MAULANA ALI AHMAD

PECANDU MASTRUBASI

In Tak Berkategori on Desember 13, 2007 at 10:40 pm

PECANDU MASTURBASI? JANGAN KUATIR!

By hai hai – Posted on Juni 10th, 2007

Pecandu narkoba, hampir semua orang mengakui keberadaannya, namun Pecandu Masturbasi, mungkin hanya hai hai yang mengakui dan mengajarkannya. Berikut ini adalah pendapat hai hai tentang kecanduan narkoba dan masturbasi:

“Sekali Pecandu narkoba, selamanya pecandu, tidak ada pecandu yang sembuh yang ada adalah pecandu yang tidak memakai narkoba.”

“Sekali Pecandu masturbasi, selamanya pecandu, tidak ada pecandu yang sembuh yang ada adalah pecandu yang tidak masturbasi.”

Hoii… Mari kita membicarakan masturbasi tanpa tedeng aling-aling, rawe-rawe lantas, malang-malang puntung. Biar tuntas tas tas tas. Garamdunia yang memulainya, tanggapannya sudah seabrek-abrek, tapi diskusinya berputar-putar dari situ ke situ lagi.

Musashi, pendekar terbesar dalam sejarah Jepang mengajarkan, ini terjemahan bebasnya,

“Kalau engkau sudah mengerahkan semua jurusmu, namun belum bisa mengalahkan musuh, maka mundurlah dan berhenti bertarung, buang semua kenangan tentang pertarunganmu yang tadi dan mulailah bertarung seolah-olah dia musuh yang baru dihadapi untuk pertama kalinya.”

Nah, mari kita memulai diskusi tentang masturbasi dengan cara baru, mari memandang masturbasi, KECANDUAN dan PECANDU MASTURBASI dengan paradigma baru. Mari mendiskusikan topik ini dengan cara pandang yang mungkin seumur hidup, anda tidak akan pernah memimpikannya bila tidak membaca tulisan ini..

Apa persamaan antara pecandu narkoba dan pecandu masturbasi? Keduanya sama-sama kecanduan rasa NIKMAT. dr. Boyke sering bilang, “hormon endorphin 100 kali lebih dasyat dari morphin.” Itu adalah hasil penelitian ilmiah.

Apa itu ENDORPHIN? Endorphin adalah hormon yang terbentuk di dalam sistem syaraf dan otak manusia, Kegunaannya adalah menangkal rasa sakit dan memunculkan rasa nikmat.

ORGASME bukan satu-satunya cara untuk membentuk hormon endorphin, namun adalah CARA TERDASYAT yang diketahui oleh umat manusia hingga saat ini. Orgasme adalah MUJIZAT yang Tuhan ciptakan bagi manusia untuk menaati perintahNya, “Beranak cuculah dan penuhi bumi.” Sungguh LUAR BIASA, Tuhan memberi perintah dan memperlengkapi manusia untuk menaati perintahNya.

Setiap kali anda membaca perintah Tuhan, cobalah kenali diri sendiri untuk menemukan MUJIZAT Tuhan (potensi) dalam diri untuk menaati perintahNya tersebut. Sekali anda menemukannya, maka anda akan menemukan kenyataan bahwa tidak sulit untuk menaati printah Tuhan.

Apa itu orgasme?

Orgasme adalah enak yang paling enak yang nggak ada yang lebih enak lagi.

Ejakulasi adalah testis (pabrik sperma) menyemburkan sperma melalui penis. Ejakulasi umumnya terjadi hampir bersamaan dengan orgasme. Itu sebabnya, sebagian orang menganggap orgasme adalah ejakulasi.

Bagaimana cara mencapai orgasme? Kemampuan untuk mencapai atau mendapat orgasme sangat tergantung pada kondisi fisik, mental dan pengalaman anda. Anak-anak muda sering mengelompokkannya sebagai berikut: Pandangan hidup, pegangan hidup dan perjuangan hidup.

Pandangan hidup, artinya anda mampu mencapai orgasme dengan menghayal atau melihat gambar atau membaca cerita atau menonton film berisi adegan-adegan mesra, sex atau melihat orang bermesraan atau berhubungan sex.

Pegangan hidup, artinya anda mampu mencapai orgasme dengan cara bercumbu atau koitus (berhubungan sex).

Perjuangan hidup, artinya anda harus ke dokter untuk mengetahui apa yang terjadi, karena secara teknis tubuh anda menghadapi masalah untuk mencapai orgasme.

Masturbasi adalah usaha untuk menggapai orgasme dengan mencumbu diri sendiri sambil membayangkan adegan-adegan mesra. Masturbasi, tindakannya sama, tetapi lamunannya berbeda-beda.

Orang yang sudah pernah berhubungan sex ketika masturbasi akan berfantasi sedang berhubungan sex. Yang sudah pernah bercumbu akan membayangkan sedang bercumbu, yang sudah pernah berciuman akan membayangkan sedang berciuman. Seorang lelaki yang belum pernah melakukan hubungan sex, bercumbu, berciuman, memeluk, membelai wanita ketika melakukan masturbasi hanya akan membayangkan kulit yang mulus, paha yang tersingkap, buah dada yang tersingkap, atau buah dada yang montok, atau gambar yang pernah dilihatnya, cerita yang pernah dibacanya atau film yang pernah ditontontannya. Kalau anda pernah mengintip wanita telanjang, maka sejauh itulah lamunan anda ketika masturbasi atau ketika mimpi basah. Lamunan anda ketika masturbasi tidak akan pernah melampaui pengalaman nyata anda, begitupun dengan mimpi basah anda. Tak peduli berapa banyak tulisan yang anda baca, gambar yang anda pandang dan film porno yang telah anda tonton, tapi itulah yang akan terjadi. Ini sudah dibuktikan oleh para peneliti lho. Nah siapa yang mau sumbang saran atau membantah bahwa hal ini tidak benar?

Jajarkan sejuta laki-laki kristen dewasa tanpa istri, lalu tanya, pernah mimpi basah? Sering mimpi basah? Kalau jawabannya jarang, berarti mereka sering masturbasi, kalau jawabannya sering berarti mereka jarang masturbasi. Kalau mereka bilang mimpi basah rata-rata dua minggu sekali, itu artinya mereka nggak masturbasi, kalau mereka bilang nggak pernah mimpi basah dan nggak pernah masturbasi, maka itu tandanya mereka nggak normal atau sedang membual.

Kalau having sex itu ngetik, maka masturbasi itu tulis tangan, lalu mimpi basah itu apa dong? Kalau having sex itu “Together we work better,” maka masturbasi itu “self service,” lalu mimpi basah itu apa dong?

Mimpi basah adalah cara alamiah tubuh lelaki untuk mengeluarkan sperma, sama seperti mens atau haid pada wanita. Apakah mimpi basah itu dosa? Karena prosedurnya alamiah, dan terjadi selama tidur maka dianggap nggak dosa. Selama ini ada anggapan bahwa yang alamiah jauh lebih baik daripada artificial (rekayasa atau buatan). Katanya, sayur organik (tanpa pupuk kimia dan obat anti hama) lebih sehat dari sayur yang di beri pupuk unorganik.

Apakah Masturbasi dosa?

May! May be Yes, May be No!

Sepuluh Perintah Allah adalah standard untuk menguji apakah masturbasi dosa atau tidak. Ada tiga Aliran klasik mengenai masturbasi pada lelaki. Pertama, masturbasi itu dosa karena melanggar perintah ke 7, “Jangan berzinah.”. Kedua, masturbasi bukan dosa, karena tidak melanggar Sepuluh Perintah Allah. Ketiga, masturbasi dosa, namun hanya dosa kecil yang dilakukan untuk menghindari dosa besar (lebih baik masturbasi daripada koitus (berhubungan sex) dengan wanita yang bukan muhrimnya).

Aliran Masturbasi Dosa, umumnya mengutip ayat Kejadian 38:9-10 dan Matius 5:27-28 sebagai dasar ajarannya. Mari kita menganalisa ayat-ayat tersebut untuk memahaminya.

Tetapi Onan tahu, bahwa bukan ia yang empunya keturunannya nanti, sebab itu setiap kali ia menghampiri isteri kakaknya itu, ia membiarkan maninya terbuang, supaya ia jangan memberi keturunan kepada kakaknya. Tetapi yang dilakukannya itu adalah jahat di mata TUHAN, maka TUHAN membunuh dia juga. Kejadian 38:9-10

And Onan knew that the seed should not be his; and it came to pass, when he went in unto his brother’s wife, that he spilled it on the ground, lest that he should give seed to his brother. And the thing which he did displeased the LORD: wherefore he slew him also. Genesis 38:9-10

Apabila membaca kedua ayat tersebut dalam bahasa aslinya, bahasa Yunani, maka kita harus mengakui bahwa terjemahan ke dalam bahasa Inggris lebih “to the point” dan tidak tedeng aling-aling. Kata Yunani “BOW'” memang lebih tepat bila diterjemahkan sebagai “ia memasuki” dari pada “ia menghampiri.” Dalam kasus Onan, jelas terjadi koitus (masuknya penis ke dalam vagina), namun ejakulasinya dilakukan di luar vagina. Atau dalam bahasa gaulnya dikatakan Onan “having sex” dengan Tamar, namun nembaknya di luar.

Suatu informasi tambahan, dewasa ini banyak orang yang “having sex” meniru cara Onan untuk menghindari terjadinya kehamilan. Sebuah cara yang nampak masuk akal, namun jauh dari efektir sama sekali. Menurut penelitian, setiap kali ejakulasi, seorang laki-laki rata-rata menyemburkan 150.000.000 (seratus lima puluh juta) lebih sperma, namun untuk menghamili seorang wanita hanya dibutuhkan 1 (satu) sperma. Penelitian yang sama menemukan kenyataan bahwa selama koitus, sebelum terjadi ejakulasi, kurang lebih 5% sperma sudah mengalir keluar. Silahkan anda menghitung sendiri, berapa jumlah 5% dari 150 juta. Saya sering berhadapan dengan laki-laki yang curiga bahwa anak yang dikandung oleh pacarnya bukan anaknya, karena mereka penganut onanisme, mempraktekan “SEX” ala Onan, namun pacarnya hamil.

Dalam kasus Onan, saya menarik kesimpulan bahwa Tuhan marah kepada Onan bukan karena dia memnyemburkan spermanya ke lantai, tetapi karena motivasinya ketika melakukan hal itu. Onan sirik, dengki nggak bisa melihat orang senang, daripada melihat orang lain senang, lebih baik dia rugi.
MASHAB
Mashab Klasik
Mashab ini memandang bahwa keadilan dibagi dalam 8 prinsip:
1. 1. Pembentukan suatu masyarakat yang didasarkan pada kontrak (contractual society) untuk menghindarkan perang dari kekacauan. Kebebasan individu ditentukan oleh kekuasaan negara, sebagai administrator yang sah
2. 2. Sumber hukum adalah Undang-Undang bukan hakim. Hanya Undang-Undang yang menentukan hukuman bagi kejahatan. Kekuasaan untuk membuat Undang-Undang hanya ada pada pembuat Undang-Undang. Hakim tidak dapat menjatuhkan hukuman dengan alasan apapun sebelum ditentukan oleh Undang-Undang
3. 3. Tugas hakim hanya menentukan kesalahan seseorang, hukuman adalah urusan Undang-Undang. Hakim tidak diperbolehkan menginterpretasikan Undang-Undang
4. 4. Hak negara untuk menghukum. Hak penguasa untuk menghukum didasarkan kepada keperluan mutlak membela kebebasan masyarakat yang telah dipercayakan kepadanya dari keserakahan individu
5. 5. Harus ada suatu skala kejahatan dan hukuman
6. 6. Sengsara dan kesenangan adalah dasar dari motif-motif manusia
7. 7. Perbuatannya dan bukan kesalahannya yang merupakan ukuran dari besarnya kerugian yang diakibatkan oleh kejahatan
8. 8. Prinsip dasar dari hukum pidana terletak pada sanksi-sanksi yang positif
8 prinsip tersebut diatas merupakan pandangan-pandangan Becaria banyak pengaruhnya pada pembentukan Undang-Undang Perancis (Frech Code Penal) 1791.
Mashab Neo-Klasik
Ciri-ciri mashab ini adalah:
1. 1. Adanya pelunakan atau perubahan pada doktrin kehendak bebas – kebebasan kehendak untuk memilih dapat dipengaruhi oleh : Patologi,
2. 2. Premiditasi, niat yang dijadikan ukuran daripada kebebasan kehendak (hal-hal yang aneh)
3. 3. Pengakuan daripada sahnya keadaan yang memperlunak. Ini dapat bersifat fisik, keadaan lingkungan atau keadaan mental dari si individu
4. 4. Perubahan doktrin tanggung jawab sempurna untuk memungkinkan pelunakan hukuman menjadi tanggung jawab sebagian saja
5. 5. Dimasukkannya kesaksian atau keterangan ahli di dalam acara pengadilan untuk menentukan besarnya tanggung jawab
Mashab Positivis
Penghukuman terhadap penjahat dilakukan melalui eliminasi. Jenis eliminasi yang diterapkan:
1. 1. Eliminasi mutlak atau kematian bagi mereka yang kelakuan jahatnya adalah hasil dari anomali psikologi yang permanen sifatnya, dan yang mengakibatkan bahwa mereka untuk selama-lamanya tidak akan dapat mengikuti kehidupan so-sial
2. 2. Eliminasi sebagian, termasuk didalamnya hukuman penjara seumur hidup atau untuk jangka waktu lama dan pembuangan bagi mereka yang hanya pantas untuk hidup secara nomadis atau primitif, atau isolasi ringan dalam koloni-koloni pertanian bagi pelanggar hukum yang masih muda dan mempunyai harapan
3. 3. Reparasi yang dipaksakan bagi mereka yang kurang memiliki sifat-sifat altruistis dan telah melakukan kejahatan di bawah tekanan keadaan-keadaan tertentu yang pada umumnya tidak akan terjadi lagi
Agar hukuman dapat efektif harus dipenuhi 3 syarat:
1. 1. Sesuai dengan tuntutan masyarakat bahwa petindak harus ditindak karena dia telah melakukan kejahatan
2. 2. Asas-asas umumnya tentang eliminasi harus cukup menakutkan, sehingga merupakan pencegahan
3. 3. Seleksi sosial yang dihasilkannya memberikan harapan untuk kemudian hari dengan jalan destruksi total secara lambat laun dari si penjahat dan keturunannya.
Mashab Kritis
Mashab ini menggunakan pendekatan:
1. Interaksionis
Kejahatan dipandang sebagai suatu perbuatan atau perilaku yang menyimpang secara sosial. Definisi kejahatan tergantung keadaan sosial.
Tiga konsep dasar pada pendekatan ini:
1. 1. Manusia berperilaku berdasarkan arti sesuatu yang melekat (inheren) pada perilaku tersebut
2. 2. Arti dari sesuatu timbul atau ditafsirkan berdasarkan interaksi sosial
3. 3. Pemberian arti terhadap sesuatu tersebut berlangsung secara terus-menerus
2. Pendekatan Konflik
Pendekatan ini beranggapan bahwa hukum berisi nilai-nilai yang tidak mencerminkan keinginan seluruh masyarakat tetapi hanya mencerminkan keinginan dari sekelompok warga masyarakat yang memiliki kekuasaan dalam bidang politik, ekonomi dan sosial. Hukum dibuat untuk melindungi nilai dan kepentingan kelompok yang berkuasa. Definisi kejahatan ditentukan oleh penguasa.
Pendekatan ini dibagi dua sub pendekatan:
1. 1. Non-Marxis; menghendaki hukum pidana diubah menjadi lebih baik
2. 2. Marxis; menghendaki perubahan hukum pidana dilakukan oleh orang yang memang benar-benar bersih, kata lain perubahan struktural
Empat syarat yang harus diperhatikan untuk menggunakan Mashab kritis:
1. 1. Harus ada satu metodologi yang dapat digunakan untuk menggali kekayaan dunia penjahat dan metodologi yang dapat menghargai bermacam masalah yang dihadapi penjahat
2. 2. Memperhatikan dampak yang ditimbulkan oleh lembaga-lembaga hukum terhadap realitas sosial penjahat
3. 3. Aspek kriminal dan non kriminal satu sama lain salin berhubungan erat
4. 4. Kejahatan dan penjahat merupakan hasil dari interaksi antara atauran-aturan, pembentukan hukum, penegakan hukum dan pelanggaran hukum.
TEORI
Teori Kriminologi yang Positif
A. Teori-teori yang berpusat pada keanehan dan keabnormalan si individu
Teori-teori tipe fisik
Teori tipe ini berlandaskan pada pendapat umum bahwa terdapat perbedaan-perbedaan biologis pada tingkah laku manusia. Sesoramg bertingkah laku berbeda, karena ia memiliki struktur yang berbeda. Sesungguhnya tingkahlaku jahat seseorang merupakan cacat-cacat biologis dan inferioritas. Yang tergolong dalam teori ini adalah:
1. 1. Fisiognomi dan frenologi. Teori Fisiognomi berlandaskan pada hubungan antara raut muka dengan kelakuan Manusia. Ciri-ciri kurang baik; pria tidak berkumis, wanita berkumis, mata yang Gelisah, dagu yang lemah. Teori ini mendorong lahirnya frenologi. Teori Frenologi berlandaskan pada otak merupakan alat atau organ pada akal. Teori ini berdalil; lahirnya tengkorak sesuai dengan isinya, akal terdiri dari Kecakapan-kecakapan dan fungsinya, dan kecakapan-kecakapan tersebut bersangkut dengan bentuk otak dan tengkorak. Beberapa kecakapan yang dimiliki seseorang yaitu: cinta birahi, cinta keturunan, keramahan, sifat militan, sifat perusak, sifat mengakui sesuatu sebagai milik, sifat hati-hati, harga diri, ketegasan, sifat meniru, kebaikan, sifat membangun dan lain sebagainya. Kecakapan tersebut dapat digolongkan dalam 3 bagian : naluri-naluri aktif atau rendah, sentimen-sentimen moral, dan kecakapan-kecakapan intelektual. Menurut teori ini kejahatan disebabkan karena naluri-naluri rendah, seperti cinta birahi, cinta keturunan, sifat militan, sifat rahasia.
2. 2. Antropologi Kriminal ; teori ini berlandaskan pada penjahat merupakan interior secara organis. Sedangkan kejahatan adalah hasil daripada pengaruh millieu terhadap organisme manusia yang rendah tingkatannya. Bagi penjahat hanya dapat dilakukan melalui cara eliminasi mutlak atau penumpasan secara total pada orang-orang secara fisik, mental dan moral
3. 3. Teori interioritas dan teori tipe fisik : Kretschmer-Sheldon Teori interioritas berlandaskan pada anggapan tentang adanya interioritas/cacat dasar telah diperkuat dengan pernyataan-pernyataan, bahwa macam-macam tabiat yang dapat dilihat mencerminkan suatu kekurangan dengan mana orang dilahirkan di dunia ini, dan yang bersifat konstitusional. Teori tipe fisik; berlandaskan pada tiga tipe; astenik berhubungan dengan pencurian kecil-kecilan dan pemalsuan, atletik, kebanyakan bersifat schizoprene, tipe ini berhubungan kejahatan kekerasan; piknik pada umumnya circular berhubungan dengan penipuan, pemalsuan dan kejahatan kekerasan; displastik dan campuran berhubungan dengan kejahatan melanggar ketertiban umum dan kesusilaan, tetapi juga dengan kejahatan kekerasan
4. 4. Teori tipe test mental dan kelemahan jiwa; terori ini berlandaskan pada pendapat bahwa penjahat adalah tipe orang -oramg yang memiliki cap tertentu,
5. 5. Teori kewarisan ; teori ini berlandaskan bahwa orang tua yang berperilaku jahat akan diturunkan kepada anaknya
6. 6. Teori psikopati; berlandaskan bahwa kejahatan merupakan kelainan-kelainan dari pelakunya
B. Teori-teori yang berpusat kepada pengaruh-pengaruh kelompok atau pengaruh kebudayaan
1. 1. Hubungan antara kondisi ekonomi dengan kriminalitas; Teori ini berlandaskan bahwa kejahatan dapat terukur melalui statistik
2. 2. Kejahatan sebagai tingkahlaku yang dipelajari secara normal; teori ini berlandaskan bahwa kejahatan merupakan tingkahlaku yang dipelajari seperti kegiatan manusia yang selalu mencerminkan sesuatu dari kepribadiannya dan dari kecakapan-kecakapannya namun berlawanan dengan hukum dan bertentangan dengan kesusilaan dalam masyarakat
Teori konflik kelompok; berlandaskan bahwa definisi kejahatan diberikan oleh kelompok mayoritas kepada kelompok minoritas.
Teori Kriminologi Kritis
I. Interaksionisme simbolik dan pemelajaran sosial. Teori dalam kelompok ini berlandaskan pada
1. 1. Pluralism of selves (kemajemukan diri) ; berpendapat bahwa seseorang mempunyai diri sosial, kesadaran diri dianggap bergantung pada berbagai reaksi dari berbagai individu
2. 2. The looking glass self; berpendapat bahwa; citra tentang penampilan kepada orang lain; citra terhadap penilaiannya tentang penampilan, dan beberapa macam perasaan diri (self feeling) seperti kebanggan
3. 3. Definition of the situation; berlandaskan bahwa bila seseorang mendefinisikan suatu situasi sebagai kenyataan, maka akan nyata dalam akibatnya
4. 4. Interaksionisme simbolik ; berlandaskan bahwa tingkah laku yang dimiliki seseorang merupakan perwujudan dari tingkah laku masyarakat sekitarnya
5. 5. Aktualisasi penyimpangan; berlandaskan bahwa belajar menjadi penyimpang melibatkan suatu proses sosialisasi dimana instruksi rangsangan, persetujuan, kebersamaan, perbincangan gaya hidup bahwa pelaku penyimpangan sendiri mulai mendefinisikannya sebagai biasa dalam kehidupan sehari-hari
II. Teori labeling; berlandaskan bahwa kriminalitas adalah sebuah kata, dan bukan perbuatan atau tindakan, kriminalitas didefinisikan secara sosial dan orang-orang kriminalitas dihasilkan secara sosial dalam suatu proses yang mendorong orang banyak memberikan cap pada kelompok minoritas, dimana dalam banyak hal bahkan memungkinkan mereka memaksakan konsekuensi daripada labeling terseut. Akibatnya orang yang diberi cap cacat mungkin tidak bisa berbuat lain daripada peranan yang telah diberikan kepadanya.
Data terbaru 31 Maret 2001

Pengantar Kriminologi.
Pendahuluan.

Kriminologi sebagai ilmu pengetahuan yang sifatnya masih baru apabila kita ambil definisinya secara etimologis berasal dari kata crimen yang berarti kejahatan dan logos yang berarti pengetahuan atau ilmu pengetahuan, sehingga kriminologi adalah ilmu /pengetahuan tentang kejahatan. Istilah kriminologi untuk pertama kali (1879) digunakan oleh P. Topinard, ahli dari perancis dalam bidang antropologi, sementara istilah yang sebelumnya banyak dipakai adalah antropologi criminal.

Menurut E.H. Sutherland, kriminologi adalah seperangkat pengetahuan yang mempelajari kejahatan sebagai fenomena social, termasuk didalamnya proses pembuatan undang-undang, pelanggaran undang-undang dan reaksi terhadap pelanggaran undang-undang.
Bonger mengatakan bahwa kriminologi adalah ilmu yang mempelajari tentang kejahatan seluas-luasnya.
Sejarah kriminologi.
Meskipun Kriminologi bisa dianggap sebagai ilmu pengetahuan baru yang diakui baru lahir pada abad ke-19 ( sekitar tahun 1850 )bersamaan dengan ilmu sosiologi tetapi karangan-karangan tentang kriminologi bisa ditemukan pada zaman kuno yaitu zaman Yunani dimulai dengan karangan Plato dalam “Republiek” menyatakan antara lain bahwa emas , manusia adalah sumber dari banyak kejahatan sedangkan Aristotelis menyatakan bahwa kemiskinan adalah sumber dari kejahatan.
Kemudian abad pertengahan Thomas Aqunio menyatakan bahwa “ orang kaya memboros-boroskan kekayaanya disaat dia jatuh miskin maka dia akan mudah menjadi pencuri”
Perkembangan hukum pidana pada Akhir abad ke 19 yang dirasakan sangat tidak memuaskan membuat para ahli berfikir mengenai efektifitas hukum pidana itu sendiri, Thomas Moore melakukan penelitian bahwa sanksi yang berat bukanlah faktor yang utama untuk memacu efektifitas hukum pidana buktinya lewat penelitiannya ditemukan bahwa para pencopet tetap beraksi disaat dilakukan hukuman mati atas 24 penjahat di tengah-tengah lapangan. Ini membuktikan bahwa sanksi hukum pidana tidak berarti apa-apa. Ketidakpuasan terhadap hukum pidana, Hukum acara pidana dan sistem penghukuman menjadi salah satu pemicu timbulnya kriminologi
Perkembangan ilmu statistik juga mempengaruhi timbulnya kriminologi. Statistik sebagai pengamatan massal dengan menggunakan angka-angka yang merupakan salah satu pendorong perkembangan ilmu sosial.
Quetelet (1796-1829) ahli statistik yang pertama kali melakukan pengamatan terhadap kejahatan. Dialah yang pertama kali membuktikan bahwa kejahatan adalah fakta yang ada dimasyarakat, dalam penelitiannya Quetelet menemukan bahwa kejahatan memiliki pola-pola yang sama setiap tahunnya maka beliau berpendapat bahwa kejahatan dapat diberantas dengan meningkatkan/ memperbaiki kehidupan masyarakat.
Sarjana lain yang menggunakan statistik dalam pengamatan terhadap kejahatan adalah G Von Mayr ( 1841-1925) ia menemukan bahwa perkembangan antara tingkat pencurian dengan tingkat harga gandum terdapat kesejajaran (positif). Bahwa tiap-tiap kenaikan harga gandum 5 sen dalam tahun 1835 – 1861 di bayern. Jumlah pencurian bertambah dengan 1 dari antara 100.000 penduduk. Dalam perkembangannya ternyata tingkat kesejajaran tidak selalu tampak. Karena adakalanya berbanding berbalik ( invers) antara perkembangan ekonomi dengan tingkat kejahatan.
Sebutan kriminologi sendiri diperkenalkan oleh Topinard ( 1830-1911) seorang ahli antropologi dari perancis.

Aliran Pemikiran Dalam Kriminologi
Yang dimaksud dengan aliran pemikiran disini adalah cara pandang (kerangka acuan, Paradigma, perspektif) yang digunakan oleh para kriminolog dalam melihat, menafsirkan, menanggapi dan menjelaskan fenomena kejahatan.
Oleh karena pemamahaman kita terhadap dunia social terutama dipengaruhi oleh cara kita menafsirkan peristiwa-peristiwayang kita alami/lihat, sehingga juga bagi para ilmuwan cara pandang yang dianutnya akan dipengaruhi wujud penjelasan maupun teori yang dihasilkannya. Dengan demikian untuk dapat memahami dengan baik penjelasan-penjelasan dan teori-teori dalam kriminologi perlu diketahui perbedaan aliran pemikiran/paradigma dalam kriminologi.
Teori adalah bagian dari suatu penjelasan mengenai sesuatu sementara suatu penjelasan dipandang sebagai masuk akal akan dipengaruhi oleh fenomena tertentu yang dipersoalkan didalam keseluruhan bidang pengetahuan. Adapun keseluruhan bidang pengetahuan tersebut merupakan latar belakang budaya kontemporer yang berupa dunia informasi. Hal-hal yang dipercayai ( belief ) dan sikap-sikap yang membangun iklim intelektual dari setiap orang pada suatu waktu dan tempat tertentu.
Didalam sejarah intelektual terhadap masalah “penjelasan” ini secara umum dapat dibedakan dua cara pendekatan yang mendasar yakni pendekatan spiritistik atau demonologik dan pendekatan naturalistic, yang kedua-duanya merupakan pendekatan yang dikenal pada masa kuno maupun modern.
Penjelasan demonologik mendasarkan pada adanya kekuasaan lain atau spirit ( roh). Unsur utama dalam penjelasan spiristik adalah sifatnya yang melampaui dunia empiric; dia tidak terikat oleh batasan-batasan kebendaan atau fisik, dan beroperasi dalam cara-cara yang bukan menjadi subyek dari control atau pengetahuan manusia yang bersifat terbatas.
Pada pendekatan naturalistik penjelasan diberikan secara terperinci dengan melihat dari segi obyek dan kejadian-kejadian dunia kebendaan dan fisik. Secara garis besar pendekatan ini dibagi tiga bentuk sistem pemikiran atau bisa disebut sebagai paradigma yang digunakan sebagai kerangka untuk menjelaskan fenomena kejahatan, adapun ketiga paradigma/ aliran ini adalah aliran klasik, positivisme dan aliran kritis.
a. Aliran Klasik
Aliran ini mendasarkan pada pandangan bahwa intelegensi dan rasionalitas merupakan ciri fundamental manusia dan menjadi dasar bagi penjelasan perilaku manusia, baik yang bersifat perorangan maupun kelompok. Intelegensi mampu membawa manusia untuk berbuat mengarahkan dirinya sendiri, dalam arti lain ia adalah penguasa dari dirinya sendiri. Ini adalah pokok pikiran aliran klasik dengan dilandasi pemikiran yang demikian maka penjahat dilihat dari batasan-batasan perundang-undangan yang ada.
Kejahatan dipandang sebagai pelanggaran terhadap undang-undang hukum pidana, penjahat adalah setiap orang yang melakukan kejahatan. Secara rasionalitas maka tanggapan masyarakat adalah memaksimalkan keuntungan dan menekan kerugian yang ditimbulkan oleh kejahatan. Kriminologi disini sebagai alat untuk menguji sistem hukuman yang dapat meminimalkan kejahatan.
Salah satu tokoh dalam aliran ini adalah Cesare Beccaria ( 1738 – 1794 ) merupakan tokoh yang menentang kesewenang-wenangan lembaga peradilan pada saat itu. Dalam bukunya Dei Delitti e delle pene secara gamblang dia menyebutkan keberatan-kebaratannya atas hukum pidana.
Aliran ini melahirkan aliran Neo-Klasik dengan ciri khas yang masih sama tetapi ada beberapa hal yang diperbaharui antara lain adalah kondisi si pelaku dan lingkungan mulai diperhatikan. Hal ini dipicu oleh pelaksanaan Code De Penal secara kaku dimana tidak memperhitungkan usia, kondisi mental si pelaku, aspek kesalahan. Semua faktor tersebut tidak menjadi pertimbangan peringanan hukuman, penjatuhan hukuman dipukul rata berdasarkan prinsip kesamaan hukum dan kebebasan pribadi.
b. Aliran Positivisme
Aliran pemikiran ini bertolak pada pandangan bahwa perilaku manusia ditentukan oleh faktor-faktor diluar kontrolnya, baik yang berupa faktor biologi maupun kultural. Ini berarti manusia bukanlah mahluk yang bebas untuk mengikuti dorongan keinginannya dan intelegensinya, akan tetapi mahluk yang dibatasi atau ditentukan perangkat biologinya dan situasi kulturalnya. Manusia berubah bukan semata-mata akan intelegensianya akan tetapi melalui proses yang berjalan secara perlahan-lahan dari aspek biologinya atau evolusi kultural. Aliran ini melahirkan dua pandangan yaitu Determinisme Biologik yang menganggap bahwa organisasi sosial berkembang sebagai hasil individu dan perilakunya dipahami dan diterima sebagai pencerminan umum dari warisan biologik. Sebaliknya Determinis Kultural menganggap bahwa perilaku manusia dalam segala aspeknya selalu berkaitan dan mencerminkan ciri-ciri dunia sosio kultural yang melingkupinya. Mereka berpendapat bahwa dunia kultural secara relatif tidak tergantung pada dunia biologik, dalam arti perubahan pada yang satu tidak berarti akan segera membuat perubahan yang lainnya.
Salah satu pelopor aliran positivis ini adalah Cesare Lombrosso (1835-1909) seorang dokter dari itali yang mendapat julukan Bapak Kriminologi Modern lewat teorinya yang terkenal yaitu Born Criminal, Lombrosso mulai meletakkan metodologi ilmiah dalam mencari kebenaran mengenai kejahatan serta melihatnya dari banyak faktor.
Teori Born Criminal ini di ilhami oleh teori evolusi dari darwin. Lombrosso membantah mengenai Free Will yang menjadi dasar aliran klasik. Doktin Avatisme membuktikan bahwa manusia menuruni sifat hewani dari nenek moyangnya. Gen ini dapat muncul sewaktu-waktu dan menjadi sifat jahat pada manusia modern.
Dalam perkembangan teorinya bahwa manusia jahat dapat dilihat dari ciri-ciri fisiknya lewat penelitian terhadap 3000 tentara dan narapidana lewat rekam mediknya beberapa diantaranya telingan yang tidak sesuai ukuran, dahi yang menonjol, hidung yang bengkok.
Pada dasarnya teori lombrosso ini membagi penjahat dengan empat golongan, yaitu :
1. Born Criminal yaitu orang yang memang sejak lahir berbakat menjadi penjahat seperti paham avatisme
2. Insane Criminal yaitu orang termasuk dalam golongan orang idiot, embisil,dan paranoid
3. Ocaccasial criminal atau criminaloid adalah pelaku kejahatan yang berdasarkan pada pengalaman yang terus menerus sehingga mempngaruhi pribadinya.
4. Criminal of Passion yaitu orang yang melakukan kejahatan karena cinta, marah atapun karena kehormatan.

c. Aliran Kritis
Pemikiran Kritis lebih mengarhkan kepada proses manusia dalam membangun dunianya dimana dia hidup. Menurut aliran ini tingkat kejahatan dan ciri-ciri pelaku terutama ditentutakan oleh bagaimana undang-undang disusun dan dijalanka. Sehubungan denga itu maka tugas dari kriminologi adalah bagaimana cap jahat tersebut diterapkan terhadap tindakan dan orang-orang tertentu.
Pendekatan kritis ini secara relatif dapat dibedakan antara pendekatan “interaksionis” dan “konflik”. Pendekatan interaksionis berusaha untuk menentukan mengapa tindakan-tindakan dan orang-orang tertentu didefinisikan sebagai kriminal di masyarakat tertentu dengan cara mempelajari “persepsi” makna kejahatan yang dimiliki masyarakat yang bersangkutan. Mereka juga mempelajari kejahatan oleh agen kontrol sosial dan orang-orang yang diberi batasan sebagai penjahat, juga proses sosial yang dimiliki kelompok bersangkutan dalam mendifinisikan seseorang sebagai penjahat.
Hubungan antara kejahatan dan proses kriminalisasi secara umum dijelaskan dalam konsep “penyimpangan” ( deviance ) dan reaksi sosial. Kejahatan dipandang sebagai bagian dari “penyimpangan sosial” dengan arti tindakan yang bersangkutan “berbeda” dengan tindakan orang pada umumnya dan terhadap tindakan menyimpang ini diberlakukan reaksi yang negatif dari masyarakat.
Menurut pendekatan “konflik” orang berbeda karena kekuasaan yang dimilikinya dalam perbuatan dan bekerjanya hukum. Secara umum dapat dijelaskan bahwa mereka yang memiliki kekuasaan yang lebih besar dan mempunyai kedudukan yang tinggi dalam mendifinisikan kejahatan adalah sebagai kepentingan yang bertentangan dengan kepentingan dirinya sendiri. Secara umum kejahatan sebagai kebalikan dari kekuasaan; semakin besar kekuasaan seseorang atau sekelompok orang semakin kecil kemungkinannya untuk dijadikan kejahatan dan demikian juga sebaliknya.
Orientasi sosio-psikologis teori ini pada teori-teori interaksi sosial mengenai pembentukan kepribadian dan konsep “proses sosial” dari perilaku kolektif.
Dalam pandangan teori ini bahwa manusia secara terus menerus berlaku uintuk terlibat dalam kelompoknya dengan arti lain hidupnya merupakan bagian dan produk dari kumpulan kumpulan kelompoknya. Kelompok selalu mengawasi dan berusaha untuk menyeimbangkan perilaku individu-individunya sehingga menjadi suatu perilaku yang kolektif.
Dalam perkembangan lebih lanjut aliran ini melahirkan teori “kriminologi Marxis” dengan dasar 3 hal utama yaitu; (1) bahwa perbedaan bekerjanya hukum merupakan pencerminan dari kepentingan rulling class (2) kejahatan merupakan akibat dari proses produksi dalam masyarakat, dan (3) hukumj pidana dibuat untuk mencapai kepentingan ekonomi dari rulling class.

Daftar Pustaka

Bonger, W.A , Pengantar Tentang Kriminologi, Pustaka Sarjana, Jakarta 1982
Romli Atmasasmita, Teori Dan Kapita Selekta Kriminologi, Refika Aditama, Bandung 1992
Susanto I.S, Kriminologi, FH Universitas Diponegoro, Semarang, 1995
Topo Santoso & Eva Achjani, Kriminologi, Rajawali Press, 2004
Yoblonsky Lewis, Criminologi Crime and Criminality Fourth Edition, Harper & Row Publhiser, New York, 1990

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: