MAULANA ALI AHMAD

Super Brokoli

In Khasiat Super Brokoli on Februari 10, 2008 at 3:38 am

SUPER BROKOLI UNTUK PENDERITA KANKER JAKARTA – Para peneliti yang peduli dengan para penderita kanker, kini mencoba membudidayakan tumbuhan brokoli dengan ukuran super. Hal ini diharapkan bisa menurunkan angka kesakitan terhadap penyakit tersebut. Brokoli dipercaya bisa menghindarkan seseorang dari penyakit kanker. Hal itu juga yang diyakini Institut Penelitian mengenai Makanan (IRF) di Inggris. Menurut mereka, brokoli yang berwarna hijau itu, memiliki unsur kimia bernama sulforaphane yang dipercaya bisa menahan efek berkelanjutan dari kanker. Karena asumsi itu pula, berarti secara logika, bila kita bisa memproduksi tumbuhan ini dalam kapasitas super, maka unsur kimia yang disebutkan tadi juga akan berkapasitas dan berdaya guna lebih besar. “Mengonsumsi brokoli dengan porsi besar atau brokoli dengan level sulforaphane tinggi, kemungkinan para penderita kanker bisa lebih minimal mengalami potensi kesakitan,” ucap Koordinator Penelitian, Profesor Richard Mithen, pada situs BBC, baru-baru ini. Brokoli dikenal sebagai keluarga sayuran yang sejenis dengan kubis, kol dan kangkung. Kebanyakan sayuran tersebut mengandung unsur glucosinolates berkadar tinggi. Selain itu, jenis sayuran yang memiliki unsur sulforaphane, dipercaya sebagai satu-satunya obat penekan penyebaran kanker dalam tubuh. Super brokoli diperkirakan berukuran paling tidak lebih besar tiga perempat kali jenis brokoli biasa. (slg) PEMBESARAN OTAK GEJALA AUTIS NEW YORK – Semakin besar ukuran otak manusia, bukan berarti makin pintar. Justru itu tanda-tanda berkembangnya autisme. Tim ilmuwan dari University of North Carolina, Chapel Hill telah menganalisis otak dari 51 anak penderita autis dan 25 anak normal. Mereka berusia antara 18-35 bulan. Tim ini juga melakukan studi terhadap ukuran lingkar kepala 113 anak penderita autis dan 189 anak sehat. “Pembesaran yang cukup signifikan terdeteksi pada volume celebral cortex otak penderita autis,” papar hasil studi tersebut. “Pembesaran terjadi pada area abu-abu dan putih.” Celebral cortex adalah lapisan area abu-abu yang berada pada bagian depan otak. Bagian ini adalah tingkat tinggi dalam otak kita, memiliki fungsi penting. Bagian inilah yang merupakan pengontrol gerakan otot dan aktivitas lain. Pada penderita autis juga ditemukan bahwa lingkar kepala mereka berukuran normal pada saat lahir. Tapi terjadi pembesaran yang signifikan mulai sekitar usia 12 bulan. Selanjutnya, kesimpulan dari studi ini adalah, bagian abu-abu dan putih celebral cortex pada anak autis membesar pada usia dua tahun. Dengan temuan ini, autis pada anak-anak bisa dideteksi sejak awal. Apabila kasus autis mampu dideteksi lebih dini, penanganannya bisa dilakukan sejak awal pula. Mayoritas kasus autis banyak yang terlambat diketahui. Orang tua biasanya kurang tanggap bahwa anaknya menderita autis, sebab memang agak sulit mengenali gejala autis dengan keterlambatan belajar. (ap/mer) LAPAR TERSEMBUNYI AKIBAT KURANG GIZI Jakarta – Disinyalir hingga beberapa waktu terakhir ini. Lebih dari separuh penduduk Indonesia masih mengalami berbagai masalah kekurangan gizi mikro atau yang sering disebut sebagai “kelaparan tersembunyi”. Kelaparan ternyata tak hanya terlihat secara kasat mata saja. Namun kadang lapar yang tak terlihat dari bentuk badan, juga merugikan dalam aspek isi dalam tubuh. Seperti tubuh yang terlihat baik-baik saja, namun sebenarnya kurang vitamin dan mineral. “Saat ini 50 persen penduduk Indonesia masih mengalami berbagai bentuk kelaparan tersembunyi, yakni kekurangan vitamin dan mineral,” ucap Menteri Kesehatan (Menkes) Siti Fadillah Supari di Jakarta, dalam laporan yang dipublikasikan Antara, belum lama ini. Padahal, menurut dia, walaupun kuantitas kebutuhannya relatif sedikit namun zat gizi mikro sangat penting peranannya dalam proses pertumbuhan dan perkembangan. Ia kamudian menambahkan bahwa kekurangan zat gizi mikro, dapat menimbulkan berbagai akibat serius bagi kesehatan tubuh serta pertumbuhan dan perkembangan anak. “Seperti contohnya, anemia akibat kekurangan zat besi dapat menyebabkan gangguan tumbuh kembang otak pada anak usia 6-24 bulan, menimbulkan gangguan produktifitas pada orang dewasa dan meningkatkan resiko kematian atau melahirkan dengan berat badan bayi rendah pada ibu hamil”. Dan ibu hamil yang kekurangan yodium, kata dia, beresiko melahirkan bayi dengan kelainan mental dan fisik. Guna menghadapi masalah ini, Departemen Kesehatan sendiri, menurut Menkes, telah melakukan berbagai langkah strategis dengan menggunakan pendekatan pemenuhan pangan pokok atau “Food Based Approach” untuk mengatasi masalah tersebut. “Dalam jangka pendek, penanggulangan kelaparan tersembunyi ini dilakukan dengan pemberian suplementasi zat gizi mikro baik berupa tablet zat besi, kapsul vitamin A maupun kapsul yodium sedangkan untuk jangka panjang akan dilakukan dengan pendekatan gizi seimbang,” ujar ia. FORTIFIKASI Upaya penanggulangan masalah zat gizi mikro, kata Direktur Gizi Masyarakat Departemen Kesehatan dr Rachmi Untoro, juga dilakukan melalui fortifikasi (pengayaan), penganekaragaman bahan pangan dan edukasi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan gizi. Menurut dia selama ini intervensi gizi melalui fortifikasi, suplementasi dan pendidikan gizi terbukti efektif dan efisien untuk menanggulangi berbagai masalah gizi mikro. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa saat ini fortifikasi zat gizi mikro telah dilakukan pada beberapa produk pangan termasuk terigu (untuk zat besi, asam folat, seng, vitamin B1 dan B2), garam (untuk yodium) dan minyak goreng (untuk vitamin A). Sementara itu terkait dengan upaya penganekaragaman bahan pangan, Rachmi menjelaskan, bahwa pihaknya telah mengampanyekan penggunaan bahan pangan lokal kepada masyarakat melalui kader-kader PKK dan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu). Anggaran Menanggapi hal ini, Direktur Program Pangan Dunia (World Food Programme) Indonesia Mohammed Saleheen, menjelaskan masalah-masalah akibat kekurangan zat gizi mikro menyebabkan negara harus mengeluarkan anggaran yang tidak sedikit. “Menurut perkiraan Indonesia sendiri menghabiskan sekitar 750 juta dolar AS per tahun karena masalah itu,” ucapnya, pada kesempatan berbeda. Untuk itu, kata dia, WFP bekerja sama dengan pemerintah berupaya memerangi masalah tersebut dengan melakukan program rehabilitasi gizi di sejumlah daerah seperti Jakarta, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, NTT, NTB dan Aceh. “Melalui program itu WFP menyediakan bantuan berupa biskuit dan mi yang telah diperkaya dengan vitamin dan mineral untuk 80 ribu ibu hamil dan menyusui, 280 ribu balita dan lebih dari 500 ribu siswa sekolah dasar” tambahnya PENDERITA GANGGUAN JIWA MASIH DIPERLAKUKAN SALAH Jakarta – Orang gila, sedari dahulu tetap tak berubah perlakuan terhadapnya. Memasung, memperlakukan dengan kasar, terstigma menjadi aib yang terkadang patut dihilangkan. Hingga kini tak banyak yang berubah. Orang gila tetaplah bukan siapa-siapa. Mungkin pernah diantara kita yang melihat, seorang gila terpasung lemas. Tanpa cahaya terpancar dari matanya. Semua yang ada sepertinya kesulitan, kecemasan dan kesuraman. Fenomena itu yang kemudian melekat disebagian masyarakat kita. Bahwa orang gila adalah biang kerusuhan. Aib hitam keluarga yang harus disembunyikan, bahkan kalau perlu dihilangkan saja. “Kekeliruan pandangan terhadap orang gila seperti ini, berawal dari stereotipe yang keliru tentang gangguan jiwa yan gada dimasyarakat kita saat ini,” ujar Irmansyah MD, Kepala Departemen Psikiatri FKUI, dalam penjelasannya baru-baru ini. Perilaku salah ini jelas merugikan penderita, menurutnya. “Mereka akan mengalami tambahan beban mental yang telah rapuh karena penyakitnya,” tambahnya. Dan keadaan ini menurutnya akan membuat makin sulit proses penyembuhan penyakit yang diderita. “Proses pengembalian penderita kepada masyarakat. Hingga pada akhirnya akan merugikan masyarakat secara keseluruhan juga.” Melihat telah meluasnya perilaku salah dan diskriminasi pada penderita gangguan jiwa. Maka menurut beliau usaha untuk merubah hal ini harus mulai dilakukan. “Dan ini harus dilakukan secara menyeluruh,” tambahnya. Program perbaikan sikap terhadap para penderita dapat dilakukan melalui semua area. Baik ditingkat masyakat, pusat pelayanan kesehatan dan dari dalam keluarga penderita jiwa sendiri. “Perbaikan perilaku lingkungan terhadap penderita gangguan jiwa diharapkan akan merubah perjalanan penyakit. Beban psikologis yang harus diderita juga akan lebih ringan dan jalan kesembuhan akan terlihat lebih baik,” imbuhnya. Perlindungan Hukum Sementara menanggapi masalah ini Dr. Suryo Dharmono, SpKJ, Ketua Pusat Kajian Bencana di Departemen Psikiatri FKUI, menyatakan bahwa penderita gangguan jiwa di Indonesia hingga saat ini masih berada dalam kondisi rentan, karena mengalami berbagai jenis pelanggaran HAM dan perlakuan tak adil. “Hal ini disebabkan antara lain karena kurang adanya perangkat hukum yang memadai untuk melindungi penderita gangguan jiwa tersebut di Indonesia,” ucapnya. Hal ini menurutnya berbeda dengan kondisi di negara maju. Seperti di negara persemakmuran, mereka memiliki kesepakatan bernama Mental Health Act, yang berfungsi melindungi penderita gangguan jiwa dari kemungkinan perlakukan tak adil dan pelanggaran HAM. “Undang-undang tersebut secara jelas dan rinci mengatur perlindungan pasien terhadap pelanggaran haknya,” urai Suryo. “Sebagai contoh, di undang-undang mereka perawatan paksa atau involuntary admission terhadap penderita gangguan jiwa berat hanya dapat dilakukan pada kondisi tertentu dan jangka waktu tertentu. Dan apabila masih diperlukan perawatan setelah masa tersebut, harus melalui prosedur pengadilan ad hoc,” jelasnya. Sehingga di negara yang sudah memiliki Mental Health Act seperti ini tidak akan main-main terhadap seorang penderita gangguan jiwa. Dan hal ini jauh berbeda dengan di Indonesia, dimana banyak RS Jiwa yang ada sekarang merawat pasien bisa sampai 10 tahun. “Mereka ini banyak yang disebut pasien inventaris, yakni pasien yang oleh keluarganya dititipkan di rumah sakit jiwa atau ditinggalkan,” imbuhnya. Hingga survey terakhir yang dilakukan oleh The Indonesian Psychiatric Epidemiologic Network pada tahun 2004 lalu, diketahui bahwa di 11 kota di Indonesia ditemukan 18,5 persen dari penduduk dewasa menderita gangguan jiwa. Sedangkan data WHO, didunia masalah gangguan jiwa telah menjadi masalah yang serius. Tahun 2001 lalu diseluruh dunia ditemukan ada 450 juta orang menderita penyakit ini. n SUPER BROKOLI UNTUK PENDERITA KANKER JAKARTA – Para peneliti yang peduli dengan para penderita kanker, kini mencoba membudidayakan tumbuhan brokoli dengan ukuran super. Hal ini diharapkan bisa menurunkan angka kesakitan terhadap penyakit tersebut. Brokoli dipercaya bisa menghindarkan seseorang dari penyakit kanker. Hal itu juga yang diyakini Institut Penelitian mengenai Makanan (IRF) di Inggris. Menurut mereka, brokoli yang berwarna hijau itu, memiliki unsur kimia bernama sulforaphane yang dipercaya bisa menahan efek berkelanjutan dari kanker. Karena asumsi itu pula, berarti secara logika, bila kita bisa memproduksi tumbuhan ini dalam kapasitas super, maka unsur kimia yang disebutkan tadi juga akan berkapasitas dan berdaya guna lebih besar. “Mengonsumsi brokoli dengan porsi besar atau brokoli dengan level sulforaphane tinggi, kemungkinan para penderita kanker bisa lebih minimal mengalami potensi kesakitan,” ucap Koordinator Penelitian, Profesor Richard Mithen, pada situs BBC, baru-baru ini. Brokoli dikenal sebagai keluarga sayuran yang sejenis dengan kubis, kol dan kangkung. Kebanyakan sayuran tersebut mengandung unsur glucosinolates berkadar tinggi. Selain itu, jenis sayuran yang memiliki unsur sulforaphane, dipercaya sebagai satu-satunya obat penekan penyebaran kanker dalam tubuh. Super brokoli diperkirakan berukuran paling tidak lebih besar tiga perempat kali jenis brokoli biasa. (slg) Pembesaran Otak Gejala Autis NEW YORK – Semakin besar ukuran otak manusia, bukan berarti makin pintar. Justru itu tanda-tanda berkembangnya autisme. Tim ilmuwan dari University of North Carolina, Chapel Hill telah menganalisis otak dari 51 anak penderita autis dan 25 anak normal. Mereka berusia antara 18-35 bulan. Tim ini juga melakukan studi terhadap ukuran lingkar kepala 113 anak penderita autis dan 189 anak sehat. “Pembesaran yang cukup signifikan terdeteksi pada volume celebral cortex otak penderita autis,” papar hasil studi tersebut. “Pembesaran terjadi pada area abu-abu dan putih.” Celebral cortex adalah lapisan area abu-abu yang berada pada bagian depan otak. Bagian ini adalah tingkat tinggi dalam otak kita, memiliki fungsi penting. Bagian inilah yang merupakan pengontrol gerakan otot dan aktivitas lain. Pada penderita autis juga ditemukan bahwa lingkar kepala mereka berukuran normal pada saat lahir. Tapi terjadi pembesaran yang signifikan mulai sekitar usia 12 bulan. Selanjutnya, kesimpulan dari studi ini adalah, bagian abu-abu dan putih celebral cortex pada anak autis membesar pada usia dua tahun. Dengan temuan ini, autis pada anak-anak bisa dideteksi sejak awal. Apabila kasus autis mampu dideteksi lebih dini, penanganannya bisa dilakukan sejak awal pula. Mayoritas kasus autis banyak yang terlambat diketahui. Orang tua biasanya kurang tanggap bahwa anaknya menderita autis, sebab memang agak sulit mengenali gejala autis dengan keterlambatan belajar. (ap/mer) LAPAR TERSEMBUNYI AKIBAT KURANG GIZI Jakarta – Disinyalir hingga beberapa waktu terakhir ini. Lebih dari separuh penduduk Indonesia masih mengalami berbagai masalah kekurangan gizi mikro atau yang sering disebut sebagai “kelaparan tersembunyi”. Kelaparan ternyata tak hanya terlihat secara kasat mata saja. Namun kadang lapar yang tak terlihat dari bentuk badan, juga merugikan dalam aspek isi dalam tubuh. Seperti tubuh yang terlihat baik-baik saja, namun sebenarnya kurang vitamin dan mineral. “Saat ini 50 persen penduduk Indonesia masih mengalami berbagai bentuk kelaparan tersembunyi, yakni kekurangan vitamin dan mineral,” ucap Menteri Kesehatan (Menkes) Siti Fadillah Supari di Jakarta, dalam laporan yang dipublikasikan Antara, belum lama ini. Padahal, menurut dia, walaupun kuantitas kebutuhannya relatif sedikit namun zat gizi mikro sangat penting peranannya dalam proses pertumbuhan dan perkembangan. Ia kamudian menambahkan bahwa kekurangan zat gizi mikro, dapat menimbulkan berbagai akibat serius bagi kesehatan tubuh serta pertumbuhan dan perkembangan anak. “Seperti contohnya, anemia akibat kekurangan zat besi dapat menyebabkan gangguan tumbuh kembang otak pada anak usia 6-24 bulan, menimbulkan gangguan produktifitas pada orang dewasa dan meningkatkan resiko kematian atau melahirkan dengan berat badan bayi rendah pada ibu hamil”. Dan ibu hamil yang kekurangan yodium, kata dia, beresiko melahirkan bayi dengan kelainan mental dan fisik. Guna menghadapi masalah ini, Departemen Kesehatan sendiri, menurut Menkes, telah melakukan berbagai langkah strategis dengan menggunakan pendekatan pemenuhan pangan pokok atau “Food Based Approach” untuk mengatasi masalah tersebut. “Dalam jangka pendek, penanggulangan kelaparan tersembunyi ini dilakukan dengan pemberian suplementasi zat gizi mikro baik berupa tablet zat besi, kapsul vitamin A maupun kapsul yodium sedangkan untuk jangka panjang akan dilakukan dengan pendekatan gizi seimbang,” ujar ia. Fortifikasi Upaya penanggulangan masalah zat gizi mikro, kata Direktur Gizi Masyarakat Departemen Kesehatan dr Rachmi Untoro, juga dilakukan melalui fortifikasi (pengayaan), penganekaragaman bahan pangan dan edukasi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan gizi. Menurut dia selama ini intervensi gizi melalui fortifikasi, suplementasi dan pendidikan gizi terbukti efektif dan efisien untuk menanggulangi berbagai masalah gizi mikro. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa saat ini fortifikasi zat gizi mikro telah dilakukan pada beberapa produk pangan termasuk terigu (untuk zat besi, asam folat, seng, vitamin B1 dan B2), garam (untuk yodium) dan minyak goreng (untuk vitamin A). Sementara itu terkait dengan upaya penganekaragaman bahan pangan, Rachmi menjelaskan, bahwa pihaknya telah mengampanyekan penggunaan bahan pangan lokal kepada masyarakat melalui kader-kader PKK dan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu). Anggaran Menanggapi hal ini, Direktur Program Pangan Dunia (World Food Programme) Indonesia Mohammed Saleheen, menjelaskan masalah-masalah akibat kekurangan zat gizi mikro menyebabkan negara harus mengeluarkan anggaran yang tidak sedikit. “Menurut perkiraan Indonesia sendiri menghabiskan sekitar 750 juta dolar AS per tahun karena masalah itu,” ucapnya, pada kesempatan berbeda. Untuk itu, kata dia, WFP bekerja sama dengan pemerintah berupaya memerangi masalah tersebut dengan melakukan program rehabilitasi gizi di sejumlah daerah seperti Jakarta, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, NTT, NTB dan Aceh. “Melalui program itu WFP menyediakan bantuan berupa biskuit dan mi yang telah diperkaya dengan vitamin dan mineral untuk 80 ribu ibu hamil dan menyusui, 280 ribu balita dan lebih dari 500 ribu siswa sekolah dasar” tambahnya

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: