pernah berdusta dengan apa yang ditampilkannya. Ia tak memiliki warna dibalik warna putihnya. Ia juga tak pernah menyimpan warna lain untuk berbagai keadaannya, apapun kondisinya, panas, hujan, terik ataupun badai yang datang ia tetap putih. Kemanapun dan dimanapun ditemukan, melati selalu putih. Putih, bersih, indah berseri di taman yang asri. Pada debu ia tak marah, meski jutaan butir menghinggapinya. Pada angin ia menyapa, berharap sepoinya membawa serta debu-debu itu agar ianya tetap putih berseri. Karenanya, melati ikut bergoyang saat hembusan angin menerpa. Kekanan ia ikut, ke kiri iapun ikut. Namun ia tetap teguh pada pendiriannya, karena kemanapun ia mengikuti arah angin, ia akan segera kembali pada tangkainya.

Pada hujan ia menangis, agar tak terlihat matanya meneteskan air diantara ribuan air yang menghujani tubuhnya. Agar siapapun tak pernah melihatnya bersedih, karena saat hujan berhenti menyirami, bersamaan itu pula air dari sudut matanya yang bening itu tak lagi menetes. Sesungguhnya, ia senantiasa berharap hujan kan selalu datang, karena hanya hujan yang mau memahami setiap tetes air matanya. Bersama hujan ia bisa menangis sekeras-kerasnya, untuk mengadu, saling menumpahkan air mata dan merasakan setiap kegetiran. Karena juga, hanya hujan yang selama ini berempati terhadap semua rasa dan asanya. Tetapi, pada hujan juga ia mendapati keteduhan, dengan airnya yang sejuk.

Pada tangkai ia bersandar, agar tetap meneguhkan kedudukannya, memeluk erat setiap sayapnya, memberikan kekuatan dalam menjalani kewajibannya, menserikan alam. Agar kelak, apapun cobaan yang datang, ia dengan sabar dan suka cita merasai, bahkan menikmatinya sebagai bagian dari cinta dan kasih Sang Pencipta. Bukankah tak ada cinta tanpa pengorbanan? Adakah kasih sayang tanpa cobaan?

Pada dedaunan ia berkaca, semoga tak merubah warna hijaunya. Karena dengan hijau daun itu, ia tetap sadar sebagai melati harus tetap berwarna putih. Jika daun itu tak lagi hijau, atau luruh oleh waktu, kepada siapa ia harus meminta koreksi atas cela dan noda yang seringkali membuatnya tak lagi putih?

Pada bunga lain ia bersahabat. Bersama bahu membahu menserikan alam, tak ada persaingan, tak ada perlombaan menjadi yang tercantik, karena masing-masing memahami tugas dan peranannya. Tak pernah melati iri menjadi mawar, dahlia, anggrek atau lili, begitu juga sebaliknya. Tak terpikir melati berkeinginan menjadi merah, atau kuning, karena ia tahu semua fungsinya sebagai putih.

Pada matahari ia memohon, tetap berkunjung di setiap pagi mencurahkan sinarnya yang menghangatkan. Agar hangatnya membaluri setiap sel tubuh yang telah beku oleh pekatnya malam. Sinarnya yang menceriakan, bias hangatnya yang memecah kebekuan, seolah membuat melati merekah dan segar di setiap pagi. Terpaan sinar mentari, memantulkan cahaya kehidupan yang penuh gairah, pertanda melati siap mengarungi hidup, setidaknya untuk satu hari ini hingga menunggu mentari esok kembali bertandang.

Pada alam ia berbagi, menebar aroma semerbak mewangi nan menyejukkan setiap jiwa yang bersamanya. Indah menghiasharumi semua taman yang disinggahinya, melati tak pernah terlupakan untuk disertakan. Atas nama cinta dan keridhoan Pemiliknya, ia senantiasa berharap tumbuhnya tunas-tunas melati baru, agar kelak meneruskan perannya sebagai bunga yang putih. Yang tetap berseri disemua suasana alam.

Pada unggas ia berteriak, terombang-ambing menghindari paruhnya agar tak segera pupus. Mencari selamat dari cakar-cakar yang merusak keindahannya, yang mungkin merobek layarnya dan juga menggores luka di putihnya.

Dan pada akhirnya, pada Sang Pemilik Alam ia meminta, agar dibimbing dan dilindungi selama ia diberikan kesempatan untuk melakoni setiap perannya. Agar dalam berperan menjadi putih, tetap diteguhkan pada warna aslinya, tidak membiarkan apapun merubah warnanya hingga masanya mempertanggungjawabkan semua waktu, peran, tugas dan tanggungjawabnya. Jika pada masanya ia harus jatuh, luruh ke tanah, ia tetap sebagai melati, seputih melati. Dan orang memandangnya juga seperti melati.

Dan kepada melatiku, tetaplah menjadi melati di tamanku. Karena, aku akan menjadi angin, menjadi hujan, menjadi tangkai, menjadi matahari, menjadi daun dan alam semesta. Tetapi takkan pernah menjadi debu atau unggas yang hanya akan merusak keindahannya, lalu meninggalkan melati begitu saja.

Oleh :

Maulana

Cinta sering membuat orang tidak habis pikir. Keberadaannya misterius, sama seperti terorisme. Tetapi, karenanya segalanya menjadi mungkin. Orang bisa terbang ke langit tujuh, juga bisa terjun bebas dari gedung lantai tujuh. Sampai-sampai ada peringatan Hari Valentine 14 Februari, hari cinta seluruh dunia! Entahlah….

Tidak mudah memberikan kesimpulan tentang cinta. Orang, buku, atau film memberikan pengertian yang berbeda tentang cinta. Ada yang mengatakan cinta itu buta, gombal, seks, dan seterusnya. Erich Fromm dalam The Art of Loving mengatakan, cinta itu seni maka butuh pengorbanan, kesabaran, konsentrasi, dan –yang terpenting– kematangan pribadi. Dengan penuh percaya diri, Megan Tresidder dalam The Handbook of Love menjelaskan bahwa tanpa disadari pola-pola cinta telah mempengaruhi perilaku keseharian manusia. Dan (memang) cinta hanya bisa dimengerti oleh yang empunya cerita, yang pernah mengalamainya. Ia selalu hadir berbeda-beda menyertai amukan badai zaman.

Pastinya, cinta yang disebut-sebut kali ini bukan sembarang cinta. Yaitu cinta suci antara laki-laki dan perempuan; cinta yang biasanya dimiliki oleh kaum muda-mudi, katakanlah Romeo dan Juliet, bukan Rama dan Sinta yang telah beranjak tua. Yang terahir ini lebih fokus mengurusi masa depan anak-anak. Kalaupun masih ada cerita cinta di antara mereka, paling tidak kisarannya antara selingkuh, madu, tua-tua keladi, dan seterusnya. Jika diceritakan sudah tidak menarik karena tiada lagi istilah cinta suci atau first love never dies. Makanya berbicara cinta tidak bisa terlepas dari lika-liku kehidupan remaja.

Atau bisa dibaca sebaliknya, kehidupan remaja bisa diamati dari bagaimana cara mereka bercinta? Mungkin itu lebih tepat dialamatkan untuk cinta yang ada di buku-buku sastra, layar kaca atau pentas seni cerita. Karena kisah cinta adalah ritual dan harus dituturkan bersamaan dengan kisah-kisah kehidupan yang lain.

Atau juga bisa dibaca sebaliknya, kisah cinta adalah kisah kehidupan remaja yang sebenarnya. Yang ini, paling tepat dialamatkan untuk film-film atau sinetron Indonesia yang bertemakan cinta. Karena Indonesia dengan karakteristiknya yang unik, berbeda sama sekali dengan negara-negara lain di dunia? Bangsa India yang terkenal gemar sekali mengampanyekan ”cinta dapat mengubah segalanya”, tidak selalu menempatkan cinta sebagai cerita utama dalam film-filmnya. Umumnya, cerita cinta oleh film-film India adalah sekadar ritual yang harus disertakan dalam menceritakan kedunguan polisi, kebejatan sistem hukum dan pemerintahan, penjahat yang selalu dikalahkan oleh ”sang” penegak kebenaran, atau dalam rangka mempromosikan bagaimana idealtipe budaya India kepada dunia.

Apalagi film-film ek-sen bergaya Amerika. Yang pasti, percintaan dalam film James Bond dan sejenisnya hanyalah pemanis cerita utamanya, misalnya, keberanian dan kemenangan jagoan, serta kecanggihan teknologi di era modern. Singkatnya, cinta menurut orang Amerika adalah –meminjam bahasa remaja Indonesia– cerita indah namun tiada arti. Yang berarti adalah cerita utama yang besertaan dengan cerita cinta itu. Dan memang seharusnya demikian.

Bagaimana dengan Indonesia, cerita cinta menjadi kisah utama? Ada yang kembali beralasan, cerita cinta hanya sebagai pengantar cerita. Tetapi, kenapa hanya cerita cinta di perkotaan saja? Wajar saja, karena para produser Jakarta yang berdatangan dari daerah-daerah sudah cukup bangga mempertontonkan problematika dan atau kemajuan-kemajuan yang ada di kota metropolitan Jakarta, yang tidak ada di daerah mereka? Dalam rangka mengejar status modernitas, mereka tidak bangga mempertontonkan apa-apa yang berada di daerah mereka?

Kembali kepada remaja. Anehnya, film atau sinetron yang bertemakan ”murni” cinta justru paling digandrungi. Remaja Indonesia bagian mana yang belum pernah menyaksikan film Ada Apa dengan Cinta (AADC), yang jelas-jelas memakai judul ”cinta”? Lagi pula sudah disinetronkan, ceritanya sengaja diperlama menuruti kebutuhan jam tayang, menyusul sukses cerita asalnya ditepuktangani para penonton.

Bisa dikatakan, film AADC berjasa membangunkan dunia perfilman Indonesia dari tidurnya. Maunya film ini mempertontonkan kehidupan kelompok atau geng remaja perempuan (Cinta, Maura, Milly, Alya dan Karmen) yang bebas dari tekanan orang tua, guru-guru di sekolah, juga teman-teman laki-laki; sebuah eksklusivitas sosial remaja perempuan yang sudah biasa. Tetapi kenapa film-film atau sinetron yang menyusul sukses film AADC mengambil cerita cintanya saja. Atau film AADC-lah yang sengaja mengangkat posisi cinta? Membingungkan. Sebut saja film Eiffel… I’m in Love (EIiL) besutan Nasri Cheppy, 30 Hari Mencari Cinta garapan Sutradara Upi Avianto, Sinetron Cinta SMU, Kalau Cinta Jangan Belagu, dan Inikah Rasanya. Semuanya bertemakan remaja metropolitan dan tentunya tentang percintaan mereka.

Berkali-kali salah satu pabrik rokok menyindir, ”Kalau memang cinta itu buta, buat apa ada bikini”, tapi para produser tidak tersindir sedikit pun untuk terus menggarap film atau sinetron bertemakan cinta. Para penonton juga tidak kapok-kapok menyimak cerita cinta. Malah, perkembangan sinetron-sinetron yang bertemakan cinta semakin menggila. Sekarang, cinta sudah dibuktikan adanya (dalam cerita sinetron) oleh anak-anak usia SD yang sedang lucu-lucunya. Mungkin besok ada sinetron khusus untuk anak-anak usia TK berjudul ”cintaku ketahuan bu guru!”

Tentunya ini bukan saja permasalahan konsumerisme. Kegemaran generasi muda menyaksikan film-film bertemakan cinta bukan hanya karena pihak produser pintar memasarkan produknya. Kalau Ariel Heryanto mengatakan bahasa menunjukkan bangsa, maka kegemaran generasi muda menyaksikan film-film cinta menunjukkan, ya demikianlah mereka. Mempersoalkan lebih dahulu mana antara sutradara dan alur cerita, sama dengan berpusing-pusing memikirkan lebih dahulu mana telur dengan ayam.

Yang fakta, selain mata pelajaran wajib, di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi ada pelajaran ekstrakulikuler bernama ”jadian” dan ”putus”, kalau dulu disebut pacaran. Bahkan demi pelajaran itu, seorang siswa berani mbolos, kalau perlu pindah atau putus sekolah. Yang mahasiswa bisa beralasan, buat apa kuliah kalau tidak menjamin kerja. Malam Minggu yang sedianya disiapkan khusus untuk beristirahat dari belajar semingguan, malah menjadi malam yang panjang, mendalami pelajaran ekstrakulikuler tadi.

Ada apa dengan generasi muda bangsa Indonesia? Gosip percintaan artis mulai ketika syuting, bulan madu, sampai ”keputusan” mereka, dihafalkan habis dan sebagai bahan diskusi di sekolahan atau kampus. Yang mendukung itu, karena pada saat memencet-mencet tombol remote control stasiun televisi, ”gosip” yang satu ini pasti ada. Yang sudah menikah (Rama dan Shinta tadi, atau ayah dan bunda), tidak mau ketinggalan ”wacana” menggosipkan itu saat berada di angkutan umum, obrolan basa-basi dengan rekan kerja di kantor atau sawah, dalam pertemun akhir tahun wali murid dan kepala sekolah, sampai di acara arisan partai.

Tidak apa, demikianlah tentang cinta.

Kalau boleh berpendapat, daripada capai-capai membincangkan moral bangsa Indonesia, lebih baik memikirkan cinta. Keduanya sama-sama tidak bisa dijelaskan sejelas-jelasnya di era materialisme-positivisme, juga sama-sama menimbulkan masalah. Tetapi kata cinta lebih akrab di telinga generasi muda bangsa Indonesia. Mungkin banyak yang tidak mengerti apa itu moral dan siapa yang paling tidak bermoral di antara kita, tetapi generasi muda mana yang tidak mengerti arti sebuah cinta. Tepatnya, mereka lebih berpengalaman soal cinta daripada soal moral. Bukankah pengalaman adalah pintu pertama untuk melakukan serangkaian percobaan ilmiah dan teknologi? Pengalaman mereka dalam ”bercinta” adalah modal utama untuk membahas kehidupan mereka di masa depan dan (kalau perlu) masa depan bangsa Indonesia.

Dan, oleh sebab cinta diyakini tidak pernah bisa dijelaskan dengan kata-kata, yang menjadi pe-er bukan lagi AADC tetapi di balik menjadi DCAA (Dengan Cinta Apa Ada) bangsa Indonesia yang adem ayem gemah lipah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo? Sekali lagi, karena cinta segalanya menjadi mungkin.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: