MAULANA ALI AHMAD

Ketika Daerah Penghasil Sagu Terbesar di Indonesia Dikorbankan untuk HTI

In MAULANA ALI AHMAD on Mei 8, 2008 at 1:41 am

Riau semestinya bangga memiliki kawasan penghasil sagu terbesar di
Indonesia, namun noktah emas itu menjelang tinggal kenangan. Demi
HTI, kawasan penting itu akan dikorbankan.

Riauterkini- PEKANBARU- Sejak sebulan terakhir warga Desa Nipah
Sendanu dan Desa Sungai Tohor,Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten
Bengkalis Riau dirudung gelisah. Setiap ada kapal berlabuh di
dermaga Harapan Baru, yang merupakan gerbang masuk daerah tersebut,
puluhan pasang mata siap mengintai gerak-gerik orang asing yang
turun dari kapal.

Alergi terhadap kedatangan orang asing ke pulau tersebut sebenarnya
bukanlah karaterisktik dari masyarakat melayu di pulau tersebut.
Sebelumnya mereka terkenal ramah dan bersahaja setiap menyambut tamu
berkunjung ke daerah yang dikenal sebagai daerah penghasil sagu
terbesar di Indonesia itu. Namun karateristik warga yang ramah itu
mulai berubah drastis sejak munculnya wacana pencandangan Hutan
Tanaman Industri (HTI)di daerah yang memproduksi tepung sagu basah
sekitar 500 ton per bulan tersebut.

“Rencana pembukaan HTI itu menyulut kemarahan warga. Apalagi wacana
pencandangan HTI tersebut masuk ke dalam lahan sagu tradisonal dan
kelapa milik warga yang sudah dikelola secara turun temurun, “kata
Kepala Desa Nipah Sendanu, Nadiran, 45, saat sejumlah wartawan
berkunjung ke daerah tersebut pekanlalu.

Desa Nipah Sendanu berada di ujung Pulau Tebing Tinggi. Dari ibukota
Kecamatan Selatpanjang, satu-satunya transportasi untuk menuju
daerah tersebut hanyalah sebuah perahu motor berkapasitas 40
penumpang dengan menempuh 2 jam perjalanan. Dari Selatpanjang hanya
satu kali dalam sehari perahu motor penumpang ke daerah tersebut.

Menurut Nadiran, kemarahan warga memuncak ketika buruh perusahaan PT
Lestari Unggul Makmur (LUM) yang menjadi kontraktor pelaksana
pembukaan HTI menyebarkan selembaran kertas yang berisi SK Menhut RI
No 217/Menhut-II/ 2007 Tanggal 31 Mei di Wilayah Desa Sungai Tohor,
Nipah Sendanu dan sekitarnya/MS Kaban.

Dalam SK Menhut tersebut PT Lestari Unggul Makmur diberi izin atas
usaha pemanfaatan hasil hutan kayu pada hutan tanaman industri
(UPHHTI) di Desa Nipah Sendadu, Sungai Tohor, Tanjung Sari, Lukun
dan Desa Kepau Baru seluas 10.930 hektare.

Akibat rencana pembukaan HTI yang semena-mena dari perusahaan itu,
Forum Komunikasi Kepala Desa se Kecamatan Tebingtinggi menolak
keberadaan PT Lestari Unggul Makmur. Ada beberapa alasan penolakan
forum kepala desa se kecamatan Tebingtinggi terhadap pembukaan HTI
tersebut diantaranya, pembukaan HTI mengancam hilangnya daerah
sebagai penghasil sagu terbesar di Indonesia. Pembukaan HTI juga
berdampak terhadap matinya pohon sagu dan kelapa warga akibat
pembuatan kanal-kanal.

Dari 10.930 hektare tersebut sekitar 60% berada diatas areal
perkebunan kelapa dan sagu milik warga. Selain itu usaha tepung sagu
tradisonal warga juga terancam tutup bila ada HTI di daerah
tersebut. “Sisa hutan yang akan mereka sulap mejadi HTI merupakan
hutan penyanga bagi daerah dari bahaya banjir dan abrasi. Kami akan
terus berjuang agar tidak ada pembukaan HTI di daerah kami. Kami
juga meminta agar Menhut MS Kaban meninjau kembali SK tersebut, ”
kata Nadiran bersama kepala desa se Kecamatan Tebingtinggi lainnya.

Penolakan warga atas rencana pembukaan HTI tersebut mendapat
dukungan dari Ketua DPRD Riau Chaidir. Politisi senior Golkar Riau
itu juga menyesalkan rencana HTI di daerah penghasil sagu terbesar
di Indonesia itu. “Sesuai dengan laporan pengaduan warga, saya rasa
ada kesalahan dalam pemberian izin HTI tersebut. Sebab kawasan yang
akan dijadikan HTI itu merupakan daerah penghasil sagu terbesar di
Indonesia. Saya setuju bila warga meminta Menhut untuk meninjau
kembali izin tersebut, ” kata Chaidir.

Data yang diperoleh riauterkini dari sumber di Dinas Kehutan
Propinsi Riau, sebelum SK Menhut keluar, Wakil Bupati Bengkalis
Normanysah dan Gubernur Riau Rusli Zainal ikut merekomendasi
pembukaan HTI tersebut yang notabene untuk kelangsungan pasokan kayu
akasia perusahaan kertas di Riau.

Rekomendasi dari dua pejabat tinggi di Riau tersebut juga
membuktikan bahwa tidak ada studi kelayakan sebelum merekomendasikan
kawasan untuk dijadikan HTI. Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Riau
Zulkifli Yusuf mengatakan izin tersebut memang diberikan kepada PT
Lestari Unggul Makmur dengan status lahan areal hutan produksi di
Tebingtinggi.

“Kami memang sudah menerima pengaduan dari forum kepala desa se
Kecamatan Tebingtinggi. Namun penetapan lahan tersebut belum
defenitif dan masih perlu dibicarakan lagi tata batas luas lahan
tersebut. Dan memang dalam pembukaan HTI yang sudah ada izin Menhut
tersebut ada rekomendasi dari Gubernur Riau dan Wakil Bupati
Bengkalis, ” kata Zulkifli.

Menurutnya masyarakat bisa saja mengklaim lahan mereka yang berada
di arela hutan produksi milik PT Lestari Unggul makmur dengan salah
satu syarat yakni surat kepemilikan lahan atau lahan tersebut sudah
digarap. “Masyarakat yang punya surat bisa inklaf (ganti rugi) dan
masyarakat yang tidak punya surat tapi lahan tersebut punya bukti
sudah digarap juga bisa di inklaf, ” ujarnya.

Terkait soal layak tidak layaknya kawasan tersebut dijadikan HTI
karena merupakan daerah penghasil sagu terbesar di Indonesia
Zuklkifli menyatakan persoalan tersebut berada di Menteri Kehutanan.
Sementara itu Direktur PT Lestari Unggul Makmur Husni Djalanidi
ketika di konfirmasi mengatakan pihaknya sudah melakukan proses
sesuai dengan prosedur dalam melaksanakan kegiatan usaha di kawasan
Kecamatan Tebingtinggi, Kabupaten Bengkalis Riau.

“PT LUM sebelumnya sudah memperoleh pengesahan terhadap kerangka
acuan AMDAL dari Kepala Badan pengendalaian Dampak Lingkungan
Provinsi Riau termasuk izin kelayakan usaha atas pengajuan AMDAL
dari Gubernur Riau, ” kata Husni.

Menangapi keberatan 6 kepala Desa dari 12 kepala desa di Kecamatan
Tebing Tinggi, Husni menyatakan PT LUM sangat menghargai aspirasi
mereka. Sebenarnya bukanlah ganti rugi atas penyerobatan lahan yang
dinginkan warga, melainkan bagaimana nasib mereka kedepan bila
daerah penghasil sagu terbesar di Indonesia itu berubah menjadi
kawasan HTI yang akan menyengsarakan mereka kelak.***(mad)

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: